Senin, 08 September 2014

Jembatan Rotan “Kati” Bagi To Seko di Luwu Utara

Bagi Masyarakat Seko, jembatan gantung yang terbuat dari rotan adalah salah satu prasarana pendukung utama dalam menjalankan aktivitas perekonomian dan memperlancar perjalanan anak-anak ke sekolah. Sebelum tahun 1980an, bahan baku untuk jembatan gantung sekitar 95% bersumber dari rotan. Dan sekitar 5 % adalah bambu atau papan yang dipakai sebagai alasnya untuk pijakan kaki. Di Seko, Jembatan gantung termasuk yang terbuat dari rotan ini dikenal dengan “Kati”.

Pengalaman pribadi saya di tahun 1978-1983 saat masih dibangku sekolah dasar, karena belum ada sarana transportasi dan kalau ke sekolah harus berjalan kaki sekitar 8 km dan melewati jembatan gantung.....rata-rata jam 5 pagi sudah harus berangkat dari rumah. Untuk mengantisipasi agar tidak kelaparan dalam perjalanan, saya harus membawa bekal karena rata-rata jam 5 sore baru bisa nyampai rumah.  
Masyarakat Seko membangun jembatan gantung “Kati” ini dengan cara swadaya dan dilakukan secara gotong-royong atau dikenal dalam bahasa Seko Padang “Sidului”. Saya masih ingat saat masih kecil sekitar tahun 1975an saat menyiapkan rencana pembuatan jembatan gantung biasanya diawali dengan musyawarah kampung atau yang dikenal dengan “Mukobu” yang dihadiri oleh tetua adat, tetua kampung, perempuan, pemuda, pemerintah setempat dan tokoh agama. Melalui musyawarah inilah kemudian disepakati siapa yang harus ke hutan untuk mengambil rotan,dan yang harus menyiapkan kayu untuk dijadikan tiang, bambu serta bahan-bahan pendukung lainnya. Saat hari yang ditentukan sudah tiba, pagi-pagi sekitar jam 6 kepala dusun sudah membunyikan lesung jawa atau kami kenal dengan istilah “Isong Jawa” untuk mengingatkan warga bahwa akan ada gotong royong.   

Mengingat pentingnya jembatan gantung ini sebagai penunjang utama aktivitas masyarakat di Seko, sudah menjadi keharusan untuk merawatnya. Perawatan ini biasanya dilakukan secara gotong royong dan dilakukan secara rutin antara 3-6 bulan sekali atau disesuaikan dengan kondisi jembatan gantungnya.

Pada tahun 1990an sampai sekarang sebagian jembatan gantung sudah mulai dipadukan dengan kawat licin sehingga daya tahannya lebih awet. Bahkan beberapa jembatan gantung sudah diganti dengan jembatan semi permanen yang terbuat dari beton dan tali sling baja sehingga baik kuda maupun kendaraan beroda dua sudah bisa lewat.

Tidak ada komentar: