Rabu, 26 September 2012

Empat warisan (asal usul) leluhur sebagai “unsur pembeda” Masyarakat Adat dari Masyarakat yangLlain

  • Kelompok Orang dengan Identitas Budaya yang Sama baik dari aspek yang berkaitan dengan bahasa, spritualitas, nilai-nilai, sikap dan perilaku yang membedakan kelompok sosial yang satu dengan yang lain. 
  • Sistem Nilai dan Pengetahuan atau yang lebih dikenal dengan sebutan kearifan tradisional bukan semata-mata untuk dilestarikan, tetapi juga untuk diperkaya atau dikembangkan sesuai kebutuhan hidup berkelanjutan. Untuk kearifan tradisional ini di seluruh pelosok Nusantara dimana Masyarakat Adat hidup dan menempati wilayah adatnya secara turun-temurun telah banyak dikenal beragama macam kearifan mereka seperti di Wilayah Adat Hono' di Kecamatan Seko Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan ada yang dikenal dengan Mukinete, Pasang, Miuhe, Muleling, Musango', Mu Ulang, Mu Asu dan lain-lain yang sampai saat ini masi hidup dan dipraktekkan oleh masyarakat adat Hono'.
  • Wilayah Hidup atau wilayah adat yang terdiri atas tanah, hutan, laut, sungai dan Sumber Daya Alam lainnya bukan semata-mata barang produksi atau ekonomi, tetapi di dalam wilayah adat tersebut juga menyangkut sistem religi dan sosial-budaya.
  • Aturan-Aturan dan Tata Kepengurusan Hidup Bersama Sosial atau Hukum Adat dan Lembaga Adat  adalah untuk mengatur dan mengurus diri sendiri sebagai suatu kelompok sosial, budaya, ekonomi dan politik. 

Senin, 24 September 2012

Refleksi Momentum Hari Tani, 24 September 2012




Indonesia adalah negara agraris nan subur yang terletak di sepanjang garis khatulistiwa, dimana sebagian besar rakyatnya hidup turun temurun sebagai petani.  Bila kita ingat sejarah sewaktu Presiden Soekarno meresmikan gedung Fakultas Pertanian IPB tahun 1953, dalam pidatonya yang dikenal dengan judul “Antara Hidup dan Mati”,  beliau menekankan bahwa masalah besar yang di hadapi bangsa Indonesia adalah bagaimana memberi makan penduduk (sumber: http://www.spi.or.id/?p=2770).  

Kita bisa menyaksikan dan melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa dari tangan-tangan para PETANI-lah penduduk Indonesia yang bukan petani bisa makan beras, kentang, singkong, talas, sagu termasuk buah durian yang enak, beragam buah pisang, nenas, dan lain-lain. Namun dibalik itu, saya merasakan kesedihan yang sangat mendalam dimana petani sangat tidak di tempatkan oleh penyelenggara negara sebagai warga yang memiliki jasa dalam membangun Bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Dibalik kesedihan yang saya maksud salah satunya adalah bagaimana perlakukan negara terhadap para petani saat ini yang setiap saat mendapat ancaman untuk di gusur dar tanahnya dengan alasan pembangunan yang sangat mengagung-agungkan yang namanya “investasi”. Bagaimana kepemilikan tanah saat ini yang sangat tidak berkeadilan.....ribuan sampai jutaan hektar tanah dibiarkan terlantar karena didalamnya ada izin HGU, Kontrak Karya Tambang, HPH  dan perizinan lainnya sementara disekitarnya ada petani yang tidak bertanah dan harus berjuang untuk mencari nafkah diatas tanah-tanah milik orang lain.

Melalui momentum perayaan Hari Tani tanggal 24 September 2012 ini diharapkan tanggung jawab dari negara untuk merubah paradikma pembangunan dengan menjalankan amanat UUPA/1960 sehingga kaum tani benar-benar terangkat harkat dan martabatnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.


“SELAMAT MERAYAKAN HARI TANI, SEMOGA KEDAULATAN, KEMANDIRIAN DAN KEMARTABATAN KAUM TANI DI INDONESIA SEGARA DIDAPATKAN”