Kamis, 07 Januari 2016

Mimpi jadi Petani Kakao yang Sukses tapi Belum Kudapatkan

Memperkenalkan kedua putriku (Nabila Putri Azzahra dan Tamelai Tri Ramadhani) bagaimana mengurus hingga memanen buah kakao di kebun. Tepatnya pada tanggal 3 Juli 2014 tahun lalu saya bersama keluarga menyempatkan diri untuk liburan ke kampung halaman di Eno, Kecamatan Seko Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Liburan ini disamping ingin mengobati kerinduan untuk berkumpul bersama ke dua orang tua saya dan keluarga saat lebaran idul fitri, juga saya manfaatkan untuk mengurus kebun coklat saya yang sudah bertahun-tahun tidak saya kelola dengan baik karena sejak tahun 2003 sudah banyak menghabiskan waktu dan beraktivitas sebagai aktivis masyarakat adat yang tergabung dengan AMAN, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Makasar dan tahun 2007 lanjut ke Bogor sampai saat ini (2016).

Kakao di Seko sebenanya sangat berpeluang untuk menembus pasar yang langsung ke pabrik atau perusahaan dengan harga tinggi. Namun masih terkendala dengan proses pengelolaan pada tingkat petani yang belum mendapatkan peningkatan kapasitas bagaimana menghasilkan biji kakao yang berkualitas tinggi. Peningkatan kapasitas yang diperlukan saat ini mulai dari pemilihan bibit kako berkualitas, perawatan, pemupukan yang ramah lingkungan dalam hal ini pupuk organik hingga panen dengan sistim permentasi. Dengan kualitas biji kakao yang dihasilkan petani di Seko yang lumayan baik, ini menjadi peluang yang cukup bagus untuk pengembangan biji kakao permentasi. Dengan demikian, kedepan akan terbuka lebar peluang-peluang baru bagaimana meningkatkan nilai tambah dari kakao ini sehingga mampu memberikan tambahan penghasilan bagi para petani. Kenapa tidak? Kedepan petani kakao di Seko harus bisa mandiri dan memiliki industri coklat yang khas dan menjadi primadona untuk produk unggulan. Mimpiku yang masih terpendam dan masih tetap kegelisahan disaat-saat saya menikmati coklate buatan orang kota.