Sabtu, 06 Desember 2014

SABAKI Menata Kekuatan Menuju Pengakuan

Tanggal 4 Desember 2014 bertempat di Wisma Sugi, Rangkas Bitung-Provinsi Banten saya berkesempatan berbagi dengan para tetua-tetua adat yang tergabung dalam Satuan Adat Banten Kidul atau yang dikenal dengan SABAKI bagiamana memperkuat Organisasi Masyarakat Adat. Kehadiran saya ditengah-tengah tetua adat SABAKI ini adalah bagian dari aktivitas yang sehari-hari saya geluti sebagai Aktivis Masyarakat Adat Nusantara yang terhimpun di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Perjalanan ke Rangkas Bitung ini saya ditemani oleh sesama anak adat masing-masing Riky (Bengkulu), Dimas (Meratus-Kalimantan Selatan) dan Rifai (Ngata Toro-Sulawesi Tengah). 

Pertemuan dimulai jam 21.00 WIB yang dihantarkan oleh Ketua SABAKI Bapak Sukanta yang menceritakan awal mula dan proses terbentuknya SABAKI sebagai wadah perjuangan Komunitas Masyarakat Adat yang diperkirakan sekitar 30an Kasepuhan dan tersebar di beberapa kabupaten mulai di Kabupaten Lebak, Suka Bumi, dan perlu diidendtifikasi lagi sehingga diketahui di Kabupaten mana lagi ada Masyarakat Adat. Saya cukup mengapresiasi pertemuan ini karena selain dimanfaatkan sebagai ruang untuk mendiskusikan bagaimana mewujudkan Kedaulatan Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam kedepan....tetapi juga menghadirkan Wakil Bupati Lebak, Ketua DPRD Lebak dan beberapa lembaga non pemerintah yang selama ini sudah menjadi mitra SABAKI yaitu RMI, HuMa dan Epistema. 

Beberapa isu-isu penting yang saya dapat rekam dari penuturan para tetua-tetua adat yang hadir dalam acara ini yang menurut saya urgen untuk direspon kedepan. Ada isu tentang ruang kehidupan Masyarakat Adat mulai dari wilayah/tanah adat, hak-hak atas sumber daya alam, partisipasi Masyarakat Adat dalam pembangunan. Masalah ekonomi juga menjadi penting seiring dengan semakin banyaknya keperluan warga adat yang mereka harus penuhi dengan menyediakan uang cash. Mulai urusan biaya pendidikan yang semakin mahal, pengaruh prilaku yang konsumtif hingga kebutuhan sehari-hari. Demikian halnya dengan penguatan kapasitas organisasi masyarakat adat sebagai payung gerakan dan perjuangan bersama untuk mendapatkan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak Masyarakat Adat dari Pemerintah.


Melalui kesempatan ini, dengan waktu yang diberikan ke saya untuk berbagi pengalaman AMAN bagaimana menata Organisasi sebagai wadah perjuangan Masyarakat Adat, ada beberapa hal yang harus dipastikan oleh saudara-saudaraku sesama Masyarakat Adat di SABAKI ini kedepan: (1).  Bahwa RIUNGAN SESEPUH atau yang umumnya dikenal dengan istilah MUSYWARAH ADAT adalah merupakan sistim pengambilan keputusan tertinggi yang sudah berlangsung secara turun-temurun  dan telah dijalankan oleh komunitas-komunitas yang ada di Banten Kidul. (2). Oleh karena saat ini Masyarakat Adat sebagian besar masih berjuang secara sendiri-sendiri, dengan demikian harus dipastikan ada wadah perjuangan bersama yang disepakati dan mendapatkan legitimasi yang kuat dari semua komunitas yang ada di SABAKI serta memiliki jaringan dan dukungan publik secara luas. 

Tidak ada komentar: