Sabtu, 13 Desember 2008

Pengalaman Bekerja Untuk Masyarakat Adat di Mamasa

Sejak kolonialisme Belanda berkuasa di Mamasa, masa di bawah pemerintah Kabupaten Polmas hingga saat ini-bahkan setelah pemerintahan Provinsi Sulawesi Barat efektif berjalan masyarakat adat yang tersebar di Kabupaten Mamasa hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. sebahagian besar penduduk di Kabupaten Mamasa terlilit kemiskinan. Kecilnya kepemilikan lahan pertanian merupakan penyebab utama rendahnya tingkat pendapatan. Padahal mayoritas penduduk hidup dari pertanian. Sementara akses terhadap hutan-lahan dominan di Mamasa yang mencapai 60,8% luas wilayah-ditutup oleh pemerintah dengan klaim sebagai hutan negara. Keadaan ini berkorelasi kuat dengan rendahnya tingkat pelayanan pendidikan dan fasilitas kesehatan yang sangat minim. Kondisi ini diperburuk dengan minimnya infrastruktur. Sebagian besar wilayah hanya terhubung oleh jalan perintis. Demikian halnya dengan jaringan telekomunikasi yang tersedia hanyalah selular dan satelit, akses listrik hanya tersedia di kota-kota kecamatan, irigasi desa masih sangat sederhana dan terbatas.

Ironis memang di negeri yang kaya dengan sumber daya alam dan potensi sosial untuk berkembang, penduduk Mamasa mengalami kesengsaraan hidup. Ini tak lain disebabkan hilangnya kemampuan masyarakat adat untuk mengurus dan mengatur dirinya sendiri secara mandiri. Inilah sesungguhnya problem terbesar masyarakat Mamasa. Degradasi identitas dan nilai-nilai budaya telah menyebabkan hilangnya etos kerja masyarakat adat. Pembentukan desa telah menghapus sistem pemerintahan adat dan memudarkan nilai-nilai luhur kepemimpinan (adat). Pembentukan desa telah mencabut hak politik masyarakat adat untuk mengatur kehidupannya sendiri.

Proses demokratisasi tertinggi yang pernah membuat kejayaan masyarakat adat khususnya yang tinggal di Aralle, Tabulahan, Mambi dan Rantebulahan yang terkenal dengan sebutan “Ma’limbo” sejak pemerintahan Orde Baru memberlakukan penyeragaman sistim pemerintahan desa mulai melemah. Dari pernyataan salah satu Tokoh Masyarakat Aralle yang sangat saya kagumi yaitu Almarhum Mahmud Simpoha atau yang lebih populer dipanggil dengan nama Pak Max Simpoha bahwa “Ma’limbo” adalah “Salah satu proses pengambilan keputusan tertinggi yang sudah berlangsung secara turun-temurun dan semua persoalan atau konflik yang terjadi bisa diselesaikan melalui “Ma’limbo” termasuk pembahasan hal-hal yang berhubungan dengan perencanaan pembangunan wilayah adat”. Persoalan kemudian adalah proses-proses yang sudah teruji dan mampu meminimalisir kesenjangan sosial tersebut justru tidak dipandang lagi sebagai sesuatu yang terpenting dan tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat adat sehingga informasi dan program yang masuk sudah tidak mampu di awasi oleh masyarakat adat apalagi melalui lembaga adat. Akhirnya masyarakat adat khususnya di Aralle, Tabulahan, Rantebulahan dan Mambi sudah mulai kehilangan kemandirian untuk menyelesaikan persoalan yang dialaminya.

Persoalan yang paling parah dihadapi oleh masyarakat yang umumnya tinggal di Kabupaten Mamasa muncul setelah Undang-undang No. 11 tahun 2002 tentang pemekaran kabupaten Mamasa di undangkan. Juga ketika kesepakatan matakali dan keputusan DPRD Polmas no.6/DPRD/II polmas tidak lagi dijadikan sebagai referensi kebijakan pemerintah sehingga perbedaan-perbedaan kepentingan ditingkat lokal muncul dan semakin meningkat. Dari sepuluh Kecamatan yang ada di wilayah geografis Mamasa ada tiga ( 3 ) kecamatan yang tetap bertahan untuk bergabung di kabupaten induk dalam hal ini Polewali. Masyarakat Aralle, Tambulahan dan Mambi yang keberatan ( Kontra ) untuk bergabung dengan Mamasa. Salah satu cara yang ditunjukkan oleh masyarakat di 3 kecamatan ini untuk memperlihatkan bahwa mereka kontra untuk bergabung dengan mamasa adalah sikap PNS dari beberapa instansi yang ada di ATM untuk menolak menerima gaji melalui Kabupaten mamasa. Dan yang lebih parah lagi adalah terjadinya dualisme Kepemimpinan di tiga ( 3 ) Kecamatan tersebut (ATM) dimana satu kecamatan terdapat 2 camat, satu SK versi Kabupaten Induk dan satu SK versi Kabupaten Mamasa.

Setelah suksesi Bupati dan telah terpilih bupati dan wakil bupati yang kemudian dilanjutkan dengan pelantikan bupati dan wakilnya pada tanggal 20 september 2003, ketegangan antara masyarakat yang pro dan masyarakat yang kontra pemekaran mamasa makin menjadi dan semakin memuncak, dan 9 hari setelah pelantikan terjadilah konflik yang tidak dapat dibendung lagi antara warga yang pro dengan warga yang kontra pemekaran di wilayah Aralle dan Mambi.

Pengalaman tersebut diatas harus menjadi pembelajaran yang bisa mengingatkan kepada publik bahwa sudah saatnya sistim sosial yang masih hidup dimasyarakat apalagi sudah berjalan secara turun temurun dijadikan salah satu referensi dalam menetapkan prioritas pembangunan disebuah wilayah. Apalagi dalam konteks masyarakat di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat yang masih memiliki keberagaman budaya dan agama.

5 komentar:

Moes Jum mengatakan...

Mau nanya nih ... apakah sampeyan yakin pengalaman di Mamasa ini bisa jadi dasar bila sampeyan terpilih jadi DPD? Jangan2 sampeyan setelah jadi anggota dewan akan berperilaku sama dengan umumnya anggota dewan yang malah menjual kondisi masyarakat adat untuk kepentingan politik dan ekonomi sampeyan sendiri.

Mahir Takaka mengatakan...

Moes yang baik,

saya sangat yakin dan percaya diri politisasi issu yang terjadi selama ini tidak akan mungkin saya lakukan. Pengalaman saya selama 12 tahun lebih di kerja2 gerakan sosial tidak mungkin saya sia2kan. Apalagi pilihan maju untuk menjadi anggota DPD adalah merupakan mandatori dari gerakan masyarakat adat Nusantara. Dengan demikian masukan dari kawan Moes sangat menambah spirit yang sedang saya lakukan bersama beberapa kelompok ORMAS dan NGO yang selama ini mencari solusi untuk keluar dari krisis politik yang dirasakan oleh kelompok masyarakat yang merasa terpinggirkan.

salam,

mahir takaka

stwbod mengatakan...

Bung Mahir, saya tertarik sekali dengan pengalaman Anda di Mamasa ini. Saya berharap Anda tetap bersemangat mendampingi masyarakat Mamasa, yang menurut saya sementara belajar menyesuaikan diri dengan kemajuan yang tengah berlangsung di masyarakat kita umumnya.

Mohon ijin posting tulisan ini untuk blog Mamasa Online, semoga berguna

salam blogger

Anonim mengatakan...

[url=http://akreoplastoes.net/][img]http://rastimores.net/img-add/euro2.jpg[/img][/url]
[b]buying photoshop software, [url=http://akreoplastoes.net/]cheap oem software for[/url]
[url=http://akreoplastoes.net/][/url] to buy adobe software in educators software discounts
windows vista 64 bit [url=http://akreoplastoes.net/]Creative Suite 4 Design[/url] educational software downloads
[url=http://akreoplastoes.net/]photoshop to buy[/url] autocad piping flow diagram sample
[url=http://akreoplastoes.net/]education discount software[/url] adobe acrobat 9 professional hot key
10 Advanced [url=http://akreoplastoes.net/]software discounts for educators[/url][/b]

Anonim mengatakan...

[url=http://vioperdosas.net/][img]http://sapresodas.net/img-add/euro2.jpg[/img][/url]
[b]adobe photoshop cs3 extended serial, [url=http://sapresodas.net/]how to activate windows vista[/url]
[url=http://sapresodas.net/]vista ultimate oem software[/url] i buy software online cheap kids software
difference between academic software and [url=http://vioperdosas.net/]adobe photoshop cs4 book for mac[/url] table missing filemaker pro 9
[url=http://sapresodas.net/]where to sell software[/url] autocad lt 97 software
[url=http://vioperdosas.net/]software at a discount[/url] 10 selling software
nero 9 cracks [url=http://sapresodas.net/]office software prices[/url][/b]