Sabtu, 31 Juli 2010

Pulang Kampung 2010

Pada 18 Juni 2010 saya mendapatkan kesempatan pulang kampung. Dalam perjalanan ini saya mencoba membawa sebuah misi untuk melakukan konsolidasi gerakan masyarakat adat nusantara yang selama ini di dorong oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) untuk daerah Seko, Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan. Saya cukup merasakan kebahagiaan karena perjalanan ini sudah sejak lama saya inginkan. Selain untuk melepas rindu dengan keluarga, yang paling saya prioritaskan adalah ingin berkontribusi penuh dalam memperkuat masyarakat adat di Seko dengan ikut memfasilitasi terbentuknya Pengurus Daerah (PD) AMAN Seko. Dalam perjalanan ini saya di temani oleh 2 (dua) orang Kawan saya masing-masing Bata Manurun yang sekarang ini adalah sebagai Ketua Pengurus Wilayah (PW) AMAN Tana Luwu, Sulawesi Selatan dan A. Tendri Adji yang paling akrab di sapa dengan nama "Cimenk". Hasilnya cukup menggembirakan karena sudah terbentuk Pengurus Daerah AMAN Seko yang difinitif yang akan mengurus anggota AMAN di Seko yang jumlahnya sebanyak 9 komunitas masyarakat adat.

Hal yang paling membuat saya penuh terharu dan hati saya penuh dengan pertanyaan adalah sampai kapan yang namanya sebuah "KEADILAN PEMBANGUNAN" bisa di berikan oleh Penyelenggara Negara kepada Orang Seko. Menurut saya perlu dipertimbangkan oleh Penyelenggara Negara terutama oleh pemerintah Daerah dan Pusat adalah pembangunan yang selama ini berjalan di Seko belum ada yang bisa di andalkan untuk memperkuat dan menjamin serta untuk melindungi hak-hak masyarakat adat di Seko. Benar bahwa sudah ada SK Bupati Luwu Utara Nomor 300 Tahun 2004 Tentang Pengakuan Masyarakat Adat Seko namun sampai dengan hari ini belum ada inplementasinya.

Demikian halnya dengan infrastruktur jalan raya yang seharusnya menjadi prioritas utama untuk sebuah layanan negara terhadap rakyatnya.

Beberapa ungkapan yang sering saya dengar disampaikan oleh pihak terkait baik dalam pertemuan formal ataupun informal katanya "Seko nanti akan terbangun kalau ada investor yang bisa digandeng oleh pemerintah untuk eksploitasi sumber daya alam di Seko" termasuk transmigrasi. Kalau ini memang benar....sebuah ironi yang mengingatkan saya pada 13 tahun yang lalu dimana sebuah perusahaan kayu "PT. KTT" mengelola kayu di Seko tapi faktanya sampai hhari ini malah tidak memberi kontribusi positif terhadap daerah Seko. Bahkan sebaliknya beberapa daerah di Kecamatan Sabbang, Baebunta, Malangke di Kabupaten Luwu Utara menerima kiriman banjir.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

I would like to exchange links with your site mahirtakaka71.blogspot.com
Is this possible?