Sabtu, 06 Desember 2008

Keharuan yang tak terhingga di Tana Kajang

Matahari hampir terbenam, setibanya di pintu gerbang Tana Toa saya disambut oleh 2 orang yang lengkap dengan pakaian adat yang menjadi kebanggaan orang Kajang dan dia adalah Pak Hading dan Pak Hatong. Kedua orang ini diutus secara khusus untuk menjemput saya setelah ada informasi yang disampaikan oleh Pak Samad Puto Duddu’ (kader Aliansi Masyarakat Adat Nusantara atau disingkat dengan AMAN) yang ada di Kajang luar. Setibanya di perbatasan Kajang Dalam dengan Kajang Luar, saya langsung diajak duduk di bilik yang disediakan dipintu utama dan diberi penjelasan beberapa hal-hal penting yang harus dilakukan oleh tamu ataupun orang yang akan masuk ke Kajang Dalam apalagi kalau mau bertemu dengan Ammatoa (pemimpin adat tertinggi di Kajang).

Sekitar 30 menit kami beristirahat sambil mendengarkan penjelasan dari Pak Hading dan Pak Hatong, kami langsung menuju ke rumah Pak Hatong dengan berjalan kaki dan tanpa menggunakan alas kaki dengan menggunakan waktu sekitar 21 menit. Setibanya di Pak Hatong saya langsung diajari bagaimana menggunakan pakaian adat terutama yang perlu ada bantuan adalah menggunakan passapu (sehelai kain hitam yang diikatkan dikepala).

Selama saya berada di Kajang Dalam dari tanggal 24-25 Nopember 2008 saya banyak belajar tentang adat istiadat orang Kajang mulai dari bagaimana mereka memperkuat demokrasi tertingginya melalui MUSYAWARAH ADAT atau yang dikenal dengan sebutan A’BORONG. Dengan A’BORONG inilah seluruh persoalan dan permasalahan bisa dibicarakan dan dicarikan solusinya. Demikian halnya dengan hal-hal mendasar lainnya yang membuat masyarakat adat Kajang masih bisa mempertahankan eksistensinya tetap bertahan walaupun dikepung oleh pengaruh kehidupan modern. Secara turun temurun semua hal-hal yang berhubungan dengan aturan/hukum adat, hubungan orang Kajang dengan alam, wilayah adat yang selama ini tetap dipertahankan dan bahkan hubungan dengan Sang Pencipta serta hubungan-hubungan lainnya dengan dunia luar semuanya diatur dalam PASANG. Melalui PASANG inilah keberadaan Masyarakat Adat Kajang bisa dipertahankan.

Puncak dari hajatan perjalanan yang saya lakukan ini adalah secara langsung ketemu dengan AMMATOA yaitu pimpinan adat tertinggi yang diserahi mandat oleh masyarakat adat Kajang untuk mengawal seluruh hal-hal yang berkaitan dengan keberadaan masyarakat adat Kajang. Saya banyak belajar dengan beberapa hal-hal yang penting yang disampaikan oleh AMMATOA dalam bahasa Konjo yang walaupun saya tidak memahami secara utuh tapi dibantu oleh kawan saya ABD. Samad Puto Duddu yang sering kali membisik saya pengertian setiap ucapan yang disampaikan oleh AMMATOA kepada saya. Saya belajar dengan gaya hidup yang serba kesederhanaan yang selalu disampaikan oleh AMMATOA dan masi dipraktekkan oleh Orang Kajang selama ini. Saya juga sangat kagum dengan tidak adanya listrik, televisi, radio, kendaraan yang dipergunakan di Kajang Dalam. Ini sangat luar biasa bagi saya kalau dibandingkan dengan pengaruh kehidupan modern saat ini.

Dari kunjungan ini ada beberapa hal yang penting untuk dilakukan untuk tetap memberi dukungan atas keberadaan masyarakat adat Kajang antara lain dengan mendesak pemerintah termasuk PEMDA Bulukumba untuk segerah mengimplementasikan UUD 1945 terutama pasal 18b dan 28i Amandemen ke 2 tahun 2000. Dengan demikian keberadaan masyarakat adat Kajang dijamin secara hukum untuk tetap mempertahankan keberadaannya.

Mengakhiri rangkain kunjungan ini, saya diberi kehormatan untuk melakukan foto bersama di depan rumah AMMATOA dan ini sebuah penghormatan yang saya anggap sangat istimewa.

Tidak ada komentar: