Sabtu, 08 Desember 2018

15 Prinsip Pendidikan Adat

1. Pendidikan adat harus berbasis komunitas masyarakat adat, harus dimulai dari dan oleh komunitas.

2. Isi pendidikan adat harus ditentukan oleh komunitas masyarakat adat.

3. Pendidikan adat mulai dari visi para tetua dan berakar dalam kehidupan dan budaya masyarakat adat setempat.

4. Pendidikan adat mulai dalam Bahasa ibu setempat.

5. Pendidikan adat harus sesuai dengan jati diri, pola pikir, cara hidup dan sistem pengetahuan setiap masyarakat adat.

6. Pendidikan adat mengembalikan jati diri anak-anak masyarakat adat.

7. Pendidikan adat membuka cakrawala anak-anak masyarakat adat untuk hidup di wilayah adat, daripada memisahkan mereka dari akar budaya dan wilayah adat.

8. Pendidikan adat mendukung pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat, termasuk hak menentukan nasib sendiri.

9. Pendidikan adat menyiapkan pemimpin generasi penerus di Wilayah Adat.

10. Pendidikan adat sesuai dengan kehidupan sehari-hari di wilayah adat.

11. Pendidikan adat dirancang untuk mencapai impian masa depan bersama, bukan hanya mimpi perorangan.

12. Pendidikan adat memajukan budaya sebagai landasan untuk berkembang sebagai manusia.

13. Pendidikan adat mengutamakan cara berpikir yang menyeluruh daripada cara berpikir yang terkotak-kotak.

14. Kegiatan belajar-mengajar dalam pendidikan adat tidak hanya di ruang kelas tetapi menggunakan semua tempat yang adat di wilayah adat.

15. Pengajar dalam pendidikan adat juga mencakup para tetua dan pemegang sistem pengetahuan masyarakat adat.

Minggu, 18 November 2018

Konsolidasi Tim Fasilitator AMAN

Hari ini, 18 Nopember 2018 dan akan berlangsung hingga 19 Nopember 2018 saya berkesempatan hadiri sebagai oeserta "Konsolidasi Tim Fasilutator Penguatan Organisasi AMAN" dengan kapasitas sebagai Anggota Dewan AMAN Nasional. Turut hadir semua Anggota Dewan AMAN Nasional dari 7 Region (Papua, Sulawesi, Maluku, Bali-Nusra, Kalimantan, Sumatera dan Jawa) bersama beberapa utusan dari Pengurus Wilayah dan Daerah AMAN dan tim Fasilitator dari para Aktivis Masyarakat Adat.

Konsolidasi ini diselenggarakan dengan tujuan-tujuan antara lain:
  1. Membangun kesepahaman bersama bagaimana melihat realitas organisasi AMAN baik pengurus maupun anggota.
  2. Melahirkan Tim Fasilitator Penguatan Organisasi AMAN di 7 (Tujuh) Region.
  3. Menghasilkan format dan strategi bersama.
  4. Finalisasi Panduan dan Format Konsolidasi.
  5. Adanya agenda bersama. 


Jumat, 10 Agustus 2018

Meningkatkan Kapasitas Masyarakat Adat Mengelola Damar di Rinding Allo, Rongkong


Bersama dengan Bapak Engkos (Ahli Damar) dan A. Baso Muhtar (KPH Rongkong) Memberikan Materi Pelatihan Kepada Kelompok Tani Damar di Kampung Salurante, Desa Rinding Allo, Kec. Rongkong, Luwu Utara, 28/9/2017 atas dukungan dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Dari pelatihan ini, terdapat masalah dan hambatan yang sedang dihadapi petani damar di Rinding Allo antara lain:
  1. Peralatan panen yang terbatas dan hanya menggunakan peralatan seadanya dengan menggunakan parang. Akibatnya pohon damar belum secara maksimal dikelola sesuai dengan perlakuan pohon damar yang lestari.
  2. Model pembuatan lubang getah sejak jaman Kolonial Belanda dilakukan dengan sistim tebas atau melukai pohon seadanya. 
  3. Membuat lobang persegi 
  4. Budidaya pohon damar yang sulit dikembangkan oleh anggota kelompok tani damar. 
  5. Masalah jaringan pasar. Selama ini hanya mengandalkan pembeli lokal. Akibatnya tidak ada peningkatan harga yang bisa meningkatkan pendapatan petani. Sementara petani diperhadapkan pada tingkat kesulitan dalam pemanenan damar baik aksesibiltas ke hutan maupun masalah iklim yang selalu tidak mendukung.
  6. Sortir getah damar yang sudah dipanen
  7. Belum optimalnya peran pemerintah dalam meningkatkan kapasitas petani baik teknologi, kelembagaan, permodalan hingga pemasaran.




Kamis, 09 Agustus 2018

Ini 5 Alasan Saya Maju Sebagai Caleg Daerah di Tanah Leluhur

Ada 5 (Lima) alasan kenapa saya menyatakan diri untuk maju sebagai Calon Anggota Legislatif Daerah Luwu Utara Periode: 2019-2024:


  1. Pada hakikatnya, politik adalah mengelola harapan. Harapan rakyat utamanya kaum termarginal antara lain; Masyarakat Adat, petani, perempuan, disabilitas, anak-anak untuk mendapatkan layanan dasar pembangunan yang merata dan berkeadilan melalui agenda legislasi daerah. Faktanya, kaum termarginalkan belum memiliki akses yang kuat dalam memperngaruhi kebijakan sehingga dalam perjalanannya kurang diperhatikan. Mulai dari regulasi daerah yang menjamin hak-hak mereka maupun program pembangunan untuk kegiatan pemberdayaan.
  2. Pemerataan pembangunan infrastruktur utamanya kampung, desa dan kecamatan yang terisolasi perlu didorong dengan mengoptimalkan Gerakan "Gotong Royong". Kahadiran anggota legislatif sangat diperlukan. Bagaimana mengambil peran dengan mengoptimalkan tugasnya dalam membawa aspirasi masyarakat ke semua jenjang pemerintahan yang mengurus layanan infrastruktur muali jalan raya antar kabupaten/provinsi, jalan lintas kecamatan/desa/kampung. Demikian halnya dengan sarana pendidikan, kesehatan, balai-balai adat serta sarana publik lainnya. Sejalan dengan semakin tersedianya layanan pembangunan yang disiapkan oleh pemerintah dari daerah/provinsi hingga pusat, situasi ini akan membuka lebar anggota legislatif yang aktif melayani masyarakat kedepan.
  3. Menumbuh kembangkan budaya politik masyarakat adat, petani, nelayan, masyarakat miskin, buruh dan perempuan yang berorientasi pada kepentingan politik komunitas, demi munculnya pemimpin politik yang berakar pada konstituen, beretika politik tinggi,menghormati keberagaman, HAM, dan kesetaraan Gender.
  4. Membangun sistem pengorganisasian politik baru yang berbasis komunitas dan wilayah pemilihan sebagai block politic yang memiliki posisi tawar tinggi dihadapan partai-partai politik peserta pemilu 2019 dan seterusnya, demi tumbuhnya demokrasi yang bisa dipertanggungjawabkan oleh aktor politik dan para pemangku kepentingan sebagai konstituennya.
  5. Optimalisasi tugas pokok anggota legislatif yang tanggap membela, aktif melindungi dan cepat melayani sangat diperlukan saat ini. Mengingat banyaknya keluhan dari masyarakat yang memilih anggota legislatif saat sudah terpilih dan duduk di DPRD memilih menghindari untuk berkomunikasi dengan masyarakat yang nota bene memilihnya. 
Ke Lima alasan tersebut diatas inilah bersama saran-saran dan nasehat dari keluarga, sahabat seperjuangan yang mendasari sehingga saya memutuskan untuk maju menjadi Calon Anggota Legislatif Daerah di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan untuk Periode: 2019-2024 melalui Partai GERINDRA. 

Mohon doa dan dukungan dari keluarga dan sahabat semuanya. 

Salam hormatku,
Mahir Takaka