Sabtu, 12 Desember 2015

Marga Melinting diantara Gempuran Budaya Luar

Tanggal 10-11 Desember 2015 saya berkesempatan berkunjung ke Kabupaten Lampung Timur dan berdiskusi langsung dengan komunitas Masyarakat Adat di Marga Melinting. Saya sangat beruntung paling tidak dalam kunjungan ini, saya berkesempatan berdiskusi langsung dengan Bapak Rizal Ismail (Pemangku Adat) dan beberapa tetua-tetua adat.

Melinting, adalah salah satu komunitas Masyarakat Adat atau yang dikenal dengan "Marga" di provinsi Lampung yang secara administratif berada di kabupaten Lampung Timur. Marga Melinting ini sudah berdiri sejak Abad ke 16 M (Rizal Ismail). Marga Melinting sampai dengan saat ini (Desember 2015) sudah terbagi kedalam 7 Tiuh (Desa) yaitu desa Tiuh Meringgai, Tiuh Tebing, Tiuh Tanjung Aji, Tiuh Wano, Tiuh Nibung, Tiuh Pempen dan Tiuh Ngeragung. Masyarakat Adat Marga Melinting umumnya menggantungkan hidupnya dari bertani dan berkebun seperti tanaman padi sawah, lada, pisang, coklat, pepaya, jagung serta mengembangkan tanaman jangka panjang lainnya mulai dari duku, durian, cempedak serta tanaman kayu, dll.

Selain dianugrahi dengan wilayah yang subur, luas, Marga Melinting juga memiliki identitas kebudayaan yang dikenal dengan tari Melinting, Tari Melinting adalah tarian yang sarat akan nilai budaya ini telah ada sejak abad 16 M yang diciptakan oleh sang Ratu Melinting. Tari Melinting ini tumbuh dan berkembang dan menjadi salah satu tarian kebanggaan masyarakat Marga Melinting sampai sekarang dan telah mendapatkan Pengakuan dari Pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Selain Seni Tari, Marga Melinting juga masih mempertahankan rumah tradisional, seperti rumah panggung yang terbuat dari kayu alam, dengan ciri khas bangunan khas Marga Melinting yang tetap dipelihara keasliannya. 

Marga Melinting memiliki tantangan kedepan yang sangat berat, paling tidak dengan komposisi penduduknya yang sudah didominasi oleh suku-suku pendatang terutama dari Jawa. Bagaimana mempertahankan warisan leluhur Marga Melinting mulai dari aspek teritorial/wilayah adat, struktur lembaga adat, hukum dan peradilan adat, bahasa asli, seni-budaya dan hak-hak komunal lainnya. 



Jumat, 13 November 2015

BELANG Yang Gagah Perkasa dan Membanggakan

Tepatnya tanggal 3 Nopember 2015 di Lapangan Madandan, Tana Toraja yang dijadikan sebagai tempat ritual pemakaman Bapak L. Sombolinggi yang menjadi sahabat dan guru saya dalam mendorong Gerakan Masyarakat Adat Nusantara di Dataran Tinggi Sulawesi "Tokalekaju". Sungguh banyak pengalaman dan kisah perjuangan yang saya alami bersama Almarhum Bapak L. Sombolinggi sejak akhir tahun 1997 hingga tahun 2007an.

Ditengah-tengah keramaian para tamu yang datang melayat, saya nyempatkan diri untuk berkenalan sama "BELANG" atau dalam bahasa kami di Seko-Padang dikenal dengan "LABORA". Begitu saya memegang tali hidungnya, saya langsung mengusap kepala terus leher hingga badannya sampai merasakan keakraban. Paling tidak, rasa penasaran untuk bertemu dengan BELANG yang nilainya mencapai Rp. 1,2 M langsung terobati karena selama ini hanya bisa menyaksikan lewat media sosial dari Si Pemiliknya Rukka Sombolinggi.

Selasa, 06 Oktober 2015

Si Kecil "Burung Besi" Mengantar saya hingga ke Malinau


Tepatnya tanggal 30 September 2015 saya punya kesempatan yang sangat baik menaiki pesawat Cessna 206 yang berpenumpang 5 orang milik Mission Aviation Fellowship (MAF) dengan rute penerbangan Bandara Internasional Juwata Tarakan ke Bandara Seluwing Malinau. Penerbangan ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit dan saya beruntung karena pilot yang menerbangkan pesawat ini cukup ramah yang akrab dipanggil dengan Mr. Mathius.  


Pengalaman kali ini tentunya mengngatkan kembali perjalanan ke kampung leluhur saya di Seko sejak tahun 1979 yang silam. Pesat jenis Cessna ini pernah melayani Masyarakat Seko sekitar 17 tahun.dan pernah menjadi salah satu pilihan sarana transportasi bagi orang Seko ataupun orang yang ingin menikmati keindahan alam Seko. Termasuk yang paling berkesan bagi Masyarakat Seko adalah, kehadiran MAF ini telah banyak memberikan pertelongan beberapa keluaga saya yang perlu bantuan untuk berobat ke rumah sakit terdekat (Kota Masamba) dimana pada tahun 1980an belum ada sarana transportasi darat kecuali dengan menunggangi kuda atau dengan berjalan kaki yang bisa memakan waktu 3-4 hari perjalanan. 

Selama perjalanan ke Malinau, dengan dukungan cuaca yang bersahabat, tentunya menjadikan perjalanan saya lebih terasa asyik dan hampir tidak pernah merasakan goncangan selama diudara. Saya memanfaatkan waktu sekitar 30an menit ini untuk menoleh ke jendela sembari menyaksikan keindahan alam di Malinau yang sebagian besar wilayahnya berhutan. Sepanjang perjalanan sesekali saya bertanya ke penumpang tetangga kursi saya...... Pak hutan ini digunduli untuk apa ya. oh...ini untuk perkebunan sawit dan yang sebelah sana rencana untuk tambang. 

Waduh....harus usap dada berkali-kali ni. Semoga saja pembangunan yang berorientasi pada perkebunan skala besar dan tambang ini tidak menambah laju kerusakan hutan dan penggusuran masyarakat adat dari wilayah adatnya dengan dalih pembangunan. 

Yaaaa......saya melupakan sejenak urusan tebang-menebang hutan ini. Saya kembali untuk fokus menikmati perjalanan karena baru kali ini saya menginjakkan kaki di Malinau. Selama ini hanya dapat cerita dari kawan-kawan saya. Semoga ada kesempatan lain untuk berkunjung kembali di Malinau. 







Jumat, 25 September 2015

Seren Taun di Kasepuhan Citorek, Lebak-Banten

Tepatnya tanggal 20 September 2015 sekitar pukul 14.00 WIB saya punya kesempatan menemani Pak Abdon Nababan (Sekjen AMAN) bersama Abdi Akbar (Staf Urusan Politik PB AMAN) dan tentunya dengan Andi, seorang driver yang sangat handal dan telah berptualang menjelajahi daerah Kasepuhan di Banten Kidul. Tujuan kunjungan ini adalah selain untuk menghadiri Seren Taun juga untuk mengikuti konsolidasi pengawalan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat di Banten Kidul, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Setibanya di Kasepuhan Citorek saya langsung merasakan keindahan alam pegunungan yang sangat menakjubkan. Yaaaa........disamping karena sebagai orang yang lahir dan besar didaerah pegunungan tentunya bisa menghirup udara yang segar dan sesekali merasakan aroma padi sawah. Dan yang paling menggembirakan karena bisa melihat kerbau, hewan kesayangan.

Selama di Kasepuhan Citorek, saya punya kesempatan juga menyaksikan Ibu-Ibu yang memasak nasi yang masih mempertahankan budaya leluhur dengan menggunakan tungku dan peralatan tradisional. Mendapatkan banyak pengalaman bagaimana Masyarakat Adat di Citorek mengelola harta leluhurnya mulai dari proses pengolahan sawah, ladang, hutan, beternak kerbau, kolam air tawar hingga urusan seni, budaya dan peranan lembaga adat dalam mengurus komunitasnya. Seren Taun memang sangat luar biasa dan bagi Masyarakat Adat Citorek, melalui Seren Taun lah bisa membangun hubungan kekerabatan yang tangguh termasuk bagaimana membangun hubungan dengan leluhur, nenek moyang, orang tua, sanak family yang sudah meninggal yang diaktualisasikan melalui ritual mulai dari doa hingga melakukan ziarah langsung makam. Melalui Seren Taun inilah semua keluarga/turunan Kasepuhan Citorek yang dirantau harus kembali ke kampung leluhur. Ada hal yang paling berkesan selain yang sudah saya tuliskan diatas. Untuk memilih seorang Kepala Desa, Kasepuhan Citorek sudah memulai dengan proses yang bersinergi dengan proses pengambilan keputusan melalui MUSYAWARAH ADAT atau yang dikenal dengan istilah RIUNGAN.

Kunjungan di Kasepuhan Citorek ini kami akhiri sekitar pukul 13.30 WIB tanggal 21 September 2015 dan melanjutkan perjalanan ke Bogor. Saya dkk juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, setibanya di Cipanas langsung mampir mandi air panas alam. Perjalanan inipun kami akhiri dengan Makan Coto Makasar di Restoran yang dikelola oleh seorang kawan di Laladon, Bogor.


Jumat, 21 Agustus 2015

Sambut Matahari Terbit di Puncak Gunung Batur

Saya ikut bersemangat saat kawan-kawanku dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menawarkan untuk ikut mendaki Gunung Batur. Mereka antara lain adalah Rustandi Ardiansyah (Sumatera Selatan), Annas Radin Syarif, Yoga "Kipli" Saeful Rizal, Feri Nuroktaviani, Susi Situmorang (Bogor), Abe Ngingi (Maluku Utara), Dodik (NTB), dan beberapa lagi yang belum sempat hafal namanya. Pegunungan Batur yang dalam sejarahnya telah dikenal banyak orang hingga penjuru dunia tentunya satu hal yang membuat saya bersemangat untuk ikut mendaki dengan membatalkan rencana awal saya untuk menikmati indahnya pantai di Desa Les.

Walau kondisi badanku agak kelelahan setelah mengikuti beberapa kegiatan yang merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Se Dunia, 9 Agustus 2015 dan Festival Nusantara 2015 yang berlangsung dari tanggal 9-17 Agustus 2015 tapi dengan pengalaman dari masa kecil sebagai anak yang dilahirkan di Pegunungan dan bertahun-tahun berjalan kaki dikawasan pegunungan dataran tinggi Tokalekaju (Sulawesi) nampaknya perlu uji tenaga lagi setelah hampir 10an tahun tidak lagi merasakan tantangan naik-turun gunung dengan berjalan kaki.

Tepatnya tanggal 14 Agustus 2015 mulai pukul 03.00 WITA saya bangun dan langsung membangunkan kawan-kawan yang kebetulan sudah janjian untuk sama-sama mendaki. Persis jam 03.30 kami mulai berjalanan dari Hotel Puri Bening di Toya Bungkah, Bangli. Walau tidak ditemani oleh pemandu, dengan pengalaman kawan-kawan yang hampir semuanya pernah jadi anak Mapala dan fasilitator pemetaan wilayah adat, ternyata masih bisa diandalkan untuk membaca rute perjalanan hingga menuju puncak Gunung Batur yang tingginya sekitar 1.717 Mdpl. Selain bekal pengalaman ternyata ditengah perjalanan kami bertemu dengan para pendaki yang berasal dari beberapa daerah dan bahkan ada yang dari Spanyol, Prancis, Italia, dll.

Pas jam 05.30 kami tiba di Puncak dan saya langsung menyempatkan diri untuk menepi menyaksikan keindahan alam disekiling Pegunungan Batur dan tidak mau menyia-nyiakan momentum ini untuk menyambut MATAHARI TERBIT. Sungguh luar biasa dan saya bangga karena bisa merasakan pergantian malam ke siang dengan cuaca yang sangat sejuk. Kami juga mengibarkan BENDERA AMAN sebagai bagian dari rasa kebanggaan bersama-sama kader AMAN. Karena kegembiraan yang kami ekspresikan lewat guyonan dan sesekali dengan  lagu daerah..membuat beberapa Bule mengajak kami untuk berjoget sambil bernyanyi....waoooo alangkah senangnya hatiku....... karena diselimuti cuaca yang dingin membuat perut cepat keroncongan sementara kami tidak membawa bekal yang cukup....ide kawan2ku langsung mengumpulkan duit dan Alhamdulillah terkumpul Rp. 200 rbh lebih dan cukup untuk beli kopi, roti sebagai tambahan untuk bekal yang sangat minim. Untuknya ada rendang buatan Bang Mirza Indra yang sempat kami bawa...menjadikan hidup lebih nikmat.

Sekitar pukul 07.30 kami memutuskan untuk kembali dan ternyata lumayan menantang dan harus berhati-hati berpijak karena kalau salah injak bisa langsung terjun bebas ke jurang........singkat cerita kami tiba di lokasi Festival Nusantara 2015 pukul 09.00 dan langsung menyerbu warung untuk memulihkan tenaga yang terkuras..... RASANYA INGIN LAGI MERASAKAN YANG KEDUA KALINYA........ Semoga bisa tercapai..........

 




Senin, 13 Juli 2015

Sungai untuk Kehidupan

Hari menjelang senja, tepatnya pada tanggal 23 Juni 2015 saya ditemani oleh Ubaidi Abdul Halim (Pengurus AMAN Wilayah Maluku Utara) dan Jhonas Ngoranoka yang populer dikampung Dodaga dipanggil dengan Jemz menikmati segarnya Sungai Dodada di Halmahera Timur. Walau masih suasana bulan puasa ramadhan, namun saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Maklum sebagai anak yang dilahirkan di kampung dipinggir sungai inilah yang menjadikan saya menjadi orang yang sangat mencintai sungai. Apalagi kalau sungainya bersih dan masih bersumber dari hutan adat waoooo.......pasti pucing kepala barby kalau tidak dapat kesempatan nyempung.

Saya penasaran lagi ketika dapat cerita dari tetua-tetua adat di kampung Tukur-Tukur, Dodaga bahwa sungai Dodaga ini masih banyak ikan sidat atau yang kami sebut dengan ikan masapi kalau di Seko. Betapa tidak selain hoby mancing ikan sidat juga sudah sekitar 7 bulan tidak pernah lagi mengunyah ikan sidat. Tapi tidak masalah yang penting sudah bisa mandi di sungai Dodaga sekitar 1 jam...lumayan puasss.

Jumat, 15 Mei 2015

Akupun Bisa Ke Nangro Aceh Darussalam

Sejak Banda Aceh diluluh lantakkan oleh tsunami tanggal 26 Desember 2004 sebagai dampak dari gempa bumi yang berkekuatan 9,1 sampai 9,3 Skala Richter yang mengguncang dasar laut di Barat Daya Sumatera sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai. Niat dan kegelisahan untuk mengambil bagian secara langsung melakukan tindakan nyata melalui kerja-kerja sosial di Aceh untuk meringankan korban yang masih selamat dari bencana tsunami tersebut akhirnya tak kunjung tercapai. Walaupun hanya bisa mengambil bagian dengan menggalang dukungan terutama melakukan mobilisasi bantuan dari Makassar dan Jakarta namun tetap punya keinginan yang terus untuk secara langsung menginjakkan kaki di Aceh yang juga terkenal dengan sebutan Kota Serambi Mekkah. 

Alhamdulillah, melalui agenda Konsolidasi Aliansi Masyarakat Adat di Bada Aceh dari tanggal 13-16 Mei 2015 saya punya kesempatan untuk melakukan kunjungan kebeberapa lokasi untuk melihat secara langsung dampak dari bencana tsunami. Mulai dari menginjakkan kaki dan melakukan Ibadah Shalat Jum'at di Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang ditemanai oleh sahabat lama saya Bapak Khalidin Alba bersama Bapak Hasyim dan Nasaruddin yang ketiga-tiganya adalah toko adat yang tergabung dalam Jaringan Kerja Masyarakat Adat Aceh (JKMA). Seperti dituturkan oleh Pak Khalidin Albah ke saya bahwa Mesjid Baiturrahman ini adalah Mesjid yang bisa menyelamatkan ribuan orang yang sedang melajalankan ibadah saat bencana tsunami tibah. Saya juga bisa menyaksikan Kapal PLTU Terapung yang dibawa tsunami ke tengah-tengah kota Banda Aceh dan menyaksikan beberapa kampung terutama di Mukim Blangme yang sekaligus saya manfaatkan berbagi pengalaman dengan Bapak Yuriun (Tokoh Adat) yang disegani di Provinsi Aceh yang selama ini aktif memperjuangkan pengakuan hak-hak masyarakat adat. 

Rabu, 04 Maret 2015

Batang Hari dan Keindahannya

Senangnya dapat kesempatan merasakan kenikmatan menyeberangi Sungai Batang Hari yaitu sungai terpanjang di Pulau Sumatera sekitar 800 km. Mata airnya berasal dari Gunung Rasan (2585 m), yang sekarang masuk di wilayah Kabupaten Solok, provinsi Sumatera Barat.  Aliran dari sungai ini melalui beberapa daerah yang ada di provinsi Sumatera Barat dan provinsi Jambi, seperti Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Dhamasraya, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Batang Hari, Kota Jambi, Kabupaten Muara Jambi dan Kab. Tanjung Jabung Timur sebelum lepas ke perairan Timur Sumatera dekat Muara Sabak.

Beberapa sungai lain yang bermuara di Sungai Batang Hari ini diantaranya Batang Sangir, Batang Merangin, Batang Tebo, Batang Tembesi. Ekosistem aliran sungai ini membawa banyak deposit emas, sehingga muncul nama legendaris Swarnadwipa "pulau emas" yang diberikan dalam bahasa Sangsekerta bagi Pulau Sumatera. Kalau baca dokumen-dokumen terkait dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia, mencakup luas areal tangkapan (catchment area) ± 4.9 juta Ha. Sekitar 76 % DAS Batang Hari berada pada provinsi Jambi, sisanya berada pada provinsi Sumatera Barat.


Selama 2 hari saya di Tebo (26-27 Pebruari 2015) saya cukup penasaran dengan cerita dari beberapa tetua-tetua adat disana yang menceritakan pentingnya Sungai Batang Hari mulai dari aspek yang bersifat mistis, sejarah, sosial-budaya, potensi sumber daya alam hingga pentingnya Batang Hari ini sebagai penyangga ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari ekosistem Sungai Batang Hari.  Karena daerahnya yang kaya raya akan potensi biji emas, tidak heran ketika menyaksikan air di Sungai Batang Hari yang tidak pernah jernih. Ini diakibatkan oleh aktivitas masyarakat di sungai ini mulai yang menambang emas, perahu-kapal2 kecil yang lalu lalang disepanjang sungai.

Saya juga senang karena bisa berkunjung langsung ke Candi Tuosumai yang terletak di Dusun Tuo Sumay Kecamatan Sumay Kabupaten Tebo. Candi ini adalah salah satu bukti peradaban Melayu  dan sedang dalam proses penelitian oleh Balai Pelestarian Cagar dan Budaya Provinsi Jambi. Catatan sejarah juga mencatat bahwa pada Batang Hari inilah, pernah muncul suatu Kerajaan Melayu yang cukup disegani, yang kekuasaannya meliputi pulau Sumatera sampai ke Semenangjung Malaya. Dan juga dahulunya sejak abad ke-7 sehiliran Batang Hari ini sudah menjadi titik perdagangan penting bagi beberapa kerajaan yang pernah muncul di pulau Sumatera seperti Sriwijaya dan Dharmasraya.

Untuk menjaga keseimbangan alam di Ekosistem Sungai Batang Hari ini, kedepan harus ada upaya dan tindakan yang nyata dilakukan oleh para pemangku kepentingan sehingga kekayaan budaya dan sumber daya alamnya tidak meninggalkan cerita masa lalu saja namun bagaimana mengoptimalkan kekayaan Batang Hari ini sebagai identitas kebudayaan-masyarakat adat dan bangsa Indonesia tentunya. 

Selasa, 27 Januari 2015

Belajar Hidup Berkecukupan dari Masyarakat Adat Sedulur Sikap

Bersama Keluarga Pak Salim di Sumber Balong, Blora
Tepatnya tanggal 23 Januari 2015 saya ditemani oleh Ibu Gunarti, Mas Gunarto dan Mas Wartoyo mengunjungi beberapa kampung dimana warga adat Sedulur Sikap dengan patuh pada prinsip dan nilai-nilai yang sudah menjadi warisan leluhur mereka. Kunjungan ini mulai di Sumber Balong tepatnya di Kabupaten Blora dimana Bapak Salim bersama keluarganya dan beberapa keluarga lainnya yang masih mempertahankan adat-istiadat Sedulur Sikap. Selama di Rumah Pak Salim, saya banyak mendapatkan pengetahuan yang baru mengenai kehidupan Masyarakat Adat Sedulur Sikep. Mulai dari urusan pertanian, hubungan antara manusia dengan semanya, hubungan dengan alam semesta, hubungan sang pencipta hingga kearifan lokal yang masih dipertahankan.

Dari diskusi di Rumah Pak Salim ini sampai sempat bertanya dalam hati kecil saya bahwa "sangat luar biasa, dalam era yang serba modern dan maju ini, Masyarakat Adat Sedulur Sikap masih bisa bertahan dengan beberapa prinsip hidup yang umumnya sudah sulit saya temukan di komunitas lainnya"............. diantaranya yang paling berkesan bagi saya adalah bahwa Masyarakat Adat Sedulur Sikap tidak boleh mengikuti salah satu agama diluar ajaran Sedulur Sikep, tidak boleh menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah formal, tidak boleh menggunakan celana panjang......

Kunjungan selanjutnya kami lanjukan ke Kemantren dan Tanduran, masih di Kabupaten Blora. Di kampung ini saya berdiskusi dengan Pak Tejo dan Sariman. Apa yang saya dengarkan di Kampung Sumber Balong ternyata juga masih sama. Disini mereka masih tetap patuh pada ajaran leluhur. Hidup sebagai petani adalah bagian dari ajaran leluhur yang harus diteruskan. Namun yang menjadi tantangan kemudian adalah, lahan pertanian yang semakin hari semakin berkurang tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Masyarakat Adat Sedulur Sikap. Apalagi ketiga kampung dimana terdapat warga adat Sedulur Sikap sudah mendapatkan ancaman baru yaitu semburan minyak akibat pengeboran minyak bumi di Blok Cepu.

Senin, 26 Januari 2015

Akses Jalan Raya Ke Seko Membutuhkan Perhatian

Gambar ini saya ambil tgl 26 Des 2014
pas dilokasi Mabusa
Pada tanggal 26 Desember 2014 saya berkesempatan untuk berkunjung ke Seko, tanah leluhur saya. Selain untuk melepas rindu sama ke dua orang tuaku yang tercinta bersama sanak-saudara, kunjungan yang saya lakukan selama satu pekan ini adalah untuk berdiskusi dengan keluarga seputar masalah dan tantangan yang sedang dihadapi.

Ternyata dari apa yang saya rasakan disaat kunjungan saya pada bulan Agustus 2014 yang lalu tidak banyak perubahan yang saya rasakan dengan kunjungan di akhir tahun 2014 ini. Dengan situasi ini, saya kemudian sering bertanya dalam hati kecil saya dan kepada orang-orang terdekat bahwa apa yang salah dengan situasi yang dialami oleh keluarga saya di Seko selama ini? Bukankah kami adalah bagian yang tidak terpisahkan dari NKRI? Kalau dilihat dari aspek administrasi pemerintahan ya......sudah pasti bahwa Seko adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan NKRI yang sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, 69 tahun yang silam. Tetapi kalau saya melihat dan menyaksikan kondisi layanan dasar yang diterima oleh rakyat di Seko yang sudah berpenduduk sekitar 14 ribuh jiwa (data tahun 2013) utamanya layanan transportasi, pendidikan dan kesehatan yaaa......masih jauh dari apa yang saya saksikan di wilayah-wilayah perkotaan dan desa-desa lain yang sudah saya jelajahi selama ini.

Dengan situasi ini, tentunya sebagai orang yang terus gelisah dengan penderitaan yang dialami oleh semua keluarga di Tanah Leluhur saya, sangat berharap melalui tulisan yang ringkas ini sebagai ungkapan keprihatinan terhadap penderitaan yang dihadapi oleh masyarakat adat di Seko bisa menggugah para pembaca utamanya yang memiliki akses untuk mendorong pembangunan yang berkeadilan di Seko kedepan.

PLTA Pembawa Nikmat atau Petaka bagi Masyarakat Adat di Seko?

Salah satu Patok rencana Pembangunan PLTA
oleh PT. SEKOPOWER PRIMA
Kehadiran PLTA di Seko Tengah tepatnya di wilayah adat Amballong, Pohoneang dan Hoyyane diawali dengan pemberian Izin Prinsip Usaha Penyediaan Tenaga Listrik kepada PT. Asripower yang dikeluarkarkan dengan Nomor 540/078/Distamben Luwu Utara pada tanggal 28 Desember 2012 dan Rekomendasi oleh Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Luwu Utatra Nomor: 540/219.A/Distamb tanggal 18 Juni 2014 perihal Rekomendasi Teknis Perpanjangan Izin Prinsip PT. Tirta Energi Cemerlang dan PT. Asripower. Oleh karena proses dan tahapan eksplorasi yang belum bisa diselesaikan, kemudian PT. Asripower mengajukan permohonan perpanjangan Izin Prinsip sekaligus Pemisahan Izin Prinsip Usaha Penyediaan Tenaga Listrik dan Perubahan Nama perusahaan dari PT. Asripower untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Seko-1 menjadi PT. SEKOPOWER PRIMA yang lokasinya berada di Wilayah Adat Amballong, Pohoneang dan Hoyyane dan dan Seko-2 menjadi PT. SEKOPOWER PRADA yang lokasinya ada di Wilayah Adat Beroppa’ dan Kariango.

Atas dasar permohonan dan rekomendasi dari Dinas Pertambangan dan Energi Luwu Utara ini, kemudian melalui Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu dan Penanaman Modal (BPPTSPM) Luwu Utara mengeluarkan Perpanjangan Izin Prinsip yang diajukan oleh PT. SEKOPOWER PRIMA melalui Nomor: 02080/00008/IP/BPPTSPM/VI/2014 dengan lokasi tepatnya pada titik kordinat: 119°50’28”BT, 02°19’48LS. Sementara untuk Power House direncanakan akan dibangun  di lokasi tepatnya pada titik kordinat: 119°41’21BT, 02°19’57”. Perpanjangan izin ini berlaku hingga tanggal 23 Juni 2015. Dalam dokumen perizinan ini tertera beberapa ketentuan antara lain bahwa pihak perusahaan dalam hal ini PT. SEKOPOWER PRIMA untuk menghargai hak-hak atas budaya dan adat istiadat yang berlaku disekitar lokasi kegiatan, melakukan pemberdayaan masyarakat yang berada disekitar linkungan rencana pembangunan PLTA, menjaga dan melestarikan lingkungan hidup serta ketentuan-ketentuan lainnya.

Hamparan sawah milik Masyarakat Adat Amballong
yang terancam kena dampak PLTA 
Dalam implementasinya, pihak PT. SEKOPOWER PRIMA didukung secara penuh oleh pemerintah mulai dari Bupati bersama Dinas Terkait, Camat hingga Kepala Desa. Kepercayaan diri pihak pemerimtah semakin kuat disaat kunjungan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, Bapak Syarul Yasin Limpo yang dilakukan di Eno (Ibu Kota) Kecamatan Seko pada bulan September 2014. Dengan dukungan dari pemerintah ini kemudian proses dan tahapan eksplorasi terus dilakukan oleh PT. SEKOPOWER PRIMA. Sejak perencanaan sampai izin eksplorasi ini dikeluarkan oleh pemerintah daerah Luwu Utara tidak ada proses yang dilakukan oleh pemerintah untuk meminta persetujuan dari Masyarakat Adat khususnya di Amballong, Pohoneang dan Hoyyane untuk memberikan wilayah adat mereka dijadikan sebagai lokasi PLTA melalui musyawarah adat atau yang dikenal dengan “Mukobo” yaitu proses pengambilan keputusan tertinggi yang sudah dipraktekkan secara turun-temurun. Karena pemerintah tetap memaksakan agar PLTA ini berjalan, sebagai dampaknya pada bulan September 2014 kemudian sekitar 500 warga adat di Pohoneang dan Hoyyane menanda tangani dan melayangkan surat protes yang ditujukan ke pemerintah sebagai bentuk penolakan terhadap kehadiran PLTA oleh PT. SEKOPOWER PRIMA.

Sejak bulan September 2014 inilah kemudian melalui Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tana Luwu kemudian melakukan penggalangan dukungan yang dilanjutkan dengan kunjungan dan konsolidasi ke Pohoneang pada bulan Oktober 2014. Melalui konsolidasi tersebut ditemukan beberapa keganjalan antara lain bahwa Masyarakat Adat khususnya di Pohoneang dan Hoyyane bingung dan belum mendapatkan informasi yang valid serta utuh baik dari pemerintah maupun dari pihak perusahaan tentang kehadiran PLTA di wilayah adat mereka. Akibatnya terjadi keresahan yang berujung pada ketidak pastian yang bisa berdampak terhadap konflik internal karena antara masyarakat adat adat bisa saling menuduh. Apalagi pihak pemerintah ditingkat desa belum memberikan sosialisasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan di wilayah adat. Hal inilah yang menjadi pemicu sehingga keresahan masyarakat adat utamanya di Pohoneang dan Hoyyane ini semakin meningkat.

Dengan tidak dilakukannya sosialisasi yang cukup oleh pemerintah apalagi meminta persetujuan dari masyarakat adat terhadap kehadiran PLTA ini, pada bulan Oktober 2014 kemudian masyarakat adat Pohoneang memberikan sangsi adat kepada pihak PLTA karena melakukan pemasangan patok di tanah adat tanpa melalui persetujuan dari masyarakat adat. Pemberian sangsi adat ini kepada pihak perusahaan kemudian dipolitisasi oleh pihak yang belum diketahui secara pasti dan melaporkan ke pihak Kepolisian melalui Polres Luwu Utara sebagai tindakan pemerasan yang dilakukan oleh masyarakat adat Pohonenang kepada pihak perusahaan. Laporan ini kemudian direspon oleh Polres Luwu Utara dengan memanggil 10 orang Masyarakat Adat untuk dimintai keterangan. Hingga laporan ini dibuat, pemanggilan terhadap 10 orang warga adat tersebut belum ada kejelasan yang resmi mengenai tindak lanjutnya.

Badan Sungai Betue di Wilayah Adat Amballong
yang akan jadi lokasi PLTA oleh PT. SEKOPOWER PRIMA
Pada tanggal 22 Desember 2014 pihak DPRD Luwu Utara menggelar acara dengar pendapat terkait dengan kehadiran PLTA oleh PT. SEKOPOWER PRIMA ini di Kantor DPRD Luwu Utara dengan menghadirkan pihak Pemerintah dan Dinas terkait di Luwu Utara, pihak keamanan, utusan dari Masyarakat Adat di Amballong, Pohonenang dan Hoyyane, undangan dari lembaga/organisasi terkait termasuk AMAN Tana Luwu. Dalam dialog ini terungkap beberapa masalah utama misalnya bahwa pihak perusahaan belum mengantongin izin AMDAL, belum dilakukannya persetujuan dari Masyarakat Adat yang wilayah adatnya masuk dalam lokasi eksplorasi PLTA. Bahkan terungkap bahwa SK Bupati Luwu Utara No. 300/2004 tentang Pengakuan Keberadaan Masyarakat Adat di Seko sebagaimana yang tertera dalam pasal 9 tidak dijalankan dengan baik.