Jumat, 21 Agustus 2015

Sambut Matahari Terbit di Puncak Gunung Batur

Saya ikut bersemangat saat kawan-kawanku dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menawarkan untuk ikut mendaki Gunung Batur. Mereka antara lain adalah Rustandi Ardiansyah (Sumatera Selatan), Annas Radin Syarif, Yoga "Kipli" Saeful Rizal, Feri Nuroktaviani, Susi Situmorang (Bogor), Abe Ngingi (Maluku Utara), Dodik (NTB), dan beberapa lagi yang belum sempat hafal namanya. Pegunungan Batur yang dalam sejarahnya telah dikenal banyak orang hingga penjuru dunia tentunya satu hal yang membuat saya bersemangat untuk ikut mendaki dengan membatalkan rencana awal saya untuk menikmati indahnya pantai di Desa Les.

Walau kondisi badanku agak kelelahan setelah mengikuti beberapa kegiatan yang merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Se Dunia, 9 Agustus 2015 dan Festival Nusantara 2015 yang berlangsung dari tanggal 9-17 Agustus 2015 tapi dengan pengalaman dari masa kecil sebagai anak yang dilahirkan di Pegunungan dan bertahun-tahun berjalan kaki dikawasan pegunungan dataran tinggi Tokalekaju (Sulawesi) nampaknya perlu uji tenaga lagi setelah hampir 10an tahun tidak lagi merasakan tantangan naik-turun gunung dengan berjalan kaki.

Tepatnya tanggal 14 Agustus 2015 mulai pukul 03.00 WITA saya bangun dan langsung membangunkan kawan-kawan yang kebetulan sudah janjian untuk sama-sama mendaki. Persis jam 03.30 kami mulai berjalanan dari Hotel Puri Bening di Toya Bungkah, Bangli. Walau tidak ditemani oleh pemandu, dengan pengalaman kawan-kawan yang hampir semuanya pernah jadi anak Mapala dan fasilitator pemetaan wilayah adat, ternyata masih bisa diandalkan untuk membaca rute perjalanan hingga menuju puncak Gunung Batur yang tingginya sekitar 1.717 Mdpl. Selain bekal pengalaman ternyata ditengah perjalanan kami bertemu dengan para pendaki yang berasal dari beberapa daerah dan bahkan ada yang dari Spanyol, Prancis, Italia, dll.

Pas jam 05.30 kami tiba di Puncak dan saya langsung menyempatkan diri untuk menepi menyaksikan keindahan alam disekiling Pegunungan Batur dan tidak mau menyia-nyiakan momentum ini untuk menyambut MATAHARI TERBIT. Sungguh luar biasa dan saya bangga karena bisa merasakan pergantian malam ke siang dengan cuaca yang sangat sejuk. Kami juga mengibarkan BENDERA AMAN sebagai bagian dari rasa kebanggaan bersama-sama kader AMAN. Karena kegembiraan yang kami ekspresikan lewat guyonan dan sesekali dengan  lagu daerah..membuat beberapa Bule mengajak kami untuk berjoget sambil bernyanyi....waoooo alangkah senangnya hatiku....... karena diselimuti cuaca yang dingin membuat perut cepat keroncongan sementara kami tidak membawa bekal yang cukup....ide kawan2ku langsung mengumpulkan duit dan Alhamdulillah terkumpul Rp. 200 rbh lebih dan cukup untuk beli kopi, roti sebagai tambahan untuk bekal yang sangat minim. Untuknya ada rendang buatan Bang Mirza Indra yang sempat kami bawa...menjadikan hidup lebih nikmat.

Sekitar pukul 07.30 kami memutuskan untuk kembali dan ternyata lumayan menantang dan harus berhati-hati berpijak karena kalau salah injak bisa langsung terjun bebas ke jurang........singkat cerita kami tiba di lokasi Festival Nusantara 2015 pukul 09.00 dan langsung menyerbu warung untuk memulihkan tenaga yang terkuras..... RASANYA INGIN LAGI MERASAKAN YANG KEDUA KALINYA........ Semoga bisa tercapai..........