Rabu, 29 Februari 2012

Kearifan Manusia Pertama


Kearifan Manusia Pertama
Konon, manusia pertama diturunkan di desa Matoanging. Dia diutus Sang Pencipta untuk mewakili-Nya di muka bumi dan membawa pesan: Jagai lino lollong bonena, kammayyatompa langika, rupa taua siagang boronga. Peliharalah dunia beserta isinya, termasuk langit, manusia, dan hutan.

http://www.prioritasnews.com/images/uploads/2012/02/222.jpg
Dua wanita suku Kajang berjalan di pemukiman suku Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Tak ada penanda waktu tentang masa kemunculan manusia pertama itu. Tapi, hampir dua ribu tahun lalu, di tempat yang dipercaya sebagai wilayah manusia pertama menginjakkan kakinya di muka bumi, itu telah didirikan sebuah monumen. Possi Tana, namanya. Monumen itu masih terawat baik sampai sekarang. Sebuah karya yang dibangun masyarakat Suku Kajang yang tinggal di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Mereka percaya, kawasan adat mereka Turiek A’ra’na, Sang Pencipta, menurunkan nenek moyang manusia, atau Ammatoa.
Bukan hanya artefak-artefak kuno yang terawat baik. Suku Kajang juga mempertahankan ajaran nenek moyang dengan ketat. Ajaran itu terbingkai rapi dalam agama Panuntung, yang berarti penuntun. Butirbutir tuntunannya terdiri dari pesan-pesan kehidupan yang disebut Passang ri Kajang, atau pesan-pesan Suku Kajang.
Menurut Yadi Mulyadi, Arkeolog Universitas Hasanuddin, Makassar, masyarakat Suku Kajang percaya, kehidupan akan berjalan baik jika semua sesuai ajaran Panuntung.
Suku Kajang secara keseluruhan berada di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sementara kawasan Kajang Dalam terkonsentrasi di Desa Tana Toa, Bonto Baji, Malleleng, Pattiroang, Batu Nilamung dan sebagian Desa Tambangan . Desa-desa di Kecamatan Kajang, selain keenam desa itu, sudah di kelompok kan ke dalam kawasan Kajang Luar.
Kehidupan adat Suku Kajang terawat rapi dan di kawasan Kajang Dalam, corak masyarakatnya memang sangat berbeda dengan dunia luar. Semua rumah di kawasan itu menerapkan arkitektur bangunan sesuai adat Bugis Makassar. Bedanya, semua rumah Kajang terpola rapi menghadap arah barat.
Busana mereka juga tergolong unik. Setelan passapu atau penutup kepala, kemeja dan Tope Lelleng, yang dikenakan kaum lelaki kajang setiap hari, bewarna hitam. Setelan serupa dikenakan kaum perempuan, minus penutup kepala.
Keseragaman itu menyiratkan filosofi kamase masea, kebersahajaan. Kehidupan materil tak boleh berlebihan. Dengan begitu, tak ada kemewahan menonjol di antara warga Kajang. Lebih dari itu, masyarakat Kajang juga menolak teknologi dan produk modern. Jangan berharap keliling dengan mobil, atau menonton televisi di sana. Sebab, penggunaan materi atau benda-benda secara berlebihan dianggap mengganggu keseimbangan kehidupan.
Keseimbangan itu tercermin dalam tiga pilar ajaran: Turiek A’ra’na atau Tuhan, lalu Tana Toa atau tanah leluhur, dan kemudian Ammatoa atau ketua adat. Turiek A’ra’na adalah Sang Pencipta, Maha Kekal, Maha Mengetahui, Maha Kuasa. Tanatoa adalah tanah, lingkungan, atau alam yang diberikan Tuhan kepada manusia. Ammatoa sendiri, manusia pertama yang diciptakan Tuhan untuk menghuni alam semesta.
Tuhan, alam, dan manusia, diabadikan sebagai pusat interaksi kehidupan. Agar kehidupan berjalan baik, ketiganya harus berjalan seimbang.
http://www.prioritasnews.com/images/uploads/2012/02/23.jpg
Pemuka adat Kajang menyentuhkan kakinya dengan besi panas untuk meyakinkan kejujurannya di kawasan adat Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulsel.
Dalam teologi Kajang, manusia diwakili Ammatoa, Sang Nenek Moyang, atau Manusia Pertama, yang walau telah lama meninggal, ruhnya tetap diyakini hadir di setiap generasi. Karena Ruh itu diyakini tinggal bersama Ketua Suku Kajang, maka dia juga disebut Ammatoa.
Pemilihan ketua suku sendiri cukup menarik. Ketika Ammatoa meninggal, diadakan pemilihan Ammatoa berikutnya. Pemuka adat melepas ayam, lalu menunggu ayam itu menemukan tempat bernaung. Pemilik rumah yang dijadikan naungan ayam itulah yang akan terpilih jadi Ammatoa.
Selama berabad-abad pelaksanaannya, prosesi pemilihan itu selalu menghasilkan Ammatoa yang tepat. Dia sosok paling bijak, sederhana, berwibawa, dan teguh memegang adat.
Keunggulan seorang Ammatoa bahkan terlihat dari penampilan fisiknya. “Dia berumur sekitar 40-an tahun. Wajahnya bersih, penampilannya berwibawa. Dia juga paling bijak, cerdas, dan teguh memegang adat,” tutur Yadi Mulyadi.
http://www.prioritasnews.com/images/uploads/2012/02/23b-300x198.jpg
Seorang wanita suku Kajang menenun di pemukiman suku Kajang. Kabupaten Bulu Kumba
Toh, jangan bayangkan terpilih menjadi Ketua Adat akan berlimpah fasilitas dan kemewahan. Justru sebaliknya, rumah Ammatoa harus paling buruk di antara rumah warga Kajang. Itu mengandung pesan bahwa seorang pemimpin harus mengalami atau menanggung derita kehidupan terburuk seluruh rakyatnya.
Dalam interaksi dengan lingkungan, masyarakat Kajang memandang bumi sebagai titipan Turiek A’ra’na. Jagai lino lollong bonena, kammayyatompa langika, rupa taua siagang boronga. Ini kira-kira bermakna: pelihara dunia beserta isinya, termasuk langit, manusia, dan hutan.
Dalam menghormati lingkungan alam, Suku Kajang membagi hutan menjadi tiga bagian. Pertama, hutan adat yang khusus digunakan untuk ritualritual adat. Kedua, hutan rakyat sebagai lahan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Mereka menjalankan roda ekonomi dengan bertani dan berladang. Dari hutan itu juga diperoleh bahan baku untuk produksi perabot rumah tangga.
Hutan yang ketiga adalah hutan perbatasan. Hutan ini hanya bisa diolah atas izin Ammatoa. Pemanfaatannya digunakan oleh warga yang benar-benar kekurangan. Semisal ada warga tertimpa bencana, bisa minta izin Ammatoa agar mengatasinya dengan mengolah hutan itu.
Masyarakat Kajang memenuhi semua kebutuhannya secara mandiri. Seluruh bahan baku juga tersedia di hutan rakyat. Seorang lelaki Kajang harus berketerampilan tani dan mampu membuat perabotan. Sementara seorang perempuan Kajang wajib memiliki keterampilan menenun dan memasak.
Sederhana dan setara. Itulah cara hidup Suku Kajang. Namun, batasan material itu tak mengekang alam batin Suku Kajang. Sebaliknya, kebersahajaan itu mendukung pencerahan batinnya. “Apa yang ada dalam hati diucapkan dengan lidah. Apa yang diucap dengan lidah, dilakukan dengan perbuatan.” Sikap hidup Suku Kajang itulah yang membuat mereka tampil sebagai individu yang bebas. Namun, kebebasan itu tak berwujud dalam kepemilikan material, melainkan kemerdekaan batin. Capaian spiritual itulah yang membuat adat Kajang masih bertahan hingga kini. Namun, di tengah modernisasi dan globalisasi yang serba tergesa seperti sekarang, mereka mendapat tantangan berat.
Di satu sisi, Suku Kajang telah mampu membuktikan keteguhannya mempertahankan martabat dan harga diri. Di sisi lain, kini tidak ada tempat lagi di muka bumi yang benar-benar terpisah dari pergaulan dunia.
Tentu saja, adat mereka hanya akan terus bertahan bila masih mendapat dukungan berbagai pihak. Mulai dari komunitas Kajang sendiri, masyarakat sekitar, pemerintah, pihak swasta, dan semua orang yang peduli kearifan lokal.
Infeksi Keretakan Suku Kajang.
Pada 1970-an, perusahaan swasta Eropa masuk kawasan Suku Kajang. Tanpa mengindahkan kearifan setempat, mereka mengeksploitasi hutan untuk kepentingan komersial. Dengan dalih Hak Guna Usaha, mereka merasa berhak mengkomersialkan hutan. Mereka tidak tahu, atau bahkan mengabaikan pembagian fungsi hutan menurut Suku Kajang. Awalnya , masyarakat Kajang bersabar. Namun, awal 2000- an, kesabaran mereka pun habis. Mempertahankan tanah adat, tak kalah mulia dari sikap sabar.
Perlawanan pun berkobar. Masyarakat Kajang memprotes perusahaan swasta itu. Puluhan warga ditahan, puluhan lainnya bersembunyi dari kejaran aparat. Dukungan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) pun bisa meredakan situasi . “Warga yang ditangkap dibebaskan, mereka yang bersembunyi kembali ke rumah,” tutur Mahir Takaka, wakil Sekretaris Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
Toh, persoalan tak selesai disitu. Masyarakat Kajang tetap tak rela tanahnya disalah fungsikan. Di sisi lain, kepentingan perusahaan terus berjalan. Pemerintah pun, terkesan mengamini kondisi itu. Pada 2008, kesakralan adat Kajang sempat retak . Muncul orang yang mengaku Ammatoa. Dualisme Ketua Adat itu tercatat sebagai yang pertama kali terjadi sepanjang sejarah Suku Kajang.
Usut punya usut, Ammatoa tandingan itu muncul atas dukungan pihak luar yang bersengketa . Untung hal itu tak bertahan lama. Ammatoa tandingan pun meninggal karena sak it. Sebagai khasanah kekayaan budaya Nusantara, semua pihak berharap kearifan Suku Kajang tetap bertahan. Tentu, itu hanya terjadi jika semua pihak menghargai dan turut melestarikan kearifan lokal mereka.
•Rifki Hasibuan