Selasa, 06 Oktober 2015

Si Kecil "Burung Besi" Mengantar saya hingga ke Malinau


Tepatnya tanggal 30 September 2015 saya punya kesempatan yang sangat baik menaiki pesawat Cessna 206 yang berpenumpang 5 orang milik Mission Aviation Fellowship (MAF) dengan rute penerbangan Bandara Internasional Juwata Tarakan ke Bandara Seluwing Malinau. Penerbangan ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit dan saya beruntung karena pilot yang menerbangkan pesawat ini cukup ramah yang akrab dipanggil dengan Mr. Mathius.  


Pengalaman kali ini tentunya mengngatkan kembali perjalanan ke kampung leluhur saya di Seko sejak tahun 1979 yang silam. Pesat jenis Cessna ini pernah melayani Masyarakat Seko sekitar 17 tahun.dan pernah menjadi salah satu pilihan sarana transportasi bagi orang Seko ataupun orang yang ingin menikmati keindahan alam Seko. Termasuk yang paling berkesan bagi Masyarakat Seko adalah, kehadiran MAF ini telah banyak memberikan pertelongan beberapa keluaga saya yang perlu bantuan untuk berobat ke rumah sakit terdekat (Kota Masamba) dimana pada tahun 1980an belum ada sarana transportasi darat kecuali dengan menunggangi kuda atau dengan berjalan kaki yang bisa memakan waktu 3-4 hari perjalanan. 

Selama perjalanan ke Malinau, dengan dukungan cuaca yang bersahabat, tentunya menjadikan perjalanan saya lebih terasa asyik dan hampir tidak pernah merasakan goncangan selama diudara. Saya memanfaatkan waktu sekitar 30an menit ini untuk menoleh ke jendela sembari menyaksikan keindahan alam di Malinau yang sebagian besar wilayahnya berhutan. Sepanjang perjalanan sesekali saya bertanya ke penumpang tetangga kursi saya...... Pak hutan ini digunduli untuk apa ya. oh...ini untuk perkebunan sawit dan yang sebelah sana rencana untuk tambang. 

Waduh....harus usap dada berkali-kali ni. Semoga saja pembangunan yang berorientasi pada perkebunan skala besar dan tambang ini tidak menambah laju kerusakan hutan dan penggusuran masyarakat adat dari wilayah adatnya dengan dalih pembangunan. 

Yaaaa......saya melupakan sejenak urusan tebang-menebang hutan ini. Saya kembali untuk fokus menikmati perjalanan karena baru kali ini saya menginjakkan kaki di Malinau. Selama ini hanya dapat cerita dari kawan-kawan saya. Semoga ada kesempatan lain untuk berkunjung kembali di Malinau. 







1 komentar:

adat ende mengatakan...

Ketangguhan Orang-Orang Di Desa
Tanggal 26-31 April 2016 saya bersama rekan-rekan mendapat kesempatan untuk pengambilan data BRWA kesetiap pelosok komunitas adat di kabupaten Ende.Kunjungan ini sangat istimewa bagi saya karena mendapat pengetahuan baru tentang sejarah keturunan Leluhur mereka,batas-batas wilayah adat,hasil komoditi,pendidikan, pendapatan perhari,bulan dan tahun.ketika kami mulai telusuri atau tanya mengenai sejarah asal usul keturunan mereka, mosalaki/kepala suku mulai cerita kepada kami dengan menggunakan bahasa adat Ende,Lio dan Nage (Jao,Aku dan Nggao). Menurut versi setiap cerita kepala suku yang ada dikabupaten ende,bahwa keturunan dari leluhur sampai ke mereka sekarang sudah mencapai sekitar sepuluh sampai tiga puluh lapis atau genersi..

Selama di desa atau komunitas, saya banyak mendapatkan cerita-cerita seputar kehidupan orang-orang di desa mulai dari cerita yang bersifat keluhan maupun informasi yang erat dengan kearifan-kearifan tradisional yang merupakan bagian dari kehidupan orang-orang di komunitas. Salah satu diantaranya adalah manfaat dari Rumah Adat,Tubu Musu,Ritual Adat yamg merupakan satu kesatuan dari kehidupan sehari-hari untuk menjaga kerukunan komunitas mereka maupun komunitas lain.