Jumat, 15 Mei 2015

Akupun Bisa Ke Nangro Aceh Darussalam

Sejak Banda Aceh diluluh lantakkan oleh tsunami tanggal 26 Desember 2004 sebagai dampak dari gempa bumi yang berkekuatan 9,1 sampai 9,3 Skala Richter yang mengguncang dasar laut di Barat Daya Sumatera sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai. Niat dan kegelisahan untuk mengambil bagian secara langsung melakukan tindakan nyata melalui kerja-kerja sosial di Aceh untuk meringankan korban yang masih selamat dari bencana tsunami tersebut akhirnya tak kunjung tercapai. Walaupun hanya bisa mengambil bagian dengan menggalang dukungan terutama melakukan mobilisasi bantuan dari Makassar dan Jakarta namun tetap punya keinginan yang terus untuk secara langsung menginjakkan kaki di Aceh yang juga terkenal dengan sebutan Kota Serambi Mekkah. 

Alhamdulillah, melalui agenda Konsolidasi Aliansi Masyarakat Adat di Bada Aceh dari tanggal 13-16 Mei 2015 saya punya kesempatan untuk melakukan kunjungan kebeberapa lokasi untuk melihat secara langsung dampak dari bencana tsunami. Mulai dari menginjakkan kaki dan melakukan Ibadah Shalat Jum'at di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang ditemanai oleh sahabat lama saya Bapak Khalidin Alba bersama Bapak Hasyim dan Nasaruddin yang ketiga-tiganya adalah toko adat yang tergabung dalam Jaringan Kerja Masyarakat Adat Aceh (JKMA). Seperti dituturkan oleh Pak Khalidin Albah ke saya bahwa Mesjid Baiturrahman ini adalah Mesjid yang bisa menyelamatkan ribuan orang yang sedang melajalankan ibadah saat bencana tsunami tibah. Saya juga bisa menyaksikan Kapal PLTU Terapung yang dibawa tsunami ke tengah-tengah kota Banda Aceh dan menyaksikan beberapa kampung terutama di Mukim Blangme yang sekaligus saya manfaatkan berbagi pengalaman dengan Bapak Yuriun (Tokoh Adat) yang disegani di Provinsi Aceh yang selama ini aktif memperjuangkan pengakuan hak-hak masyarakat adat. 

Tidak ada komentar: