Rabu, 18 Desember 2013

Antara Ritus dan Angklung Bali

Denpasar 5 Desember 2013 – Budaya Bali masih kuat dipegang teguh oleh masyarakat adatnya. Tidak luntur ditelan perkembangan jaman serta memberi inspirasi. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Bali dipilih  menjadi tempat penyelenggaraan training-workshop “Pengembangan Terpadu Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Berbasis Keragaman Budaya, Mewujudkan Peradaban Manusia Indonesia yang Kreatif, Inovatif dan Produktif” tanggal 28 Nov s/d 3 Des 2013 lalu di Banjar Kiadan, Desa Adat Plaga, Bali.
“Bali adalah contoh nyata pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis masyarakat adat. Untuk belajar dari pengalaman nyata inilah pelatihan dilakukan di Banjar Kiadan dan Desa Tenganan yang merupakan bagian dari Jaringan Ekowisata Desa (JED),” Sekertaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dalam sambutannya.
Fasilitator pelatihan ini dari  Yayasan Wisnu dengan proses belajar selama 6 hari didampingi Rizaldi Siagian, I Gede Astanjaya dan Mahir Takaka-Deputi III PB AMAN.
DR. G.R. Lono Lastoro Simatupang, MA berpendapat bahwa dalam pergaulan global, terutama yang berhubungan dengan seni pertunjukan Indonesia, suatu wilayah budaya harus memberlakukan strategi yang tepat. Menurutnya, globalisasi memberikan dua paradoks yaitu peluang dan batas. Kedua hal inilah yang mesti dihadapi dengan strategi, sehingga peluang tidak kebablasan atau tanpa batas dapat dihindari. Sebab batasan itu sendiri tidak untuk mematikan kreatifitas atau membatasinya dengan begitu ketat yang mencitrakan stagnasi.
Simatupang menggambarkan bahwa masyarakat adat Bali adalah contoh yang tepat dalam menjalankan strategi ini. Sebab di Bali terdapat kesupelan dan sekaligus keketatan yang terlihat dalam komprominya terhadap berbagai pengaruh. Termasuk pengaruh yang datang dari luar Bali, namun tetap memegang inti sari budayanya dengan erat. Contoh kongkritnya adalah Angklung Bali yang mulai ditampilkan dalam event Festival Seni Budaya Bali.
Angklung yang dimaksud di sini bukan seperti musik multitonal (bernada ganda oktaf) yang secara umum dikenal sebagai musik tradisi dalam masyarakat berbahasa Sunda.
Angklung Bali masuk dalam golongan “Barungan Madya”. Di Bali Selatan Angklung hanya mempergunakan 4 nada sedangkan di Bali Utara mempergunakan 5 nada, keduanya dalam pentatonik selendro cina.  Angklung klasik-tradisional dimainkan untuk mengiringi upacara tanpa tari-tarian. Angklung biasanya digunakan untuk mengiringi ritual Panca Yadnya, lima upacara suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu Bali dalam mencapai kesempurnaan hidup. Mulai dari Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Wedana, Manusia Yadnya, Resi Yadnya. Dalam tetabuhan klasik Gamelan Bali, angklung dianggap sebagai cikal bakal dari Gamelan Gong Kebyar.
Gamelan Angklung memegang peran penting dalam upacara adat dan keagamaan Hindu Bali. Peneliti dari STSI Denpasar mencatat ada 15 repetoar klasik dalam ranah Gamelan Angklung Bali yang sampai sekarang terus terjaga kelestariannya dalam upacara Manusia Yadya didukung oleh seluruh  Banjar di Bali (lembaga adat).  Gamelan Angklung lahir lebih dulu ketimbang Gamelan Gong Kebyar yang kini berperan mengisi prosesi adat dan budaya Bali. Gamelan Angklung hanya ditampilkan dalam upacara keagamaan.
Angklung Bali menjadi Gebyar
Sejak Bali Art Festival tahun 2008 kreasi baru Angklung Kebyar mulai ditampilkan. Kebyar disini artinya gempita/ menggelegar. Ada penambahan instrumen cymbal (ceng-ceng gede) instrumen yang biasanya dipakai untuk blaganjuran, musik prosesi didominasi gong dan rampak gendang Bali, dengan dinamik lebih keras dan enerjik. Sekarang beberapa  kabupaten sudah menggelar festival gamelan Angklung Kebyar sendiri, antara lain Kabupaten Badung.
Kebudayaan Bali erat hubungannya dengan ‘Desa Kala Patra’ (ruang, waktu dan keadaan) artinya budaya Bali selalu beradaptasi dengan kondisi jaman. Musik yang tadinya diperuntukkan hanya untuk upacara, bisa saja ditampilkan untuk hal-hal lain, asalkan syarat-syarat untuk hal tersebut sudah terpenuhi dan tidak melanggar norma hukum adat. “Musik gamelan kreasi baru maupun klasik bukan masalah penting, karena yang terpenting adalah kepekaan melihat perbedaan. Bisa membedakan mana perutukan yang klasik dan mana yang untuk kreasi baru,” demikian pendapat I Wayan Sadra (Alm) semasa hidup.
Sejak Walter Spies berhasil mencangkokkan sendratari Rama & Shinta dalam tari Kecak pada tahun 30-an, telah tumbuh kesadaran pada masyarakat Bali akan pentingnya menggelar Festival Gamelan secara berkala. Maka sejak itu di Pulau Bali, marak digelar  berbagai macam festival hingga ke tingkat desa. Pada tahun 1971 dilangsungkan sebuah seminar mengenai kebudayaan Bali. Seminar ini dihadiri oleh para seniman, budayawan dan cendikiawan Bali. Mereka diharapkan bisa memberi masukan untuk mencermati, sejauh mana toleransi budaya Bali bisa menerima pengaruh budaya dari luar.
Sudah sejak lama para pemangku adat Bali, mempertimbangkan secara matang langkah apa yang harus diambil mengantisipasi setiap perkembangan jaman. Budaya Bali memang kompromistik, akan tetapi pada sisi lain masih memegang erat inti sari kebudayaannya. *****Jeffar Lumban Gaol

Tidak ada komentar: