Rabu, 27 Agustus 2014

Masyarakat Adat Matteko Nasibnya Kini dan Akan Datang

Kampung Matteko adalah sebuah kampung yang terbentuk pada tahun 1933. Secara administratif, masuk dalam wilayah Desa Erelembang, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Secara turun-temurun Masyarakat Adat Matteko hidup dengan bercocok tanam padi, berkebun kopi, mengambil hasil-hasil hutan terutama madu dan berternak sapi dan kerbau serta memelihara ikan air tawar. 

Saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi dengan mereka pada bulan Maret 2014. saat itu saya ditemani oleh Pak Muchlis Paraja (Ketua AMAN Gowa), Thahir, Rustam, bersama dengan Rizal (driver) yang selalu setia menemani selama perjalanan. 

Pada tahun 1977 Masyarakat Adat Matteko mulai melakukan pembibitan pohon pinus karena atas permintaan Dinas Kehutanan Kabupaten Gowa dengan alasan Instruksi Presiden Soeharto pada saat itu. Padahal Masyarakat Adat Matteko belum mendapatkan pemahaman yang jelas tentang fungsi, manfaat dan bahkan dampak-dampak pohon pinus terhadap sumber-sumber kehidupan Masyarakat Adat Matteko. Waktu bergerak terus, akhirnya pada Tahun 1978-1979, bibit pohon pinus ditanam di seluruh wilayah adat Matteko. Tidak terkecuali juga lahan-lahan produktif tempat mereka selama ini bercocok tanam. Saat itu Dinas Kehutanan menyatakan mereka akan bisa memanen ataupun memanfaatkan pohon-pohon pinus yang sudah mereka tanam.

Bisa dibayangkan Masyarakat adat Matteko yang saat itu tidak memiliki pendidikan dan memiliki wawasan yang baik, mengikuti saja apa yang diminta oleh Dinas Kehutanan. Pada saat itu, Dinas Kehutanan juga memberikan upah kepada masyarakat yang terlibat dalam penanaman. Masyarakat yang mulai bekerja pada pukul 08.00-16.00 diberi upah sebesar Rp 500 per hari untuk laki-laki dan Rp 400 per hari untuk perempuan. Bagi mereka yang membantu mengangkat bibit pinus dari lokasi pembibitan ke lokasi penanaman diberi upah Rp 1 untuk jarak dekat dan Rp 2 untuk jarak jauh.

Pada tahun 1982, melalui surat keputusan Nomor 760/Kpts/UM/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982, Menteri Pertanian mengeluarkan keputusan penunjukkan areal kawasan hutan di Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan seluas 3.615.164 hektar. Didalam surat keputusan itu, wilayah masyarakat adat Matteko termasuk didalamnya.

Tahun 1992, pemerintah memberlakukan Undang-Undang No 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang. Berdasarkan UU tersebut, Menteri Kehutanan dan Perkebunan mengeluarkan Surat Keputusan nomor 890/Kpts-II/1999, tentang penunjukkan areal kawasan hutan di wilayah Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan seluas 3.879.771 hektar.

Dengan berjalannya waktu, tempat mereka bercocok tanam dan mengembala ternak berubah menjadi hamparan pohon pinus. Tanaman pohon pinus yang mereka tanam mulai tumbuh besar. Lahan pertanian yang dulunya subur sudah tidak bisa lagi mereka kelola, baik untuk tanaman jangka panjang maupun tanaman jangka pendek. Kopi, kakao, cengkeh, umbi-umbian ataupun tanaman palawija lainnya tidak lagi bisa tumbuh dibawah tegakan pohon pinus. Hal ini dikarenakan pohon pinus merupakan tumbuhan monokultur dan mengeluarkan zat alelopati yaitu senyawa biomelekul yang disebut alelokimia ke lingkungan dan senyawa tersebut mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman lain di sekitarnya. Bahkan zat alelopati ini mengakibatkan tumbuhan di sekitarnya mati.

Penderitaan Masyarakat Adat Matteko bertambah ketika perusahaan penyadap getah pinus mulai beroperasi. Pada tahun 2007, Pemerintah Daerah Kabupaten Gowa memberikan izin kepada PT Adimitra Pinus Utama untuk mengambil getah pinus di wilayah Kabupaten Gowa sampai dengan tahun 2018.

Oknum-oknum perusahaan telah menjadi perpanjangan tangan Dinas Kehutanan. Mereka melaporkan Masyarakat Adat Matteko yang masuk kedalam kawasan hutan pinus ketika mereka mencari kayu bakar. Pada tahun 2009, salah satu masyarakat adat Matteko dilaporkan oleh perusahaan ke Dinas Kehutanan. Ia dituduh menebang dan mengambil pohon pinus di wilayah perusahaan. Laporan tersebut diteruskan oleh Dinas Kehutanan ke Kepolisian Sektor Tombolopao dengan tuduhan menebang dan mengambil pohon pinus. Akibatnya salah satu warga Adat Matteko akhirnya ditangkap dan dipenjarakan. Padahal dia mengambil kayu yang sudah tumbang.

Melengkapi apa yang sudah dialami oleh Masyarakat Adat Matteko saat ini, kondisi anak-anak Adat Matteko tidak bisa ikut sekolah dengan alasan tidak memiliki uang yang cukup untuk membiayai sekola. Lahan-lahan garapan mereka yang sudah berubah menjadi hamparan pinus ini telah memiskinkan mereka. Tidak ada lagi tambahan pendapatan dari hasil pertanian. Masyarakat Adat Matteko juga sudah mencoba bekerja di perusahaan penyadap getah pinus itu. Ternyata pekerjaan menyadap pinus dari pukul 8 pagi sampai dengan pukul 5 sore dengan hanya mendapatkan gaji sekitar Rp. 200 ribu per bulan.

Apa yang dihadapi oleh Masyarakat Adat Matteko saat ini? Didepan mata mereka bersama generasi mereka terancam mati kelaparan. Jumlah masyarakat adat Matteko terus bertambah, sementara lahan garapan dan lahan kelola untuk penghidupan masyarakat sudah dikonversi menjadi hutan pinus. Hutan yang bukan hutan asli kampung mereka. tidak hanya kelaparan....tetapi kriminalisasi terhadap semua aktivitas Masyarakat Adat Matteko karena secara geografis sebagian besar wilayah adat mereka yang menjadi sumber penghidupan sudah menjadi Kawasan Hutan Lindung.

Tulisan ini saya ambil dari catatan saya saat berkunjung di Matteko pada bulan Maret 2014 dan Tulisan Een Irawan Putra yang dimuat di: http://www.kotahujan.com/tanaman-asing-yang-merusak-ekosistem-dan-memiskinkan-masyarakat-adat-matteko/

Tidak ada komentar: