Minggu, 26 Oktober 2014

Susunan Kabinet KERJA Joko Widodo-Jusuf Kalla

Berikut 34 nama-nama menteri dalam kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk Periode Pemerintahan 2014-2019 adalah sbb:

1. Menteri Sekretaris Negara: Prof. Dr. Pratikno (Rektor UGM)
2. Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago (Ahli kebijakan publik dan anggaran)
3. Menteri Kemaritiman: Indroyono Soesilo (Praktisi)
4. Menko Politik Hukum dan Keamanan: Tedjo Edy Purdjianto (Mantan KSAL)
5. Menko Perekonomian: Sofyan Djalil (ahli ekonomi)
6. Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani (PDIP)
7. Menteri Perhubungan: Ignatius Jonan (Dirut PT KAI)
8. Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti (Wirausahawati)
9. Menteri Pariwisata: Arief Yahya (Profesional)
10. Menteri ESDM: Sudirman Said
11. Menteri Dalam Negeri: Tjahjo Kumolo (PDI Perjuangan)
12. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Priansari Marsudi (Dubes RI di Belanda)
13. Menteri Pertahanan: Ryamizard Ryacudu (mantan KSAD)
14. Menteri Hukum dan Ham: Yasonna H.Laoly (PDI Perjuangan)
15. Menkominfo: Rudi Antara (profesional)
16. Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Yuddy Chrisnandi (Nasdem)
17. Menteri Keuangan: Bambang Brodjonegoro (ekonom)
18. Menteri BUMN Rini M.Soemarno (mantan Ketua Tim Transisi/mantan menteri perindustrian)
19. Menteri Koperasi dan UMKM: Puspayoga
20. Menteri Perindustrian: Saleh Husin (Hanura)
21. Menteri Perdagangan: Rahmat Gobel (profesional)
22. Menteri Pertanian: Amran Sulaiman (praktisi)
23. Menteri Ketenagakerjaan: Hanif Dhakiri (politisi)
24. Menteri PU dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono (birokrat)
25. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya (Nasdem)
26. Menteri Agraria dan Tata Ruang: Ferry Musyidan Baldan (Nasdem)
27. Menteri Agama: Lukman Hakim Saifudin (PPP)
28. Menterni Kesehatan: Nila F Moeloek (profesional)
29. Menteri Sosial: Khofifah Indra Parawansa (tokoh Muslimah NU)
30. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan anak: Yohanan Yambise
31. Menteri Budaya Dikdasmen: Anies Baswedan (mantan Tim Transisi)
32. Menristek dan Dikti: M.Nasir (Rektor Undip)
33. Menpora: Imam Nahrawi (politisi)
34. Menteri PDT dan Transmigrasi: Marwan Jafar (PKB)

Kamis, 23 Oktober 2014

Orang Seko dan Kain Kulit Kayunya

SUMASA atau membuat kain dari kulit kayu yang dalam bahasa lokal disebut dengan ani adalah salah satu kearifan lokal warisan leluhur bagi To Seko. Sebelum Orang Seko mengenal kain, sebagian besar perempuan di Seko memiliki kemampuan untuk membuat kain kulit kayu atau Sumasa. Kain dari kulit kayu ini fungsi utamanya adalah sebagai bahan untuk membuat baju, rok, celana, kelambu dan selimut. Orang Seko khususnya di Hono’ dan Lodang sebelum Kolonial Belanda menginjakkan kakinya yang pertama sekitar 1920-an, ani inilah yang dijadikan sebagai bahan utama pengganti kain. Karena kulit kayu ani ini yang sangat kuat, bagi Orang Seko juga dimanfaatkan untuk bahan tambahan untuk bakul, tikar dan anyaman-anyaman lainnya.

Ini salah satu potensi ekonomi yang berpeluang untuk dikembangkan kedepan. Kegiatan ini sudah hampir sulit ditemukan lagi kecuali di Lodang. Orang Seko yang memiliki kemampuan untuk memproduksi kani kulit kayu ini tinggal dihitung jari. Yang paling memprihatinkan lagi karena perempuan yang memiliki kemampuan membuat kain kulit kayu ini umumnya sudah berumur rata-rata 60an tahun keatas. Tidak hanya sumber daya manusia saja yang terancam punah tetapi ketersediaan pohon ani "dalam bahasa lokal" sebagai bahan baku untuk membuat kain kulit kayu ini sudah sulit ditemukan.


Padahal kain kulit kayu ini bisa saja dikembangkan untuk pembuatan hiasan dinding dengan ukiran khas Seko, aneka ragam tas dan produk-produk lainnya yang bisa memberikan nilai tambah bagi pengembangan ekonomi masyarakat adat di Seko. Tantangannya kemudian adalah bagaimana ada proses transfer pengetahuan kepada generasi muda yang didukung oleh kesadaran dari masyarakat adat dan pemerintah setempat. Dengan demikian, upaya untuk mewujudkan masyarakat adat yang mandiri secara ekonomi dan bermartabat secara budaya secara pelan-pelan bisa diperkuat.  

Selasa, 07 Oktober 2014

MASYARAKAT ADAT MINTA KE JOKOWI-JK BUBARKAN KEMENHUT

KEMENTERIAN KEHUTANAN adalah salah satu Kementerian yang paling banyak masalah dan berkonflik dengan Masyarakat Adat sejak NKRI ini terbentuk. Dalam perjalanannya, sejak tahun 1999 Masyarakat Adat melalui Kongres Masyarakat Adat Nusantara Pertama (KMAN I) sudah secara tegas meminta ke Pemerintah untuk segera merevisi kebijakan yang terkait dengan kehutnanan. Namun sangat disayangkan eksistensi hutan adat yang diatur melalui UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dinilai memberikan pengakuan terhadap Hak-Hak Masyarakat Adat masih setengah hati.

Kondisi tersebut diatas, oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara bersama Masyarakat Adat Kasepuhan Cisitu, Lebak – Banten dan Masyarakat Adat Kuntu, Kampar – Riau menempuh perjuangan untuk mendapatkan sebuah keadilan hukum dengan mengajukan permohonan peninjauan ulang terhadap UU No. 41/1999 melalui Mahkamah Konstitusi (MK). Perjuangan ini cukup berhasil walaupun semua perubahan pasal-pasal yang dimohonkan oleh masyarakat adat dalam UU No. 41/1999 tersebut hanya sebagian yang dikabulkan seperti yang dituangkan melalui keputusan MK No. 35/PUU-X/2012.


Akan tetapi dalam implementasinya, Masyarakat Adat yang tersebar diseluruh pelosok Republik Indonesia ini menilai bahwa KEMENTERIAN KEHUTANAN gagal mengimplementasikan amanat Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) No. 35/PUU-X/2012 dan Menjalankan Amanat Presiden (AMPRES) 2012 sebagai Koordinator Tim Pemerintah untuk Pembahasan RUU Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Hukum Adat (RUUPPHMHA) bersama Pansus yang sudah dibentuk oleh DPR RI. Hingga masa tugas anggota DPR RI Periode 2009-2014 berakhir RUUPPHMHA ini gagal di undangkan karena salah satu penyebab utamanya adalah Kementerian Kehutanan yang jadi Ketua Tim Pemerintah tidak serius............. baca juga di http://www.aman.or.id/2014/10/06/siaran-presskelambanan-kemenhut-penyebab-gagalnya-pengesahan-ruupphma/ 

Sudah saatnya kita meminta ke Pemerintah Jokowi-JK untuk Bubabarkan #KEMENHUT

Kamis, 02 Oktober 2014

Pulang Kampung 2014

Memanfaatkan liburan hari raya Idul Fitri 2014, saya bersama keluarga masing-masing Rante Mustafa (Sang Istri Tercinta) bersama ke dua putri kami tersayang Nabila Putri Azzahra dan Tamelai Tri Ramadhani memulai perjalanan dari Bogor pada tanggal 19 Juli 2014. Kami berangkat dari Bogor sekitar pukul 20.45 WIB dan tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sekitar pukul 22.50 WIB dengan menggunakan taxi Bluebird. Kami tidak mau berlama-lama dan langsung chek ini di Terminal 1B dengan menggunakan maskapai penerbangan Sriwijaya Air. Tepat pukul 00.50 pesawatnya sudah take of dari Bandara Internaional Soekarno-Hatta dan Alhamdulillah bisa mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makasar pada pukul 03.55 WITA dipagi hari tanggal 20 Juli 2014. Setelah mengambil bagasi kemudian kami keluar di pintu kedatangan dan langsung mencari restoran untuk makan sahur. Setelah sahur selesai kemudian kami menuju Hotel Transit Makassar untuk beristirahat sejenak.

Tepat pukul 12.45 waktu Makassar, kami sudah dijemput oleh Pak Ismail yang akan menemani kami selama perjalanan dari Makassar ke Masamba melalui Kota Bone dengan tujuan mengunjungi keluarga. Dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan, saat perjalanan menuju Bone sesampai di lokasi wisata air terjun Maros Nabia dan Amel minta untuk menikmati indahnya air terjun. Kesempatan ini benar-benar dimanfaatkan oleh kami sekeluarga dan Nabila sama Amel yang tidak tahan lagi melihat air yang jernih dan mengalir deras...langsung nyemplung. Sekitar jam 15 sore baru melanjutkan perjalanan ke Bone. Singkat cerita, di Bone kami bermalam dan mengagendakan setelah makan sahur langsung melanjutkan perjalanan ke Masamba.

Tanggal 21 Juli 2014 sekitar pukul 11.20 kami naik pesawat Aviastar dari Bandara Masamba ke Seko yang memakan waktu sekitar 25 menit dan bisa menikmati ragam pemandangan mulai dari pesisir, swah, sungai, pemukiman, hutan, padang savanna hingga kerbau yang asyik makan rumput. Alhamdulillah saat mendarat di Bandara Seko tepatnya di Kampung Eno langsung ambil gaya disamping pesawat Aviastar dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat membahagiakan ini karena bisa menghantarkan untuk berkunjung ke Tana Leluhur.

Selama 15 hari saya bersama Sang Istri tercinta Rante Mustafa dan kedua putriku tersayang Nabila Putri Azzahra dan Tamelai Tri Ramadhani tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan berusaha untuk sedapat mungkin bisa menikmati kehidupan yang pernah saya rasakan dimasa-masa kecil. Beberapa kegiatan yang saya rindukan semasa kecil adalah naik rakit atau dalam bahasa Seko Padang disebut dengan muraki’  yaitu salah satu alat transportasi tradisional yang fungsi utamanya juga dipakai untuk mengangkut bahan bangunan dan bahan-bahan pangan lainnya. Selama di Seko saya bersama keluarga menyempatkan diri untuk menangkap ikan di kolam dengan menggunakan alat tradisional yang dikenal dengan sango’, memetik coklat dikebun hinggga memberi makan garam kerbau di padang.

Salah satu kegiatan yang paling saya rindukan yang saya alamai dimasa-masa kecil adalah menghangatkan badan dipagi hari sambil menunggu sang mentari terbit dengan menggunakan api baik dihalaman rumah maupun didapur. Kegiatan ini dikenal dengan mamminnu selain menghangatkan badan biasanya juga dilengkapi dengan bakar pisang, ubi, jagung dan tentunya dengan meneguk kopi hitam sambil bercerita tentang kehidupan dan biasanya momentum mamminnu ini dimanfaatkan juga untuk mendiskusikan rencana-rencana dan kegiatan yang akan dilakukan.