Selasa, 19 Agustus 2014

Talukung dalam Sistim Kedaulatan Pangan Orang Seko

Bagi masyarakat adat yang ada di Kecamatan Seko Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan, terutama di wilayah adat Hono’, Lodang dan Turong Talukung  atau yang lebih dikenal secara umum di Indonesia dengan sebutan lumbung adalah merupakan salah satu pendukung utama dalam mempertahankan kedaulatan pangan yang sudah dipraktekkan secara turun-temurun. Talukung ini terbuat dari batang palem (banga) atau dalam bahasa lokal dikenal dengan nama salihoa yang sudah tua.

Dalam sejarah yang mencertitakan tentang kehidupan Orang Seko, Talukung adalah salah satu aspek terpenting dalam menata sistim kedaulatan pangan.  Untuk itulah maka orang Seko dalam setiap rumah tangga rata-rata memiliki 2-4 Talukung bahkan ada yang lebih. Dengan ketersediaan penyimpangan padi yang terbaik inilah yang menjadikan umur padi yang disimpan di dalam Talukung bisa menjadi tahan lama dan bahkan ada yang umurnya sudah mencapai 25-30 tahun.


Untuk itu, posisi Talukung harus ditempatkan pada daerah-daerah yang paling strategis, aksebilitas yang mudah dari ladang dan sawah serta mudah dikontrol dari segala kemungkinan terkena dampak bencana alam baik banjir, longsor ataupun kebakaran. 

Talukung selain berfungsi untuk menyimpan padi, juga dimanfaatkan untuk menyimpan bibit padi yang sudah dipersiapkan untuk ditanam kembali. termasuk untuk menyimpan bahan-bahan pangan lainnya seperti kopi, kacang-kacangan. Di sekitar tahun 1960an-1980an saya juga masih mendapatkan orang tua saya menyimpan singkong atau ubi kayu yang sudah dikeringkan yang dipersiapkan sebagai cadangan ketika terjadi krisis pangan. #MahirTakaka, 19 Agustus 2014_gambar hasil cepretan sediri saat pulang kampung tahun 2012.

1 komentar:

Tatang Johari mengatakan...

Leuit. Kami di priangan menyebutnya LEUIT. Tp bedanya hanya material. Di kampung kami talukung berbentuk squatr bertiang 4 dgn lqndasan batu dan bbrp asesoris rempah daun2 utk ngusir hama dan antijamur