Rabu, 17 Desember 2014

Berbagi Cerita dan Pengalaman Pemberdayaan Masyarakat Adat dengan Kemendagri

Hari Rabu, tanggal 17 Desember 2014, saya dan teman-teman dari Urusan Pemberdayaan dan Pelayanan Masyarakat Adat, Pengurus Besar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PB AMAN) masing-masing; Rina Agustine (Manager Gerai Nusantara), Feri Nur Oktaviani (Divisi pengadaan dan  Pengembangan Produk Masyarakat Adat) dan Agung Fajar (Manager Koperasi AMAN Mandiri), diundang untuk berbagi cerita dan pengalaman oleh Bpk. Aferi S. Fudhail, Direktur Pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat, Kemendagri.

Pertemuan berlangsung di Lt.3, Gedung C, Pemberdayaan Masyarakat Desa,  Pasar Minggu Jakarta. Berlangsung dari jam 10.00 s/d 11.30 WIB. Bpk. Aferi S. Fudhail, didampingi oleh 5 Kasubdit (yaitu Kasubdit Pangan, Kasubdit Kredit dan Simpan Pinjam, Kasubdit Pengadaan dan pemasaran produk masyarakat dan Kasubdit Usaha Keluarga dan Kasubdit Ekonomi Pedesaan dan masyarakat tertinggal).

Pertemuan ini saya dan teman-teman dari AMAN berbagi cerita dengan Bapak Aferi bersama 5 Kasubdit dilingkungan Direktorat Urusan Ekonomi Masyarakat, Kementerian Dalam Negeri seputar urusan pemberdayaan ekonomi Masyarakat Adat. Proses ini saya jalani dengan sangat senang, paling tidak cerita dan proses-proses pemberdayaan ekonomi Masyarakat Adat yang sudah dijalankan oleh AMAN selama ini mendapatkan apresiasi yang positif dari Pemerintah. Setidaknya ada 2 (dua) point yang menjadi peluang untuk dikembangkan menjadi kerjasama program dengan AMAN kedepan bersama Kemendagri melalui upaya pengembangan produk-produk yang bisa menjamin kelestarian budaya Masyarakat Adat dan melalui peningkatan kapasitas masyarakat adat termasuk kegiatan pendampingan yang bentuk kegiatannya bisa dirumuskan kemudian secara bersama oleh AMAN dan Kemendagri. 

Sabtu, 13 Desember 2014

Dulu Kami Bisa Hidup Damai, Sekarang....???

Bapak Andijaku yang sudah berumur paruh bayah ini menuturkan bagaimana pengalaman Masyarakat Adat di Kasepuhan Kampung Pasir Eurih, Banten Kidul ini menuturkan keresahannya di tengah-tengah peserta Konsolidasi Masyarakat Adat dan Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Se-Region Jawa ini, Pak Andijaku menuturkan "Kami Masyarakat Adat Kasepuhan Kampung Pasir Eurih secara turun-temurun merasakan kehidupan yang penuh kedamainan, hidup teratur dan tentram, mengurus hutan dengan baik sesuai hukum adat dan kearifan lokal yang kami miliki....sejak Kehutanan masuk.....kami kehilangan segalanya....hutan adat kami yang sejak nenek moyang kami diurus dengan baik....sekarang malah mendapatkan ancaman untuk dikriminalisasi karena mau mengurus hutan adat kami..."

Wah.....kalau ini yang terjadi di Bangsa yang nota bene dibentuk oleh Keberagaman Budaya Masyarakat Adat Nusantara dengan Motto "BHINEKA TUNGGAL IKA" seharusnya tidak terjadi. Semoga saja para penyelenggara negara bisa mendengar dan memastikan bahwa NEGARA hadir di Komunitas-Komunitas Masyarakat Adat Nusantara sesuai amanta Konstitusi UUD 1945. Pengalaman buruk yang dialami oleh Masyarakat Adat Sobang di Banten Kidul ini jangan lagi terjadi dan harus segera diakhiri.

Rabu, 10 Desember 2014

Nikmatnya Diselimuti Kabut di Puncak Pas, Bogor

Tepatnya tanggal 8-9 Desember 2014 saya berkesempatan untuk menikmati cuaca dingin di Puncak Pas Resort, Bogor.

Bagi orang yang tidak terbiasa akan merasakan kedinginan yang cukup ekstrim. Saya saja yang sejak kecil hidup di kampung yang cukup dingin, saat bermalam di Puncak Pas Bogor merasa kedinginan. Untungnya saya sudah siap dengan jaket dan baju yang bisa membantu menahan rasa dingin.

Saya sangat senang, paling tidak dimalam harinya saya merasakan seperti di kampung sendiri yang bisa bakar api di dalam kamar tidur untuk membantu menghangatkan badan. Bedanya kalau di Kampung sendiri dapurnya multi fungsi, mulai dari masak nasi, sayur-sayuran, masak air, bakar ubi hingga bisa buat asap daging atau ikan.

Nah kalau di Puncak Pas Resort ini hanya buat menghangatkan badan dan tentunya bisa bakr jagung, ubi, talas.

Sabtu, 06 Desember 2014

SABAKI Menata Kekuatan Menuju Pengakuan

Tanggal 4 Desember 2014 bertempat di Wisma Sugi, Rangkas Bitung-Provinsi Banten saya berkesempatan berbagi dengan para tetua-tetua adat yang tergabung dalam Satuan Adat Banten Kidul atau yang dikenal dengan SABAKI bagiamana memperkuat Organisasi Masyarakat Adat. Kehadiran saya ditengah-tengah tetua adat SABAKI ini adalah bagian dari aktivitas yang sehari-hari saya geluti sebagai Aktivis Masyarakat Adat Nusantara yang terhimpun di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Perjalanan ke Rangkas Bitung ini saya ditemani oleh sesama anak adat masing-masing Riky (Bengkulu), Dimas (Meratus-Kalimantan Selatan) dan Rifai (Ngata Toro-Sulawesi Tengah). 

Pertemuan dimulai jam 21.00 WIB yang dihantarkan oleh Ketua SABAKI Bapak Sukanta yang menceritakan awal mula dan proses terbentuknya SABAKI sebagai wadah perjuangan Komunitas Masyarakat Adat yang diperkirakan sekitar 30an Kasepuhan dan tersebar di beberapa kabupaten mulai di Kabupaten Lebak, Suka Bumi, dan perlu diidendtifikasi lagi sehingga diketahui di Kabupaten mana lagi ada Masyarakat Adat. Saya cukup mengapresiasi pertemuan ini karena selain dimanfaatkan sebagai ruang untuk mendiskusikan bagaimana mewujudkan Kedaulatan Masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam kedepan....tetapi juga menghadirkan Wakil Bupati Lebak, Ketua DPRD Lebak dan beberapa lembaga non pemerintah yang selama ini sudah menjadi mitra SABAKI yaitu RMI, HuMa dan Epistema. 

Beberapa isu-isu penting yang saya dapat rekam dari penuturan para tetua-tetua adat yang hadir dalam acara ini yang menurut saya urgen untuk direspon kedepan. Ada isu tentang ruang kehidupan Masyarakat Adat mulai dari wilayah/tanah adat, hak-hak atas sumber daya alam, partisipasi Masyarakat Adat dalam pembangunan. Masalah ekonomi juga menjadi penting seiring dengan semakin banyaknya keperluan warga adat yang mereka harus penuhi dengan menyediakan uang cash. Mulai urusan biaya pendidikan yang semakin mahal, pengaruh prilaku yang konsumtif hingga kebutuhan sehari-hari. Demikian halnya dengan penguatan kapasitas organisasi masyarakat adat sebagai payung gerakan dan perjuangan bersama untuk mendapatkan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak Masyarakat Adat dari Pemerintah.


Melalui kesempatan ini, dengan waktu yang diberikan ke saya untuk berbagi pengalaman AMAN bagaimana menata Organisasi sebagai wadah perjuangan Masyarakat Adat, ada beberapa hal yang harus dipastikan oleh saudara-saudaraku sesama Masyarakat Adat di SABAKI ini kedepan: (1).  Bahwa RIUNGAN SESEPUH atau yang umumnya dikenal dengan istilah MUSYWARAH ADAT adalah merupakan sistim pengambilan keputusan tertinggi yang sudah berlangsung secara turun-temurun  dan telah dijalankan oleh komunitas-komunitas yang ada di Banten Kidul. (2). Oleh karena saat ini Masyarakat Adat sebagian besar masih berjuang secara sendiri-sendiri, dengan demikian harus dipastikan ada wadah perjuangan bersama yang disepakati dan mendapatkan legitimasi yang kuat dari semua komunitas yang ada di SABAKI serta memiliki jaringan dan dukungan publik secara luas. 

Rabu, 03 Desember 2014

Kesempatan Berdiskusi dengan Ibu Siti Nurbaya Bakar

Tanggal 1 Desember 2014 bertempat di Gedung Manggala Wanabakti Lt.4 di Ruang Kerja Ibu Siti Nurbaya Bakar yang diberi mandat oleh Presiden Joko Widodo masuk dalam Kabinet Kerja sebagai Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saya mendapatkan kesempatan untuk mendampingi Bapak Abdon Nababan (Sekjen AMAN) bersama kawan-kawan dari AMAN antara lain; Bapak Mirza Indra, Erasmus Cahyadi, Abdi Akbar, Hariyanto, Fadhel Achmad dan ditemani oleh dua orang dari Komunitas Anggota AMAN, Pak Yosep Danur (Komunitas Colol, Manggarai NTT) dan Pak Albertus Matius (Ketemenggungan Nangasiyai, Melawi-Kalimantan Barat). Dalam kesempatan beraudiensi dengan Ibu Siti Nurbaya ini juga turut hadir sahabat yang juga senior saya adalah Ibu Nur Amalia, politisi dari Partai NasDem.

Selama proses audiensi yang memakan waktu sekitar 50 menit yang dimulai dari pukul 17.25 dan berakhir pada pukul 18.15 WIB, saya berusaha untuk terus mencermati pernyataan yang disampaikan oleh Ibu Menteri dihadapan delegasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Ada tiga isu-isu penting yang saya tangkap selama audiensi ini berlangsung antara lain; (1). Bahwa Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 35/PUU-X/2012 adalah merupakan agenda yang perlu direspon pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2). Untuk isu-isu mengenai regulasi di daerah menjadi penting untuk dilakukan pengawalan. Ini penting mengngat UU No. 41/1999 menjadi salah satu syarat mutlak yang harus didapatkan oleh Masyarakat Adat untuk mendapatkan hak-hak adat atas hutan adatnya. (3). Sebaiknya Masyarakat Adat melalui AMAN perlu melakukan pertemuan yang lebih luas dan dihadiri oleh aktor-aktor utama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mendiskusikan dan merancang agenda aksi yang bisa dilakukan dalam mendorong percepatan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak Masyarakat Adat kedepan.

Diakhir pertemuan ini saya cukup berbahagia paling tidak dengan sambutan yang sangat akrab dari Ibu Siti Nurbaya Bakar, saya mendapat kesempatan untuk selvie bersama sambil bersalaman....

Selasa, 02 Desember 2014

Sambut Mentari Pagi di Teluk Dore-Makbon, Sorong

Tanggal 30 Nopember 2014, saya bersama Bang Abdon Nababan (Sekjen AMAN), Rainny Situmorang, Nura Batara (seorang teman anak adat dari Tana Toraja) dan teman-teman dari Sorong antara lain Kostan Mangablo (Ketua AMAN Sorong Raya) dan Fence Kalami (Ketua AMAN Sorong/Malamoi) dan kawan-kawan lainnya yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu mendapatkan kesempatan untuk menyambut Mentari Pagi di Teluk Dore, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong-Papua Barat. Star awal kami lakukan dari Hotel Meridien Kota Sorong seitar pukul 05.00 WIT dengan menempuh perjalanan sekitar 80 Km. Tepat pukul 06.30 WIT kami tiba di Kampung Kuadas dengan tidak mau kehilangan momentum langsung berebutan untuk ngambil gambar. Tidak ketinggalan saya ikut semangat dan minta ke Paul (driver) yang mengantar kami untuk memotret diatas pohon yang sudah tumbang diatas pantai. Walaupun sebelumnya di Jembatan Warsamsum saya dan kawan-kawna sudah mengabadikan pemandangan indah dan mempesona perpaduan antara sungai dan hutan tropis yang sangat mengagumkan.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Malaumkarta dan setelah ngobrol sejenek dengan warga ditemani satu ceret kopi hitam asli Papua dan berkesempatan untuk belajar membuat NOKEN dari Mama-Mama serta cerita-cerita tentang kehidupan Orang Malaumkarta. Kemudian sekitar pukul 09.00 WIT kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Um atau yang juga terkenal dengan sebutan Pulau Kelelawar dengan menggunakan perahu kayu. Disebut Pulau Kelelawar karena ada ribuan kelelawar yang tinggal disana dan bergantungan di pepohonan. Sehingga bunyi kelelawar ini mendominasi bunyi-bunyian yang didengar oleh para pengunjung yang sempat ke Pulau Um.

Selama di Pulau Um, saya dan kawan-kawan memanfaatkan momentum ini dengan beberapa aktivitas mulai dari mandi sambil menyelam menyaksikan karag, beragam ikan laut yang hidup disekitar pulau Um ini dan saya juga menyempatkan untuk berjalan kaki sesekali menyempulung di air laut yang jernih mengelilingi Pulau Um. Tidak hanya itu, saya juga menyempatkan diri untuk berlompat dari atas perahu ke laut kemudian main pasir dan mengamati kehidupan kelelawar yang asyik bergantungan di pohon.

Saat jarum jam sudah menunjuk angka 11.30 siang, kami sudah bergegas kembali ke Sorong agar tidak ketinggalan pesawat yang akan kami tumpangi ke Jakarta pada pukul 16.05 WIT. Rasanya masih ingin meninkmati keindahan alam ini tapi apa daya waktu yang membatasi............semoga saja dilain kesempatan bisa kembali.......Oh indahnya negeriku.........