Rabu, 04 Maret 2015

Batang Hari dan Keindahannya

Senangnya dapat kesempatan merasakan kenikmatan menyeberangi Sungai Batang Hari yaitu sungai terpanjang di Pulau Sumatera sekitar 800 km. Mata airnya berasal dari Gunung Rasan (2585 m), yang sekarang masuk di wilayah Kabupaten Solok, provinsi Sumatera Barat.  Aliran dari sungai ini melalui beberapa daerah yang ada di provinsi Sumatera Barat dan provinsi Jambi, seperti Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dhamasraya, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Batang Hari, Kota Jambi, Kabupaten Muara Jambi dan Kab. Tanjung Jabung Timur sebelum lepas ke perairan Timur Sumatera dekat Muara Sabak.

Beberapa sungai lain yang bermuara di Sungai Batang Hari ini diantaranya Batang Sangir, Batang Merangin, Batang Tebo, Batang Tembesi. Ekosistem aliran sungai ini membawa banyak deposit emas, sehingga muncul nama legendaris Swarnadwipa "pulau emas" yang diberikan dalam bahasa Sangsekerta bagi Pulau Sumatera. Kalau baca dokumen-dokumen terkait dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia, mencakup luas areal tangkapan (catchment area) ± 4.9 juta Ha. Sekitar 76 % DAS Batang Hari berada pada provinsi Jambi, sisanya berada pada provinsi Sumatera Barat.


Selama 2 hari saya di Tebo (26-27 Pebruari 2015) saya cukup penasaran dengan cerita dari beberapa tetua-tetua adat disana yang menceritakan pentingnya Sungai Batang Hari mulai dari aspek yang bersifat mistis, sejarah, sosial-budaya, potensi sumber daya alam hingga pentingnya Batang Hari ini sebagai penyangga ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari ekosistem Sungai Batang Hari.  Karena daerahnya yang kaya raya akan potensi biji emas, tidak heran ketika menyaksikan air di Sungai Batang Hari yang tidak pernah jernih. Ini diakibatkan oleh aktivitas masyarakat di sungai ini mulai yang menambang emas, perahu-kapal2 kecil yang lalu lalang disepanjang sungai.

Saya juga senang karena bisa berkunjung langsung ke Candi Tuosumai yang terletak di Dusun Tuo Sumay Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo. Candi ini adalah salah satu bukti peradaban Melayu  dan sedang dalam proses penelitian oleh Balai Pelestarian Cagar dan Budaya Provinsi Jambi. Catatan sejarah juga mencatat bahwa pada Batang Hari inilah, pernah muncul suatu Kerajaan Melayu yang cukup disegani, yang kekuasaannya meliputi pulau Sumatera sampai ke Semenangjung Malaya. Dan juga dahulunya sejak abad ke-7 sehiliran Batang Hari ini sudah menjadi titik perdagangan penting bagi beberapa kerajaan yang pernah muncul di pulau Sumatera seperti Sriwijaya dan Dharmasraya.

Untuk menjaga keseimbangan alam di Ekosistem Sungai Batang Hari ini, kedepan harus ada upaya dan tindakan yang nyata dilakukan oleh para pemangku kepentingan sehingga kekayaan budaya dan sumber daya alamnya tidak meninggalkan cerita masa lalu saja namun bagaimana mengoptimalkan kekayaan Batang Hari ini sebagai identitas kebudayaan-masyarakat adat dan bangsa Indonesia tentunya. 

Tidak ada komentar: