Selasa, 05 Juli 2011

Beras Tarone, Varitas Local di Tanah Legenda


"Sekitar 6 bulan menunggu sampai bisa di panen"

Oleh: Mahir Takaka

Beras Tarone adalah salah satu dari puluhan varietas padi lokal yang secara turun-temurun telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan hak-hak masyarakat adat di Seko. Beras Tarone sangat meberikan berkontribusi yang besar terhadap kebesaran nama Seko ketika ada orang luar yang berkunjung ke daerah ini. Bahkan ketika orang mau meninggalkan Seko terutama di Seko Padang, tidak lengkap rasanya kalau tidak membawa Beras Tarone selain hasil sumber daya alam lainnya seperti kopi, madu, kerajinan, dll.

Sejak saya mulai mengenal tentang kehidupan kampung saya di Hono’, Kecamatan Seko tahun 1978 saya masih ingat sekali sampai saat ini ketika Ibu, Ayah dan Paman saya mau merencanakan untuk persiapan musim tanam setiap tahunnya, sering kali kata Tarone menjadi pilihan utama untuk dipastikan harus tersedia bibitnya. Demikian pula pada saat panen akan tiba Padi Tarone yang sudah menguning dan siap untuk di panen kemudian dibuat upacara adat yang dikenal dengan “MINGNGULU’ atau dalam pemahaman yang sederhananya bisa disebut dengan memulai panen. Setelah panen padi berlangsung antara 1-2 minggu kemudian ada lagi upacara adat yang di sebut dengan “MANNE HEA’ BARU” atau dalam bahasa yang mudah difahami dikenal dengan sebutan makan beras baru. Intinya seluruh proses mulai dari menyiapkan bibit sampai selesai panen tetap ada ritual adat yang dilakukan. Setelah seluruh proses panen selesai dan padi sudah dimasukkan di “TALUKUNG” atau lumbung kemudian diakhiri dengan ritual adat yang disebut dengan “MANTADO’I” adalah sebuah ungkapan rasa syukur atas semua hasil yang didapatkan.

Pada tahun 1980-an keberadaan Beras Tarone ini mulai terganggu dengan masuknya program pembangunan dibidang pertanian yang memperkenalkan jenis padi yang umurnya cukup pendek sampai 3 bulan sudah bisa di panen. Perjalanan waktu terus berjalan hingga tahun 2011 ini padi Tarone semakin terancam bahkan tingkat minat dari masyarakat adat di Seko untuk menanam semakin menurun.

Padahal padi Tarone hanya ada di Seko dan belum pernah diketemukan di tempat lain. Beberapa orang dan bahkan kelurga orang Seko yang sudah tinggal di daerah lain mencoba mengembangkan di tempatnya tapi belum ada yang berhasil. Ini semakin memperkuat keyakinan bahwa Beras Tarone tidak bisa dipisahkan dengan eksistensi Masyarakat Adat yang ada di Seko.