Rabu, 29 Juni 2016

Panen Padi di Tanah Leluhur

Sangat bangga menyaksikan kedua putriku (Nabila sama Tamelai) yang senang dengan profesi Kake' dan Nene' sebagai petani. Ditemani Bunda tercinta (Rante Mustafa) berangkat dari Bogor tanggal 26 Juni 2016 menuju Kota Palu kemudian melanjutkan perjalanan ke Seko tanggal 27 Juni dengan menggunakan pesawat Susi Air. Setibanya di Eno (Kampungku) Nabila sama Amel menelpon....Papa Kaka dan Dede langsung mau ke sawah Kaka Ningrat ikut panen padi........saya langsung menjawab...waoooo...papa jadi bangga dong.....hahahaha........silahkan yaaa....

Dari sisi lain, kebanggaan saya dengan kedua orang tuaku ini karena terus konsisten mempertahankan padi "Tarone" salah satu padi varitas lokal yang secara turun-temurun sudah menjadi padi unggulan bagi Masyarakat Adat di Seko.

Mudik tahun 2016 ini kami sekeluarga sangat beruntung karena masih dapat menikmati indahnya panen padi bersama orang tua. Selain panen padi...ternyata dikebun jagung muda sudah menunggu untuk dipanen.......terima kasih Ya Allah, Tuhan Pencipta Alam semesta atas karunia yang engkau telah anugerahkan kepada kami dan tentunya kepada ke dua Orang Tua Kami yang selalu bergembira menyambut kedatangan kami di kampung.



Kenapa Saya ikut Tolak PLTA di Seko?

Kenapa saya memilih ikut mendukung keluarga yang menolak PLTA yang akan di bangun di Seko? Karena beberapa faktor sbb:

1. Begitu lemahnya proses konsolidasi yang dilakukan oleh pemerintah dengan Masyarakat Adat di Seko yang akan menjadi penerima dampak langsung dari pembangunan PLTA. Saya sadar betul bahwa melepas hak-hak adat mulai tanah, sawah, kebun, dll yang menjadi sumber utama keluarga di seko bukanlah perkara yang mudah. Kenapa? Karena dengan kehilangan sawah, kebun, tanah itu akan memutus nafas kehidupan generasi penerus di kampung. Berbeda dengan "KITA" orang seko yang dirantau yang bisa hidup dengan budaya orang kota.

2. Dalam Pengalaman saya sejak bergabung dengan Gerakan Masyarakat Adat di Nusantara dan Internasional, nasib orang Seko tidak jauh berbeda dengan nasib keluarga sesama masyarakat adat di seluruh dunia yang umumnya menjadi korban dari pembangunan termasuk melalui PLTA, Tambang, Perkebunan skala besar, dll dimana Masyarakat Adat umumnya hanya menjadi penonton pembangunan...belum menjadi pelaku pembangunan yang sebenarnya.

3. Kalau hanya persoalan jalan raya yang menjadi akar masalahnya....sejarah sudah membuktikan bahwa Kolonial Belanda mampu bangun jalan raya dari Sabbang-Rongkong-Seko-Sulawesi Tengah. Kenapa justru sudah merdeka tapi pemerintah belum bisa bangunkan jalan raya untuk orang Seko? Ini menjadikan banyak tafsir....ada apa dibalik semua ini?

4. Bahwa ada arus harapan yang kuat dari berbagai pihak bahwa dengan memasukkan PLTA, tambang dan HGU di seko dengan harapan akan membangun jalan raya? Menurut saya ini sangat keliru. kenapa? Pandangan seperti inilah yang melemahkan posisi dan kedaulatan NKRI karena seakan2 negara yang diamanatkan ke pemerintah untuk menjalankan pembangunan sudah mau menswastanisasi negara. Jadi perlu dikoreksi jiwa kenegaraan keluarga yang diberi amanat oleh rakyat untuk menjalankan roda pemerintahan di Luwu Utara dan termasuk kepada kita semuanya.

5. Bahwa rencana pembangunan PLTA di Seko harus ditransformasi kedalam agenda pembangunan yang lebih luas. Kenapa pemerintah mau memberikan keleluasaan kepada Investor untuk bangun PLTA di DAS Karama termasuk Seko yang saya intip2 saat ini akan ada 4 unit? Ada apa dibalik rencana ini? Apakah untuk kesejahteraan orang seko?  Ataukah karena sudah ada antrian ijin2 Kontrak Karya dan Eksplorasi Tambang di Seko, Rongkong, Rampi yang jumlahnya sudah sekitar 9 ijin?

6. Saya melihat bahwa orang Seko bicara dengan ruang kehidupannya tidak hanya untuk hari ini, besok. Tahun depan tetapi harus jauh kedepan dalam menyediakan ruang kehidupan untuk anak cuci ribuan tahun mendatang. Perlu kita ingat, leluhur kita di Seko mempertahankan wilayah adat dengan nyawa taruhannya....untuk itu generasi saat ini harus memiliki visi keadilan untuk generasi yang akan datang. ..... salam keadilan untuk orang seko dari negeri seberang