Minggu, 23 November 2014

Seko Terus Dikepung Eksploitasi

Kami To Seko sudah punya pengalaman bagaimana Hak Pengelolaan Hutan (HPH) oleh PT. Kendari Tunggal Timber (KTT) tahun 1994, HGU PT. Seko Fajar (1992an sampai sekarang/2014 masih terus eksis) dan saat ini (mulai 2013) ada PLTA oleh PT. Seko Power dan tentunya beberapa rencana konsesi tambang yang sedang berproses adalah ancaman yang terus untuk berusaha mengeksploitasi sumber daya alam Warisan Leluhur kami di Seko. Semoga pengalaman ini bisa memberi kesadaran bagi semua keluarga To Seko baik yang ada di kampung maupun yang sedang di tanah rantau bahwa pembangunan yang berbasis eksploitatif dan punya daya keruk yang besar unjung-ujungnyanya adalah Kita (To Seko) saat mau menuntut hak-hak akan berhadapan yang namanya kriminalisasi. Akibatnya To Seko akan menjadi PENCURI DI TANAH LELUHUR SENDIRI. 

Berhati-hatilah dengan tawaran atau iming-iming untuk mendapatkan lowongan kerja di perusahaan. Kenapa? Tidak mungkin semua warga To Seko yang penduduknya ±14.000 jiwa semuanya mau jd karyawan. Kalau pun ada sudah pasti akan banyak yang jadi buruh kasar dan bukan sebagai karyawan yang punya otoritas sebagai pengambil keputusan. Untuk itu saya mengajak kalau memang keluarga To Seko tidak sabar lagi untuk kaya, kenapa tidak potensi sumber daya alam yang ada di Tanah Leluhur Kita direncanakan secara baik-baik untuk kita kelola sendiri. Sudah pasti dijamin sustainable, hukum adat akan menjadi payung pengelolaannya dan kita bisa Berdaulat mengurusnya. Jadi bukan aturan yang dibawah oleh orang luar yang akan mengatur To Seko yang secara turun-temurun sudah berdaulat secara politik dalam mengurus dirinya. Tentunya sesuai perundang-undangan dan peraturan pemerintah yang ada. Ini pasti menjadi tantangan kita semua. Sehingga dengan demikian kita harus bisa melakukan analisis peluang-peluang usaha atas kekayaan alam kita. Mana yang kita dahulukan untuk dikelola, mana yang dicadangkan untuk anak cucu kita ribuan tahun mendatang. Ini akan kuat kalau dilakukan dengan cara musyawarah adat atau yang kita kenal dengan nama MUKOBU/MUKOBO/MA'BUA KALEBU, dll.

Disini saya menekankan bahwa kita tidak anti yang namanya pembangunan...tapi kita harus belajar dengan komunitas-ku,unitas lain diluar Seko yang harus kehilangan segalanya bahkan nyawa juga dipertaruhkan karena mempertahankan dan menuntut hak-hak adatnya. Tentunya kita tidak ingin ada darah apalagi nyawa keluarga yang melayang karena mempertahankan hak. Kenapa? Kebijakan sesuai amant Konstitusi UUD 1945 sudah dengan tegas mengakui Masyarakat Adat dan beberapa UU/Kebijakan turunannya. Dengan demikian tugas berat kita saat ini adalah mengingatkan Pemerintah atas hal ini. Memberikan pemahaman yang kritis bagi semua elemen-elemen Masyarakat Adat di Seko dan terus saling mengingatkan terhadap sesama keluarga akan pentingnya membicarakan kehidupan jangka pendek, menengah dan panjang hingga ribuan tahun kedepan. 

Salam perjuangan dari Bogor untuk kita semua. Semoga Para LELUHUR KITA tetap bersama Kita dalam perjuangan ini.

Tidak ada komentar: