Sabtu, 12 Desember 2015

Marga Melinting diantara Gempuran Budaya Luar

Tanggal 10-11 Desember 2015 saya berkesempatan berkunjung ke Kabupaten Lampung Timur dan berdiskusi langsung dengan komunitas Masyarakat Adat di Marga Melinting. Saya sangat beruntung paling tidak dalam kunjungan ini, saya berkesempatan berdiskusi langsung dengan Bapak Rizal Ismail (Pemangku Adat) dan beberapa tetua-tetua adat.

Melinting, adalah salah satu komunitas Masyarakat Adat atau yang dikenal dengan "Marga" di provinsi Lampung yang secara administratif berada di kabupaten Lampung Timur. Marga Melinting ini sudah berdiri sejak Abad ke 16 M (Rizal Ismail). Marga Melinting sampai dengan saat ini (Desember 2015) sudah terbagi kedalam 7 Tiuh (Desa) yaitu desa Tiuh Meringgai, Tiuh Tebing, Tiuh Tanjung Aji, Tiuh Wano, Tiuh Nibung, Tiuh Pempen dan Tiuh Ngeragung. Masyarakat Adat Marga Melinting umumnya menggantungkan hidupnya dari bertani dan berkebun seperti tanaman padi sawah, lada, pisang, coklat, pepaya, jagung serta mengembangkan tanaman jangka panjang lainnya mulai dari duku, durian, cempedak serta tanaman kayu, dll.

Selain dianugrahi dengan wilayah yang subur, luas, Marga Melinting juga memiliki identitas kebudayaan yang dikenal dengan tari Melinting, Tari Melinting adalah tarian yang sarat akan nilai budaya ini telah ada sejak abad 16 M yang diciptakan oleh sang Ratu Melinting. Tari Melinting ini tumbuh dan berkembang dan menjadi salah satu tarian kebanggaan masyarakat Marga Melinting sampai sekarang dan telah mendapatkan Pengakuan dari Pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Selain Seni Tari, Marga Melinting juga masih mempertahankan rumah tradisional, seperti rumah panggung yang terbuat dari kayu alam, dengan ciri khas bangunan khas Marga Melinting yang tetap dipelihara keasliannya. 

Marga Melinting memiliki tantangan kedepan yang sangat berat, paling tidak dengan komposisi penduduknya yang sudah didominasi oleh suku-suku pendatang terutama dari Jawa. Bagaimana mempertahankan warisan leluhur Marga Melinting mulai dari aspek teritorial/wilayah adat, struktur lembaga adat, hukum dan peradilan adat, bahasa asli, seni-budaya dan hak-hak komunal lainnya.