Rabu, 30 Desember 2009

Pulau Haruku Yang Menyimpan 1001 Keajaiban

Tanggal 12-15 Desember 2009 saya mendapatkan sebuah kesempatan untuk melakukan misi organisasi yaitu "Konsolidasi Gerakan Masyarakat Adat Nusantara" di Pulau Haruku-Maluku. Saya menggunakan jasa penerbangan pesawat udara berangkat dari Jakarta pukul 01.30 WIB menuju ke Ambon. Jam 06.45 pagi waktu Ambon saya mendarat di Bandara Patimura dan disambut oleh Tokoh Adat dari Negeri Haruku Bapak Ely Kissya. Dengan perasaan bangga dan langsung berangkat ke Tulehu (dermaga penyebarangan ke Pulau Haruku) menggunakan Spead Boad selama 20 menit sudah sampai pas di Negeri Haruku-Pulau Haruku.

Dalam perjalanan ke Negeri Haruku, Om Ely sapaan akrab yang saya pergunakan yang juga adalah sebagai Kewang Negeri Haruku ini menyuguhi aku beberapa cerita rakyat Haruku yang paling berkesan adalah tentang Buaya Betina.

Konon, dahulu kala di kali Learisa Kayeli terdapat seekor buaya betina. Karena hanya seekor buaya yang mendiami kali tersebut, buaya itu dijuluki oleh penduduk sebagai "Raja Learisa Kayeli". Buaya ini sangat akrab dengan warga negeri Haruku. Dahulu, belum ada jembatan di kali Learisa Kayeli, sehingga bila air pasang, penduduk Haruku harus berenang menyeberangi kali itu jika hendak ke hutan. Buaya tadi sering membantu mereka dengan cara menyediakan punggungnya ditumpangi oleh penduduk Haruku menyeberang kali. Sebagai imbalan, biasanya para warga negeri menyediakan cincin yang terbuat dari ijuk dan dipasang pada jari-jari buaya itu. Pada zaman datuk-datuk dahulu, mereka percaya pada kekuatan serba-gaib yang sering membantu mereka.

Mereka juga percaya bahwa binatang dapat berbicara dengan manusia. Pada suatu saat, terjadilah perkelahian antara buaya-buaya di pulau Seram dengan seekor ular besar di Tanjung Sial. Dalam perkelahian tersebut, buaya-buaya Seram itu selalu terkalahkan dan dibunuh oleh ular besar tadi. Dalam keadaan terdesak, buaya-buaya itu datang menjemput Buaya Learisa yang sedang dalam keadaan hamil tua. Tetapi, demi membela rekan-rekannya di pulau Seram, berangkat jugalah sang "Raja Learisa Kayeli" ke Tanjung Sial. Perkelahian sengit pun tak terhindarkan.

Ular besar itu akhirnya berhasil dibunuh, namun Buaya Learisa juga terluka parah. Sebagai hadiah, buaya-buaya Seram memberikan ikan-ikan lompa, make dan parang parang kepada Buaya Learisa untuk makanan bayinya jika lahir kelak. Maka pulanglah Buaya Learisa Kayeli ke Haruku dengan menyusur pantai Liang dan Wai. Setibanya di pantai Wai, Buaya Learisa tak dapat lagi melanjutkan perjalanan karena lukanya semakin parah. Dia terdampar disana dan penduduk setempat memukulnya beramai-ramai, namun tetap saja buaya itu tidak mati. Sang buaya lalu berkata kepada para pemukulnya: "Ambil saja sapu lidi dan tusukkan pada pusar saya". Penduduk Wai mengikuti saran itu dan menusuk pusar sang buaya dengan sapu lidi. Dan, mati lah sang "Raja Learisa Kayeli" itu.

Tetapi, sebelum menghembuskan nafas akhir, sang buaya masih sempat melahirkan anaknya. Anaknya inilah yang kemudian pulang ke Haruku dengan menyusur pantai Tulehu dan malahan kesasar sampai ke pantai Passo, dengan membawa semua hadiah ikan-ikan dari buaya-buaya Seram tadi. Karena lama mencari jalan pulang ke Haruku, maka ikan parangparang tertinggal di Passo, sementara ikan lompa dan make kembali bersamanya ke Haruku. Demikianlah, sehingga ikan lompa dan make (Sardinilla sp.) merupakan hasil laut tahunan di Haruku, sementara ikan parang parang merupakan hasil ikan terbesar di Passo. Cerita ini juga bisa didapatkan di http://www.kewang-haruku.org/lompa.html.

Selama di Negeri Haruku, saya sempat diajak oleh Om Ely jalan-jalan ke tempat penangkaran burung "MALEO" yang terletak disekitar rumah Kewang yang juga adalah rumah tempat tinggal Om Ely dan merupakan warisan dari orang tuanya. Saya sangat bergembira bisa menyaksikan secara langsung dan mendapatkan beberapa informasi dari proses penguatan masyarakat adat di Negeri Haruku yang Om Ely dkk telah lakukan. Termasuk mendirikan sebuah perpustakaan kampung, training center (pusat pendidikan dan latihan) yang pemanfaatannya bukan hanya oleh masyarakat adat di Negeri Haruku tetapi dari luar juga sudah memanfaatkan fasilitas tersebut untuk kegiatan-kegiatan organisasi dan lain-lain.

Hal yang paling berkesan juga bagi saya ketika berbagi informasi dengan Om Ely atas kesuksesan Negeri Haruku memperoleh penghargaan KALPATARU. Saya juga banyak menyaksikan dan mendapatkan cerita tentang pelaksanaan upacara "SASI IKAN LOMPA" dan masih banyak cerita-cerita lain seputar kearifan lokal masyarakat adat yang ada di Kepulauan Haruku yang belum sempat saya tuliskan di blog ini......... Mudah-mudahan cerita-cerita dari Haruku ini juga masih merupakan kebanggaan di tempat yang lain sebagai kekayaan Nusantara yang kita banggakan selama ini.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Hi there!
I would like to burn a theme at here. There is such a nicey, called HYIP, or High Yield Investment Program. It reminds of ponzy-like structure, but in rare cases one may happen to meet a company that really pays up to 2% daily not on invested money, but from real profits.

For several years , I earn money with the help of these programs.
I don't have problems with money now, but there are heights that must be conquered . I get now up to 2G a day , and I started with funny 500 bucks.
Right now, I'm very close at catching at last a guaranteed variant to make a sharp rise . Visit my blog to get additional info.

http://theinvestblog.com [url=http://theinvestblog.com]Online Investment Blog[/url]

Moes Jum mengatakan...

Oom Mahir,

Senang sekali membaca postingan ini. Sungguh sebuah cerita yang menarik dari Pulau Haruku. Baca cerita ini saja sudah membuat aku pengen berkunjung ke sana. Kalo sempat bicara dengan Oom Elly, tolong sampaikan salamku yaa? (mungkin beliau tidak kenal kali .. tapi gak apa)