Kamis, 17 November 2016

Titian Kehidupan Orang Seko di Hono'

Setiap saya pulang kampung, salah satu kegiatan yang saya rindukan adalah melintasi titian atau kami di Seko dikenal dengan "Mukati" alias melewati titian alias "Kati".

Bagi yang tidak terbiasa pasti akan mengalami kesulitan. Begitu menatap kedepan sudah terbayang bahwa bentangan titian ini berkisar 100 meter. Waooo...lumayan panjang bila dibandingkan dengan titian-titian yang sudah saya lalui didaerah-daerah lain.

Tapi jangan takut...semua orang di kampung saya mulai dari anak-anak, ibu-ibu, apalagi bapak-bapak...melewati titian itu adalah pekerjaan sehari-hari. Tidak peduli pagi, siang bahkan malam haripun pasti bisa. Mulai yang membawa memikul kayu bakar, menggendong bayi/anak-anak, gabah hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.

Saat saya masih sekolah dibangku SD apabila titian ini putus biasanya harus menggunakan alternatif lainnya untuk bisa menyeberang yaitu dengan menggunakan rakit yang terbuat dari bambu atau kalau terpaksa karena tidak ada pilihan lain dengan berenang dengan gaya dada dan satu tangan diangkat tinggi-tinggi karena memegang bagu-celana dan buku sekolah.

Ayoooo....yang penasaran silahkan ke Seko...pasti bisa menikmatinya.

Rabu, 29 Juni 2016

Panen Padi di Tanah Leluhur

Sangat bangga menyaksikan kedua putriku (Nabila sama Tamelai) yang senang dengan profesi Kake' dan Nene' sebagai petani. Ditemani Bunda tercinta (Rante Mustafa) berangkat dari Bogor tanggal 26 Juni 2016 menuju Kota Palu kemudian melanjutkan perjalanan ke Seko tanggal 27 Juni dengan menggunakan pesawat Susi Air. Setibanya di Eno (Kampungku) Nabila sama Amel menelpon....Papa Kaka dan Dede langsung mau ke sawah Kaka Ningrat ikut panen padi........saya langsung menjawab...waoooo...papa jadi bangga dong.....hahahaha........silahkan yaaa....

Dari sisi lain, kebanggaan saya dengan kedua orang tuaku ini karena terus konsisten mempertahankan padi "Tarone" salah satu padi varitas lokal yang secara turun-temurun sudah menjadi padi unggulan bagi Masyarakat Adat di Seko.

Mudik tahun 2016 ini kami sekeluarga sangat beruntung karena masih dapat menikmati indahnya panen padi bersama orang tua. Selain panen padi...ternyata dikebun jagung muda sudah menunggu untuk dipanen.......terima kasih Ya Allah, Tuhan Pencipta Alam semesta atas karunia yang engkau telah anugerahkan kepada kami dan tentunya kepada ke dua Orang Tua Kami yang selalu bergembira menyambut kedatangan kami di kampung.



Kenapa Saya ikut Tolak PLTA di Seko?

Kenapa saya memilih ikut mendukung keluarga yang menolak PLTA yang akan di bangun di Seko? Karena beberapa faktor sbb:

1. Begitu lemahnya proses konsolidasi yang dilakukan oleh pemerintah dengan Masyarakat Adat di Seko yang akan menjadi penerima dampak langsung dari pembangunan PLTA. Saya sadar betul bahwa melepas hak-hak adat mulai tanah, sawah, kebun, dll yang menjadi sumber utama keluarga di seko bukanlah perkara yang mudah. Kenapa? Karena dengan kehilangan sawah, kebun, tanah itu akan memutus nafas kehidupan generasi penerus di kampung. Berbeda dengan "KITA" orang seko yang dirantau yang bisa hidup dengan budaya orang kota.

2. Dalam Pengalaman saya sejak bergabung dengan Gerakan Masyarakat Adat di Nusantara dan Internasional, nasib orang Seko tidak jauh berbeda dengan nasib keluarga sesama masyarakat adat di seluruh dunia yang umumnya menjadi korban dari pembangunan termasuk melalui PLTA, Tambang, Perkebunan skala besar, dll dimana Masyarakat Adat umumnya hanya menjadi penonton pembangunan...belum menjadi pelaku pembangunan yang sebenarnya.

3. Kalau hanya persoalan jalan raya yang menjadi akar masalahnya....sejarah sudah membuktikan bahwa Kolonial Belanda mampu bangun jalan raya dari Sabbang-Rongkong-Seko-Sulawesi Tengah. Kenapa justru sudah merdeka tapi pemerintah belum bisa bangunkan jalan raya untuk orang Seko? Ini menjadikan banyak tafsir....ada apa dibalik semua ini?

4. Bahwa ada arus harapan yang kuat dari berbagai pihak bahwa dengan memasukkan PLTA, tambang dan HGU di seko dengan harapan akan membangun jalan raya? Menurut saya ini sangat keliru. kenapa? Pandangan seperti inilah yang melemahkan posisi dan kedaulatan NKRI karena seakan2 negara yang diamanatkan ke pemerintah untuk menjalankan pembangunan sudah mau menswastanisasi negara. Jadi perlu dikoreksi jiwa kenegaraan keluarga yang diberi amanat oleh rakyat untuk menjalankan roda pemerintahan di Luwu Utara dan termasuk kepada kita semuanya.

5. Bahwa rencana pembangunan PLTA di Seko harus ditransformasi kedalam agenda pembangunan yang lebih luas. Kenapa pemerintah mau memberikan keleluasaan kepada Investor untuk bangun PLTA di DAS Karama termasuk Seko yang saya intip2 saat ini akan ada 4 unit? Ada apa dibalik rencana ini? Apakah untuk kesejahteraan orang seko?  Ataukah karena sudah ada antrian ijin2 Kontrak Karya dan Eksplorasi Tambang di Seko, Rongkong, Rampi yang jumlahnya sudah sekitar 9 ijin?

6. Saya melihat bahwa orang Seko bicara dengan ruang kehidupannya tidak hanya untuk hari ini, besok. Tahun depan tetapi harus jauh kedepan dalam menyediakan ruang kehidupan untuk anak cuci ribuan tahun mendatang. Perlu kita ingat, leluhur kita di Seko mempertahankan wilayah adat dengan nyawa taruhannya....untuk itu generasi saat ini harus memiliki visi keadilan untuk generasi yang akan datang. ..... salam keadilan untuk orang seko dari negeri seberang

Senin, 02 Mei 2016

Ketangguhan Orang-Orang di Pulau

Tanggal 22 April 2016 saya mendapat kesempatan berkunjung ke Pulau Kulambing di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Provinsi Sulawesi Selatan. Kunjungan ini sangat istimewa bagi saya karena mendapat penugasan dari Kelompok Kerja (Pokja) Desa Membangun Indonesia bersama Pak Idham Arsyad, Ibu Budhis Utami untuk mendampingi Bapak Marwan Jafar, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Kehadiran kami di Pulau Kulambing dengan tujuan untuk mengukuti proses peluncuran program Sekolah Perempuan Pulau yang diinisiasi oleh Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) Sulawesi Selatan bersama Institute KAPAL Perempuan

Selama di Pulau Kulambing, saya banyak mendapatkan cerita-cerita seputar kehidupan orang-orang di pulau mulai dari cerita yang bersifat keluhan maupun informasi yang erat dengan kearifan-kearifan tradisional yang merupakan bagian dari kehidupan orang-orang di pulau. Salah satu diantaranya adalah manfaat pohon sukun. Selama ini buah sukun saya hanya kenal sebagai makanan yang enak kalau digoreng atau dikukus. Tetapi ternyata pohon sukun memiliki fungsi untuk metralisir air laut menjadi air tawar. Pantas saja beberapa kampung-kampung dipesisir yang saya kunjungi selama ini selalu menyaksikan pohon sukun terutama disekitar sumur warga. Pulau Kulambing contohnya, adalah pulau kecil tapi sebagian besar tanaman hijaunya didominasi oleh pohon sukun yang umurnya sudah ratusan tahun. Sayangnya pada tahun 2000 tepatnya tgl 1 Januari pulau Kulambing dilanda oleh badai besar yang menyebabkan sekitar 100 pohon sukun tumbang. Akibatnya sekarang ini mulai krisis air tawar. 

Kembali ke konteks awal, program ini adalah bagian dari pengembangan partisipasi dan kepemimpinan perempuan miskin dalam perencanaan dan pemantauan program perlindungan sosial untuk meningkatkan akses, kesejahteraan dan pemenuhan hak-hak asasi perempuan miskin yang dikembangkan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Kehadiran Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi bersama Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Bupati Pangkajene Kepulauan serta kementerian terkait bersama Anggota Pokja Desa Membangun Desa (Idham Arsyad, Budhis Utami dan Mahir Takaka) adalah sebagai upaya untuk mengintegrasikan dengan program pembangunan perdesaan/desa adat melalui dana desa. 

Program Sekolah Perempuan Pulau adalah salah satu program yang akan dijadikan sebagai salah satu program percontohan yang implementasinya dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai pihak terutama dengan pemerintah daerah untuk selanjutnya direplikasi ke pulau-pulau lain.  Jadi kalau mau mendapatkan inspirasi yang berspektif  Perempuan kedepan..........hayoooo.........berkunjunglah ke Pulau Kulambing. Disana terdapat Perempuan tangguh menghadapi tantangan dilaut yang berprofesi sebagai nelayan. Bisa belajar bagaimana perempuan dan orang-orang pulau mengelola sumberdaya alamnya untuk kehidupan antar generasi. 

Kamis, 07 Januari 2016

Mimpi jadi Petani Kakao yang Sukses tapi Belum Kudapatkan

Memperkenalkan kedua putriku (Nabila Putri Azzahra dan Tamelai Tri Ramadhani) bagaimana mengurus hingga memanen buah kakao di kebun. Tepatnya pada tanggal 3 Juli 2014 tahun lalu saya bersama keluarga menyempatkan diri untuk liburan ke kampung halaman di Eno, Kecamatan Seko Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Liburan ini disamping ingin mengobati kerinduan untuk berkumpul bersama ke dua orang tua saya dan keluarga saat lebaran idul fitri, juga saya manfaatkan untuk mengurus kebun coklat saya yang sudah bertahun-tahun tidak saya kelola dengan baik karena sejak tahun 2003 sudah banyak menghabiskan waktu dan beraktivitas sebagai aktivis masyarakat adat yang tergabung dengan AMAN, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Makasar dan tahun 2007 lanjut ke Bogor sampai saat ini (2016).

Kakao di Seko sebenanya sangat berpeluang untuk menembus pasar yang langsung ke pabrik atau perusahaan dengan harga tinggi. Namun masih terkendala dengan proses pengelolaan pada tingkat petani yang belum mendapatkan peningkatan kapasitas bagaimana menghasilkan biji kakao yang berkualitas tinggi. Peningkatan kapasitas yang diperlukan saat ini mulai dari pemilihan bibit kako berkualitas, perawatan, pemupukan yang ramah lingkungan dalam hal ini pupuk organik hingga panen dengan sistim permentasi. Dengan kualitas biji kakao yang dihasilkan petani di Seko yang lumayan baik, ini menjadi peluang yang cukup bagus untuk pengembangan biji kakao permentasi. Dengan demikian, kedepan akan terbuka lebar peluang-peluang baru bagaimana meningkatkan nilai tambah dari kakao ini sehingga mampu memberikan tambahan penghasilan bagi para petani. Kenapa tidak? Kedepan petani kakao di Seko harus bisa mandiri dan memiliki industri coklat yang khas dan menjadi primadona untuk produk unggulan. Mimpiku yang masih terpendam dan masih tetap kegelisahan disaat-saat saya menikmati coklate buatan orang kota.