Kamis, 23 Oktober 2014

Orang Seko dan Kain Kulit Kayunya

SUMASA atau membuat kain dari kulit kayu yang dalam bahasa lokal disebut dengan ani adalah salah satu kearifan lokal warisan leluhur bagi To Seko. Sebelum Orang Seko mengenal kain, sebagian besar perempuan di Seko memiliki kemampuan untuk membuat kain kulit kayu atau Sumasa. Kain dari kulit kayu ini fungsi utamanya adalah sebagai bahan untuk membuat baju, rok, celana, kelambu dan selimut. Orang Seko khususnya di Hono’ dan Lodang sebelum Kolonial Belanda menginjakkan kakinya yang pertama sekitar 1920-an, ani inilah yang dijadikan sebagai bahan utama pengganti kain. Karena kulit kayu ani ini yang sangat kuat, bagi Orang Seko juga dimanfaatkan untuk bahan tambahan untuk bakul, tikar dan anyaman-anyaman lainnya.

Ini salah satu potensi ekonomi yang berpeluang untuk dikembangkan kedepan. Kegiatan ini sudah hampir sulit ditemukan lagi kecuali di Lodang. Orang Seko yang memiliki kemampuan untuk memproduksi kani kulit kayu ini tinggal dihitung jari. Yang paling memprihatinkan lagi karena perempuan yang memiliki kemampuan membuat kain kulit kayu ini umumnya sudah berumur rata-rata 60an tahun keatas. Tidak hanya sumber daya manusia saja yang terancam punah tetapi ketersediaan pohon ani "dalam bahasa lokal" sebagai bahan baku untuk membuat kain kulit kayu ini sudah sulit ditemukan.


Padahal kain kulit kayu ini bisa saja dikembangkan untuk pembuatan hiasan dinding dengan ukiran khas Seko, aneka ragam tas dan produk-produk lainnya yang bisa memberikan nilai tambah bagi pengembangan ekonomi masyarakat adat di Seko. Tantangannya kemudian adalah bagaimana ada proses transfer pengetahuan kepada generasi muda yang didukung oleh kesadaran dari masyarakat adat dan pemerintah setempat. Dengan demikian, upaya untuk mewujudkan masyarakat adat yang mandiri secara ekonomi dan bermartabat secara budaya secara pelan-pelan bisa diperkuat.  

Tidak ada komentar: