Senin, 29 April 2013

Dua malam di Menua Sungai Utik


Tanggal 23-25 April 2013 adalah kesempatan yang ke tiga kalinya saya mengunjungi Rumah Panjang di Menua Sungai Utik tepatnya di Desa Batu Lintang Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat bersama kawan saya Pak Abdon Nababan (Sekjen AMAN), Rukka Sombolinggi (Staf Khusus Sekjen AMAN), Mina Setra (Deputi II PB AMAN), Aga Pitus (Ketua AMAN Kalimantan Barat), Ringkai (Ketua AMAN Kapuas Hulu), Masahiko Ota (Kedutaan Besar Jepang), Juan Martinez (Bank Dunia). dan tentunya kawan saya Adrian dan Cony yang selalu setia mempublikasikan semua momentum dengan tidak henti-hentinya memotret dan tidak kenal lelah.

Setibanya di Rumah Panjang milik masyarakat adat Menua Sungai Utik ini, kami disambut dengan sebuah ritual adat yang diiringi oleh tarian adat persembahan anak-anak adat Menua Sungai Utik mulai dari pintu depan sampai naik tangga rumah panjang dari sebelah timur. Saya merasakan penyambutan ini cukup istimewa bagi saya sebagai sesama orang adat yang tinggal di kampung yang cukup jauh dari pusat kekuasaan. Mereka hidup diwilayah adat yang diwariskan oleh leluhur mereka seluas ± 9.000 ha yang kaya raya dengan sumber daya alam mulai dari hasil hutan, ladang, aneka macam ikan di sungai juga dengan karet dan lain-lain.

Di hari ke dua selama saya dan kawan-kawan tinggal di Menua Sungai Utik sempat merasakan bagaimana menikmati indahnya alam dan menyaksikan kekayaan alam yang dimiliki oleh masyarakat adat di Menua Utik dengan berjalan kaki sekitar 3 jam sampai bisa menyaksikan langsung mata air yang menjadi sumber air bersih yang dialirkan ke kampung. Yang paling memberikan kebahagiaan bagi saya adalah masi bisa menikmati menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap tradisional mulai dengan menangkap ikan dengan menggunakan panah, pukat, jala hingga menggunakan bubu. Hasil tangkapan ikan ini langsung di masak di bambu, dibakar dan sebagian lagi di masak dengan menggunakan belanga yang kesemuanya tidak menggunakan minyak. Sungguh kenikmatan yang saya dapatkan ini seolah-olah saya sedang menjalani kehidupan di kampung saya sendiri.

Saya juga mendapatkan pemebelajaran dari masyarakat adat di Menua Sungai Utik bagaimana kegigihan mereka menjaga dan mengolah wilayah adat titipan leluhur mereka dengan tetap menjunjung tinggi nilai dan prinsip serta kearifian lokalnya dengan tetap mematuhi hukum adatnya. Bagaimana mereka mempertahankan identitas budaya mereka termasuk menenun, membuat tikar dari rotan, daun pandan, bemban dan kerajinan tangan lainnya. Demikian dengan prinsip mereka yang terpampang di dinding Rumah Panjang “KAMI TIDAK MINTA LEBIH TAPI KAMI TIDAK MAU KURANG” bagi saya adalah merupakan sebuah prinsip yang cukup kuat untuk mengingat kebersamaan dan kedaulatan masyarakat adat Menua Sungai Utik. Adalah Apai Janggut atau biasa di panggil Pak Bandi bagi saya adalah salah satu sosok pejuang adat yang patut di jadikan teladan bagaimana kegigihannya untuk tetap berjuang memprtahankan warisan leluhur mereka ini. 

Tidak ada komentar: