Rabu, 18 Desember 2013

Mahir Takaka Teken Kontrak Politik Kader Aliansi Masyarakat Adat Nusantara

Jakarta 17 Desember 2013-Keputusan Kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sejak Kongres II-III dan Ke IV di Tobelo tahun 2012 mendorong dan membekali kader-kadernya memasuki arena politik agar dapat menempatkan utusan-utusan terbaiknya duduk di dalam lembaga-lembaga perwakilan rakyat tingkat daerah maupun nasional, sebagai utusan masyarakat adat diharapkan bisa membawa perubahan.
Untuk melaksanakan amanat Kongres tersebut Pengurus Besar AMAN menyelenggarakan rangkaian kegiatan ‘Konsolidasi Perutusan Politik Masyarakat Adat untuk Parlemen’ yang berlangsung dari tanggal 14-17 Desember 2013 di Jakarta.  Narasumber dalam rangkaian kegiatan ini menghadirkan Teten Masduki, Sarah Lery Mboeik, Isjaya Kaleden, Philipus Kami dan Betrix Hendra.
Sebelum acara penandatanganan kesepakatan kerja sama dilangsungkan, Sekjen AMAN, Abdon Nababan dalam sambutannya menyampaikan,” ada satu prinsip kalau mau masuk arena politik yakinilah dalam berpolitik itu tidak ada kekalahan, selalu ada yang bertambah, karena politisi yang baik itu mengabdikan diri pada konstituennya. Kita percaya politisi yang benar selalu membela, melindungi dan melayani. Jadilah politisi yang benar, bukan pencari jabatan politik,” papar Sekjen AMAN, lebih jauh beliau mengatakan bahwa tugas AMAN adalah memastikan bahwa para kader utusan masyarakat adat memenangkan pertarungan pemilihan legislatif 2014,” pungkas Abdon Nababan .
Ada delapan orang utusan masyarakat adat yang maju untuk pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mereka adalah, Mahir Takaka DPD Sulawesi Selatan, FX Mecer DPD Kalimantan Barat, I Made Suarnata DPD Bali, Maria Goreti DPD Kalimantan Barat, Berry N Furqan DPD Kalimantan Selatan. Sementara untuk pemilihan DPR RI Mukti Baba, Maluku Utara dan Idham Arsyad. Dalam acara Konsolidasi Perutusan Politik Masyarakat Adat ini ada 78 orang utusan masyarakat adat yang hadir.
Secara keseluruhan ada sekitar 180 orang kader politik AMAN resmi terdaftar sebagai calon legislatif untuk DPD RI lewat jalur independent (non-partai politik) sementara untuk caleg DPR RI, DPRD Provinsi dan Kabupaten/ Kota, tersebar lewat jalur partai-partai politik.
Kader utusan masyarakat adat diharapakan dapat mengawal dan melaksanakan beberapa hal penting diantaranya Pelaksanakan TAP MPR No IX tahun 2001, Pelaksananaan Amandemen ke-2 UUD 45, Memperjuangkan penetapan dan pengesahan RUU (PPHMA)  Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat, Pelaksanakan Putusan MK No 35 tahun 2012 dan banyak lagi hal lainnya, dalam rangka memperjuangkan kepentingan masyarakat adat. *** JLG

Antara Ritus dan Angklung Bali

Denpasar 5 Desember 2013 – Budaya Bali masih kuat dipegang teguh oleh masyarakat adatnya. Tidak luntur ditelan perkembangan jaman serta memberi inspirasi. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Bali dipilih  menjadi tempat penyelenggaraan training-workshop “Pengembangan Terpadu Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Berbasis Keragaman Budaya, Mewujudkan Peradaban Manusia Indonesia yang Kreatif, Inovatif dan Produktif” tanggal 28 Nov s/d 3 Des 2013 lalu di Banjar Kiadan, Desa Adat Plaga, Bali.
“Bali adalah contoh nyata pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis masyarakat adat. Untuk belajar dari pengalaman nyata inilah pelatihan dilakukan di Banjar Kiadan dan Desa Tenganan yang merupakan bagian dari Jaringan Ekowisata Desa (JED),” Sekertaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dalam sambutannya.
Fasilitator pelatihan ini dari  Yayasan Wisnu dengan proses belajar selama 6 hari didampingi Rizaldi Siagian, I Gede Astanjaya dan Mahir Takaka-Deputi III PB AMAN.
DR. G.R. Lono Lastoro Simatupang, MA berpendapat bahwa dalam pergaulan global, terutama yang berhubungan dengan seni pertunjukan Indonesia, suatu wilayah budaya harus memberlakukan strategi yang tepat. Menurutnya, globalisasi memberikan dua paradoks yaitu peluang dan batas. Kedua hal inilah yang mesti dihadapi dengan strategi, sehingga peluang tidak kebablasan atau tanpa batas dapat dihindari. Sebab batasan itu sendiri tidak untuk mematikan kreatifitas atau membatasinya dengan begitu ketat yang mencitrakan stagnasi.
Simatupang menggambarkan bahwa masyarakat adat Bali adalah contoh yang tepat dalam menjalankan strategi ini. Sebab di Bali terdapat kesupelan dan sekaligus keketatan yang terlihat dalam komprominya terhadap berbagai pengaruh. Termasuk pengaruh yang datang dari luar Bali, namun tetap memegang inti sari budayanya dengan erat. Contoh kongkritnya adalah Angklung Bali yang mulai ditampilkan dalam event Festival Seni Budaya Bali.
Angklung yang dimaksud di sini bukan seperti musik multitonal (bernada ganda oktaf) yang secara umum dikenal sebagai musik tradisi dalam masyarakat berbahasa Sunda.
Angklung Bali masuk dalam golongan “Barungan Madya”. Di Bali Selatan Angklung hanya mempergunakan 4 nada sedangkan di Bali Utara mempergunakan 5 nada, keduanya dalam pentatonik selendro cina.  Angklung klasik-tradisional dimainkan untuk mengiringi upacara tanpa tari-tarian. Angklung biasanya digunakan untuk mengiringi ritual Panca Yadnya, lima upacara suci yang diselenggarakan oleh umat Hindu Bali dalam mencapai kesempurnaan hidup. Mulai dari Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Wedana, Manusia Yadnya, Resi Yadnya. Dalam tetabuhan klasik Gamelan Bali, angklung dianggap sebagai cikal bakal dari Gamelan Gong Kebyar.
Gamelan Angklung memegang peran penting dalam upacara adat dan keagamaan Hindu Bali. Peneliti dari STSI Denpasar mencatat ada 15 repetoar klasik dalam ranah Gamelan Angklung Bali yang sampai sekarang terus terjaga kelestariannya dalam upacara Manusia Yadya didukung oleh seluruh  Banjar di Bali (lembaga adat).  Gamelan Angklung lahir lebih dulu ketimbang Gamelan Gong Kebyar yang kini berperan mengisi prosesi adat dan budaya Bali. Gamelan Angklung hanya ditampilkan dalam upacara keagamaan.
Angklung Bali menjadi Gebyar
Sejak Bali Art Festival tahun 2008 kreasi baru Angklung Kebyar mulai ditampilkan. Kebyar disini artinya gempita/ menggelegar. Ada penambahan instrumen cymbal (ceng-ceng gede) instrumen yang biasanya dipakai untuk blaganjuran, musik prosesi didominasi gong dan rampak gendang Bali, dengan dinamik lebih keras dan enerjik. Sekarang beberapa  kabupaten sudah menggelar festival gamelan Angklung Kebyar sendiri, antara lain Kabupaten Badung.
Kebudayaan Bali erat hubungannya dengan ‘Desa Kala Patra’ (ruang, waktu dan keadaan) artinya budaya Bali selalu beradaptasi dengan kondisi jaman. Musik yang tadinya diperuntukkan hanya untuk upacara, bisa saja ditampilkan untuk hal-hal lain, asalkan syarat-syarat untuk hal tersebut sudah terpenuhi dan tidak melanggar norma hukum adat. “Musik gamelan kreasi baru maupun klasik bukan masalah penting, karena yang terpenting adalah kepekaan melihat perbedaan. Bisa membedakan mana perutukan yang klasik dan mana yang untuk kreasi baru,” demikian pendapat I Wayan Sadra (Alm) semasa hidup.
Sejak Walter Spies berhasil mencangkokkan sendratari Rama & Shinta dalam tari Kecak pada tahun 30-an, telah tumbuh kesadaran pada masyarakat Bali akan pentingnya menggelar Festival Gamelan secara berkala. Maka sejak itu di Pulau Bali, marak digelar  berbagai macam festival hingga ke tingkat desa. Pada tahun 1971 dilangsungkan sebuah seminar mengenai kebudayaan Bali. Seminar ini dihadiri oleh para seniman, budayawan dan cendikiawan Bali. Mereka diharapkan bisa memberi masukan untuk mencermati, sejauh mana toleransi budaya Bali bisa menerima pengaruh budaya dari luar.
Sudah sejak lama para pemangku adat Bali, mempertimbangkan secara matang langkah apa yang harus diambil mengantisipasi setiap perkembangan jaman. Budaya Bali memang kompromistik, akan tetapi pada sisi lain masih memegang erat inti sari kebudayaannya. *****Jeffar Lumban Gaol