Sabtu, 08 Desember 2018

15 Prinsip Pendidikan Adat

1. Pendidikan adat harus berbasis komunitas masyarakat adat, harus dimulai dari dan oleh komunitas.

2. Isi pendidikan adat harus ditentukan oleh komunitas masyarakat adat.

3. Pendidikan adat mulai dari visi para tetua dan berakar dalam kehidupan dan budaya masyarakat adat setempat.

4. Pendidikan adat mulai dalam Bahasa ibu setempat.

5. Pendidikan adat harus sesuai dengan jati diri, pola pikir, cara hidup dan sistem pengetahuan setiap masyarakat adat.

6. Pendidikan adat mengembalikan jati diri anak-anak masyarakat adat.

7. Pendidikan adat membuka cakrawala anak-anak masyarakat adat untuk hidup di wilayah adat, daripada memisahkan mereka dari akar budaya dan wilayah adat.

8. Pendidikan adat mendukung pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat, termasuk hak menentukan nasib sendiri.

9. Pendidikan adat menyiapkan pemimpin generasi penerus di Wilayah Adat.

10. Pendidikan adat sesuai dengan kehidupan sehari-hari di wilayah adat.

11. Pendidikan adat dirancang untuk mencapai impian masa depan bersama, bukan hanya mimpi perorangan.

12. Pendidikan adat memajukan budaya sebagai landasan untuk berkembang sebagai manusia.

13. Pendidikan adat mengutamakan cara berpikir yang menyeluruh daripada cara berpikir yang terkotak-kotak.

14. Kegiatan belajar-mengajar dalam pendidikan adat tidak hanya di ruang kelas tetapi menggunakan semua tempat yang adat di wilayah adat.

15. Pengajar dalam pendidikan adat juga mencakup para tetua dan pemegang sistem pengetahuan masyarakat adat.

Minggu, 18 November 2018

Konsolidasi Tim Fasilitator AMAN

Hari ini, 18 Nopember 2018 dan akan berlangsung hingga 19 Nopember 2018 saya berkesempatan hadiri sebagai oeserta "Konsolidasi Tim Fasilutator Penguatan Organisasi AMAN" dengan kapasitas sebagai Anggota Dewan AMAN Nasional. Turut hadir semua Anggota Dewan AMAN Nasional dari 7 Region (Papua, Sulawesi, Maluku, Bali-Nusra, Kalimantan, Sumatera dan Jawa) bersama beberapa utusan dari Pengurus Wilayah dan Daerah AMAN dan tim Fasilitator dari para Aktivis Masyarakat Adat.

Konsolidasi ini diselenggarakan dengan tujuan-tujuan antara lain:
  1. Membangun kesepahaman bersama bagaimana melihat realitas organisasi AMAN baik pengurus maupun anggota.
  2. Melahirkan Tim Fasilitator Penguatan Organisasi AMAN di 7 (Tujuh) Region.
  3. Menghasilkan format dan strategi bersama.
  4. Finalisasi Panduan dan Format Konsolidasi.
  5. Adanya agenda bersama. 


Jumat, 10 Agustus 2018

Meningkatkan Kapasitas Masyarakat Adat Mengelola Damar di Rinding Allo, Rongkong


Bersama dengan Bapak Engkos (Ahli Damar) dan A. Baso Muhtar (KPH Rongkong) Memberikan Materi Pelatihan Kepada Kelompok Tani Damar di Kampung Salurante, Desa Rinding Allo, Kec. Rongkong, Luwu Utara, 28/9/2017 atas dukungan dari Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI). Dari pelatihan ini, terdapat masalah dan hambatan yang sedang dihadapi petani damar di Rinding Allo antara lain:
  1. Peralatan panen yang terbatas dan hanya menggunakan peralatan seadanya dengan menggunakan parang. Akibatnya pohon damar belum secara maksimal dikelola sesuai dengan perlakuan pohon damar yang lestari.
  2. Model pembuatan lubang getah sejak jaman Kolonial Belanda dilakukan dengan sistim tebas atau melukai pohon seadanya. 
  3. Membuat lobang persegi 
  4. Budidaya pohon damar yang sulit dikembangkan oleh anggota kelompok tani damar. 
  5. Masalah jaringan pasar. Selama ini hanya mengandalkan pembeli lokal. Akibatnya tidak ada peningkatan harga yang bisa meningkatkan pendapatan petani. Sementara petani diperhadapkan pada tingkat kesulitan dalam pemanenan damar baik aksesibiltas ke hutan maupun masalah iklim yang selalu tidak mendukung.
  6. Sortir getah damar yang sudah dipanen
  7. Belum optimalnya peran pemerintah dalam meningkatkan kapasitas petani baik teknologi, kelembagaan, permodalan hingga pemasaran.




Kamis, 09 Agustus 2018

Ini 5 Alasan Saya Maju Sebagai Caleg Daerah di Tanah Leluhur

Ada 5 (Lima) alasan kenapa saya menyatakan diri untuk maju sebagai Calon Anggota Legislatif Daerah Luwu Utara Periode: 2019-2024:


  1. Pada hakikatnya, politik adalah mengelola harapan. Harapan rakyat utamanya kaum termarginal antara lain; Masyarakat Adat, petani, perempuan, disabilitas, anak-anak untuk mendapatkan layanan dasar pembangunan yang merata dan berkeadilan melalui agenda legislasi daerah. Faktanya, kaum termarginalkan belum memiliki akses yang kuat dalam memperngaruhi kebijakan sehingga dalam perjalanannya kurang diperhatikan. Mulai dari regulasi daerah yang menjamin hak-hak mereka maupun program pembangunan untuk kegiatan pemberdayaan.
  2. Pemerataan pembangunan infrastruktur utamanya kampung, desa dan kecamatan yang terisolasi perlu didorong dengan mengoptimalkan Gerakan "Gotong Royong". Kahadiran anggota legislatif sangat diperlukan. Bagaimana mengambil peran dengan mengoptimalkan tugasnya dalam membawa aspirasi masyarakat ke semua jenjang pemerintahan yang mengurus layanan infrastruktur muali jalan raya antar kabupaten/provinsi, jalan lintas kecamatan/desa/kampung. Demikian halnya dengan sarana pendidikan, kesehatan, balai-balai adat serta sarana publik lainnya. Sejalan dengan semakin tersedianya layanan pembangunan yang disiapkan oleh pemerintah dari daerah/provinsi hingga pusat, situasi ini akan membuka lebar anggota legislatif yang aktif melayani masyarakat kedepan.
  3. Menumbuh kembangkan budaya politik masyarakat adat, petani, nelayan, masyarakat miskin, buruh dan perempuan yang berorientasi pada kepentingan politik komunitas, demi munculnya pemimpin politik yang berakar pada konstituen, beretika politik tinggi,menghormati keberagaman, HAM, dan kesetaraan Gender.
  4. Membangun sistem pengorganisasian politik baru yang berbasis komunitas dan wilayah pemilihan sebagai block politic yang memiliki posisi tawar tinggi dihadapan partai-partai politik peserta pemilu 2019 dan seterusnya, demi tumbuhnya demokrasi yang bisa dipertanggungjawabkan oleh aktor politik dan para pemangku kepentingan sebagai konstituennya.
  5. Optimalisasi tugas pokok anggota legislatif yang tanggap membela, aktif melindungi dan cepat melayani sangat diperlukan saat ini. Mengingat banyaknya keluhan dari masyarakat yang memilih anggota legislatif saat sudah terpilih dan duduk di DPRD memilih menghindari untuk berkomunikasi dengan masyarakat yang nota bene memilihnya. 
Ke Lima alasan tersebut diatas inilah bersama saran-saran dan nasehat dari keluarga, sahabat seperjuangan yang mendasari sehingga saya memutuskan untuk maju menjadi Calon Anggota Legislatif Daerah di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan untuk Periode: 2019-2024 melalui Partai GERINDRA. 

Mohon doa dan dukungan dari keluarga dan sahabat semuanya. 

Salam hormatku,
Mahir Takaka

Kamis, 17 November 2016

Titian Kehidupan Orang Seko di Hono'

Setiap saya pulang kampung, salah satu kegiatan yang saya rindukan adalah melintasi titian atau kami di Seko dikenal dengan "Mukati" alias melewati titian alias "Kati".

Bagi yang tidak terbiasa pasti akan mengalami kesulitan. Begitu menatap kedepan sudah terbayang bahwa bentangan titian ini berkisar 100 meter. Waooo...lumayan panjang bila dibandingkan dengan titian-titian yang sudah saya lalui didaerah-daerah lain.

Tapi jangan takut...semua orang di kampung saya mulai dari anak-anak, ibu-ibu, apalagi bapak-bapak...melewati titian itu adalah pekerjaan sehari-hari. Tidak peduli pagi, siang bahkan malam haripun pasti bisa. Mulai yang membawa memikul kayu bakar, menggendong bayi/anak-anak, gabah hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.

Saat saya masih sekolah dibangku SD apabila titian ini putus biasanya harus menggunakan alternatif lainnya untuk bisa menyeberang yaitu dengan menggunakan rakit yang terbuat dari bambu atau kalau terpaksa karena tidak ada pilihan lain dengan berenang dengan gaya dada dan satu tangan diangkat tinggi-tinggi karena memegang bagu-celana dan buku sekolah.

Ayoooo....yang penasaran silahkan ke Seko...pasti bisa menikmatinya.

Rabu, 29 Juni 2016

Panen Padi di Tanah Leluhur

Sangat bangga menyaksikan kedua putriku (Nabila sama Tamelai) yang senang dengan profesi Kake' dan Nene' sebagai petani. Ditemani Bunda tercinta (Rante Mustafa) berangkat dari Bogor tanggal 26 Juni 2016 menuju Kota Palu kemudian melanjutkan perjalanan ke Seko tanggal 27 Juni dengan menggunakan pesawat Susi Air. Setibanya di Eno (Kampungku) Nabila sama Amel menelpon....Papa Kaka dan Dede langsung mau ke sawah Kaka Ningrat ikut panen padi........saya langsung menjawab...waoooo...papa jadi bangga dong.....hahahaha........silahkan yaaa....

Dari sisi lain, kebanggaan saya dengan kedua orang tuaku ini karena terus konsisten mempertahankan padi "Tarone" salah satu padi varitas lokal yang secara turun-temurun sudah menjadi padi unggulan bagi Masyarakat Adat di Seko.

Mudik tahun 2016 ini kami sekeluarga sangat beruntung karena masih dapat menikmati indahnya panen padi bersama orang tua. Selain panen padi...ternyata dikebun jagung muda sudah menunggu untuk dipanen.......terima kasih Ya Allah, Tuhan Pencipta Alam semesta atas karunia yang engkau telah anugerahkan kepada kami dan tentunya kepada ke dua Orang Tua Kami yang selalu bergembira menyambut kedatangan kami di kampung.



Kenapa Saya ikut Tolak PLTA di Seko?

Kenapa saya memilih ikut mendukung keluarga yang menolak PLTA yang akan di bangun di Seko? Karena beberapa faktor sbb:

1. Begitu lemahnya proses konsolidasi yang dilakukan oleh pemerintah dengan Masyarakat Adat di Seko yang akan menjadi penerima dampak langsung dari pembangunan PLTA. Saya sadar betul bahwa melepas hak-hak adat mulai tanah, sawah, kebun, dll yang menjadi sumber utama keluarga di seko bukanlah perkara yang mudah. Kenapa? Karena dengan kehilangan sawah, kebun, tanah itu akan memutus nafas kehidupan generasi penerus di kampung. Berbeda dengan "KITA" orang seko yang dirantau yang bisa hidup dengan budaya orang kota.

2. Dalam Pengalaman saya sejak bergabung dengan Gerakan Masyarakat Adat di Nusantara dan Internasional, nasib orang Seko tidak jauh berbeda dengan nasib keluarga sesama masyarakat adat di seluruh dunia yang umumnya menjadi korban dari pembangunan termasuk melalui PLTA, Tambang, Perkebunan skala besar, dll dimana Masyarakat Adat umumnya hanya menjadi penonton pembangunan...belum menjadi pelaku pembangunan yang sebenarnya.

3. Kalau hanya persoalan jalan raya yang menjadi akar masalahnya....sejarah sudah membuktikan bahwa Kolonial Belanda mampu bangun jalan raya dari Sabbang-Rongkong-Seko-Sulawesi Tengah. Kenapa justru sudah merdeka tapi pemerintah belum bisa bangunkan jalan raya untuk orang Seko? Ini menjadikan banyak tafsir....ada apa dibalik semua ini?

4. Bahwa ada arus harapan yang kuat dari berbagai pihak bahwa dengan memasukkan PLTA, tambang dan HGU di seko dengan harapan akan membangun jalan raya? Menurut saya ini sangat keliru. kenapa? Pandangan seperti inilah yang melemahkan posisi dan kedaulatan NKRI karena seakan2 negara yang diamanatkan ke pemerintah untuk menjalankan pembangunan sudah mau menswastanisasi negara. Jadi perlu dikoreksi jiwa kenegaraan keluarga yang diberi amanat oleh rakyat untuk menjalankan roda pemerintahan di Luwu Utara dan termasuk kepada kita semuanya.

5. Bahwa rencana pembangunan PLTA di Seko harus ditransformasi kedalam agenda pembangunan yang lebih luas. Kenapa pemerintah mau memberikan keleluasaan kepada Investor untuk bangun PLTA di DAS Karama termasuk Seko yang saya intip2 saat ini akan ada 4 unit? Ada apa dibalik rencana ini? Apakah untuk kesejahteraan orang seko?  Ataukah karena sudah ada antrian ijin2 Kontrak Karya dan Eksplorasi Tambang di Seko, Rongkong, Rampi yang jumlahnya sudah sekitar 9 ijin?

6. Saya melihat bahwa orang Seko bicara dengan ruang kehidupannya tidak hanya untuk hari ini, besok. Tahun depan tetapi harus jauh kedepan dalam menyediakan ruang kehidupan untuk anak cuci ribuan tahun mendatang. Perlu kita ingat, leluhur kita di Seko mempertahankan wilayah adat dengan nyawa taruhannya....untuk itu generasi saat ini harus memiliki visi keadilan untuk generasi yang akan datang. ..... salam keadilan untuk orang seko dari negeri seberang

Senin, 02 Mei 2016

Ketangguhan Orang-Orang di Pulau

Tanggal 22 April 2016 saya mendapat kesempatan berkunjung ke Pulau Kulambing di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Provinsi Sulawesi Selatan. Kunjungan ini sangat istimewa bagi saya karena mendapat penugasan dari Kelompok Kerja (Pokja) Desa Membangun Indonesia bersama Pak Idham Arsyad, Ibu Budhis Utami untuk mendampingi Bapak Marwan Jafar, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Kehadiran kami di Pulau Kulambing dengan tujuan untuk mengukuti proses peluncuran program Sekolah Perempuan Pulau yang diinisiasi oleh Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) Sulawesi Selatan bersama Institute KAPAL Perempuan

Selama di Pulau Kulambing, saya banyak mendapatkan cerita-cerita seputar kehidupan orang-orang di pulau mulai dari cerita yang bersifat keluhan maupun informasi yang erat dengan kearifan-kearifan tradisional yang merupakan bagian dari kehidupan orang-orang di pulau. Salah satu diantaranya adalah manfaat pohon sukun. Selama ini buah sukun saya hanya kenal sebagai makanan yang enak kalau digoreng atau dikukus. Tetapi ternyata pohon sukun memiliki fungsi untuk metralisir air laut menjadi air tawar. Pantas saja beberapa kampung-kampung dipesisir yang saya kunjungi selama ini selalu menyaksikan pohon sukun terutama disekitar sumur warga. Pulau Kulambing contohnya, adalah pulau kecil tapi sebagian besar tanaman hijaunya didominasi oleh pohon sukun yang umurnya sudah ratusan tahun. Sayangnya pada tahun 2000 tepatnya tgl 1 Januari pulau Kulambing dilanda oleh badai besar yang menyebabkan sekitar 100 pohon sukun tumbang. Akibatnya sekarang ini mulai krisis air tawar. 

Kembali ke konteks awal, program ini adalah bagian dari pengembangan partisipasi dan kepemimpinan perempuan miskin dalam perencanaan dan pemantauan program perlindungan sosial untuk meningkatkan akses, kesejahteraan dan pemenuhan hak-hak asasi perempuan miskin yang dikembangkan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Kehadiran Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi bersama Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Bupati Pangkajene Kepulauan serta kementerian terkait bersama Anggota Pokja Desa Membangun Desa (Idham Arsyad, Budhis Utami dan Mahir Takaka) adalah sebagai upaya untuk mengintegrasikan dengan program pembangunan perdesaan/desa adat melalui dana desa. 

Program Sekolah Perempuan Pulau adalah salah satu program yang akan dijadikan sebagai salah satu program percontohan yang implementasinya dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai pihak terutama dengan pemerintah daerah untuk selanjutnya direplikasi ke pulau-pulau lain.  Jadi kalau mau mendapatkan inspirasi yang berspektif  Perempuan kedepan..........hayoooo.........berkunjunglah ke Pulau Kulambing. Disana terdapat Perempuan tangguh menghadapi tantangan dilaut yang berprofesi sebagai nelayan. Bisa belajar bagaimana perempuan dan orang-orang pulau mengelola sumberdaya alamnya untuk kehidupan antar generasi. 

Kamis, 07 Januari 2016

Mimpi jadi Petani Kakao yang Sukses tapi Belum Kudapatkan

Memperkenalkan kedua putriku (Nabila Putri Azzahra dan Tamelai Tri Ramadhani) bagaimana mengurus hingga memanen buah kakao di kebun. Tepatnya pada tanggal 3 Juli 2014 tahun lalu saya bersama keluarga menyempatkan diri untuk liburan ke kampung halaman di Eno, Kecamatan Seko Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Liburan ini disamping ingin mengobati kerinduan untuk berkumpul bersama ke dua orang tua saya dan keluarga saat lebaran idul fitri, juga saya manfaatkan untuk mengurus kebun coklat saya yang sudah bertahun-tahun tidak saya kelola dengan baik karena sejak tahun 2003 sudah banyak menghabiskan waktu dan beraktivitas sebagai aktivis masyarakat adat yang tergabung dengan AMAN, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Makasar dan tahun 2007 lanjut ke Bogor sampai saat ini (2016).

Kakao di Seko sebenanya sangat berpeluang untuk menembus pasar yang langsung ke pabrik atau perusahaan dengan harga tinggi. Namun masih terkendala dengan proses pengelolaan pada tingkat petani yang belum mendapatkan peningkatan kapasitas bagaimana menghasilkan biji kakao yang berkualitas tinggi. Peningkatan kapasitas yang diperlukan saat ini mulai dari pemilihan bibit kako berkualitas, perawatan, pemupukan yang ramah lingkungan dalam hal ini pupuk organik hingga panen dengan sistim permentasi. Dengan kualitas biji kakao yang dihasilkan petani di Seko yang lumayan baik, ini menjadi peluang yang cukup bagus untuk pengembangan biji kakao permentasi. Dengan demikian, kedepan akan terbuka lebar peluang-peluang baru bagaimana meningkatkan nilai tambah dari kakao ini sehingga mampu memberikan tambahan penghasilan bagi para petani. Kenapa tidak? Kedepan petani kakao di Seko harus bisa mandiri dan memiliki industri coklat yang khas dan menjadi primadona untuk produk unggulan. Mimpiku yang masih terpendam dan masih tetap kegelisahan disaat-saat saya menikmati coklate buatan orang kota.

Sabtu, 12 Desember 2015

Marga Melinting diantara Gempuran Budaya Luar

Tanggal 10-11 Desember 2015 saya berkesempatan berkunjung ke Kabupaten Lampung Timur dan berdiskusi langsung dengan komunitas Masyarakat Adat di Marga Melinting. Saya sangat beruntung paling tidak dalam kunjungan ini, saya berkesempatan berdiskusi langsung dengan Bapak Rizal Ismail (Pemangku Adat) dan beberapa tetua-tetua adat.

Melinting, adalah salah satu komunitas Masyarakat Adat atau yang dikenal dengan "Marga" di provinsi Lampung yang secara administratif berada di kabupaten Lampung Timur. Marga Melinting ini sudah berdiri sejak Abad ke 16 M (Rizal Ismail). Marga Melinting sampai dengan saat ini (Desember 2015) sudah terbagi kedalam 7 Tiuh (Desa) yaitu desa Tiuh Meringgai, Tiuh Tebing, Tiuh Tanjung Aji, Tiuh Wano, Tiuh Nibung, Tiuh Pempen dan Tiuh Ngeragung. Masyarakat Adat Marga Melinting umumnya menggantungkan hidupnya dari bertani dan berkebun seperti tanaman padi sawah, lada, pisang, coklat, pepaya, jagung serta mengembangkan tanaman jangka panjang lainnya mulai dari duku, durian, cempedak serta tanaman kayu, dll.

Selain dianugrahi dengan wilayah yang subur, luas, Marga Melinting juga memiliki identitas kebudayaan yang dikenal dengan tari Melinting, Tari Melinting adalah tarian yang sarat akan nilai budaya ini telah ada sejak abad 16 M yang diciptakan oleh sang Ratu Melinting. Tari Melinting ini tumbuh dan berkembang dan menjadi salah satu tarian kebanggaan masyarakat Marga Melinting sampai sekarang dan telah mendapatkan Pengakuan dari Pemerintah sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Selain Seni Tari, Marga Melinting juga masih mempertahankan rumah tradisional, seperti rumah panggung yang terbuat dari kayu alam, dengan ciri khas bangunan khas Marga Melinting yang tetap dipelihara keasliannya. 

Marga Melinting memiliki tantangan kedepan yang sangat berat, paling tidak dengan komposisi penduduknya yang sudah didominasi oleh suku-suku pendatang terutama dari Jawa. Bagaimana mempertahankan warisan leluhur Marga Melinting mulai dari aspek teritorial/wilayah adat, struktur lembaga adat, hukum dan peradilan adat, bahasa asli, seni-budaya dan hak-hak komunal lainnya. 



Jumat, 13 November 2015

BELANG Yang Gagah Perkasa dan Membanggakan

Tepatnya tanggal 3 Nopember 2015 di Lapangan Madandan, Tana Toraja yang dijadikan sebagai tempat ritual pemakaman Bapak L. Sombolinggi yang menjadi sahabat dan guru saya dalam mendorong Gerakan Masyarakat Adat Nusantara di Dataran Tinggi Sulawesi "Tokalekaju". Sungguh banyak pengalaman dan kisah perjuangan yang saya alami bersama Almarhum Bapak L. Sombolinggi sejak akhir tahun 1997 hingga tahun 2007an.

Ditengah-tengah keramaian para tamu yang datang melayat, saya nyempatkan diri untuk berkenalan sama "BELANG" atau dalam bahasa kami di Seko-Padang dikenal dengan "LABORA". Begitu saya memegang tali hidungnya, saya langsung mengusap kepala terus leher hingga badannya sampai merasakan keakraban. Paling tidak, rasa penasaran untuk bertemu dengan BELANG yang nilainya mencapai Rp. 1,2 M langsung terobati karena selama ini hanya bisa menyaksikan lewat media sosial dari Si Pemiliknya Rukka Sombolinggi.

Selasa, 06 Oktober 2015

Si Kecil "Burung Besi" Mengantar saya hingga ke Malinau


Tepatnya tanggal 30 September 2015 saya punya kesempatan yang sangat baik menaiki pesawat Cessna 206 yang berpenumpang 5 orang milik Mission Aviation Fellowship (MAF) dengan rute penerbangan Bandara Internasional Juwata Tarakan ke Bandara Seluwing Malinau. Penerbangan ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit dan saya beruntung karena pilot yang menerbangkan pesawat ini cukup ramah yang akrab dipanggil dengan Mr. Mathius.  


Pengalaman kali ini tentunya mengngatkan kembali perjalanan ke kampung leluhur saya di Seko sejak tahun 1979 yang silam. Pesat jenis Cessna ini pernah melayani Masyarakat Seko sekitar 17 tahun.dan pernah menjadi salah satu pilihan sarana transportasi bagi orang Seko ataupun orang yang ingin menikmati keindahan alam Seko. Termasuk yang paling berkesan bagi Masyarakat Seko adalah, kehadiran MAF ini telah banyak memberikan pertelongan beberapa keluaga saya yang perlu bantuan untuk berobat ke rumah sakit terdekat (Kota Masamba) dimana pada tahun 1980an belum ada sarana transportasi darat kecuali dengan menunggangi kuda atau dengan berjalan kaki yang bisa memakan waktu 3-4 hari perjalanan. 

Selama perjalanan ke Malinau, dengan dukungan cuaca yang bersahabat, tentunya menjadikan perjalanan saya lebih terasa asyik dan hampir tidak pernah merasakan goncangan selama diudara. Saya memanfaatkan waktu sekitar 30an menit ini untuk menoleh ke jendela sembari menyaksikan keindahan alam di Malinau yang sebagian besar wilayahnya berhutan. Sepanjang perjalanan sesekali saya bertanya ke penumpang tetangga kursi saya...... Pak hutan ini digunduli untuk apa ya. oh...ini untuk perkebunan sawit dan yang sebelah sana rencana untuk tambang. 

Waduh....harus usap dada berkali-kali ni. Semoga saja pembangunan yang berorientasi pada perkebunan skala besar dan tambang ini tidak menambah laju kerusakan hutan dan penggusuran masyarakat adat dari wilayah adatnya dengan dalih pembangunan. 

Yaaaa......saya melupakan sejenak urusan tebang-menebang hutan ini. Saya kembali untuk fokus menikmati perjalanan karena baru kali ini saya menginjakkan kaki di Malinau. Selama ini hanya dapat cerita dari kawan-kawan saya. Semoga ada kesempatan lain untuk berkunjung kembali di Malinau. 







Jumat, 25 September 2015

Seren Taun di Kasepuhan Citorek, Lebak-Banten

Tepatnya tanggal 20 September 2015 sekitar pukul 14.00 WIB saya punya kesempatan menemani Pak Abdon Nababan (Sekjen AMAN) bersama Abdi Akbar (Staf Urusan Politik PB AMAN) dan tentunya dengan Andi, seorang driver yang sangat handal dan telah berptualang menjelajahi daerah Kasepuhan di Banten Kidul. Tujuan kunjungan ini adalah selain untuk menghadiri Seren Taun juga untuk mengikuti konsolidasi pengawalan Rancangan Peraturan Daerah tentang Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat di Banten Kidul, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Setibanya di Kasepuhan Citorek saya langsung merasakan keindahan alam pegunungan yang sangat menakjubkan. Yaaaa........disamping karena sebagai orang yang lahir dan besar didaerah pegunungan tentunya bisa menghirup udara yang segar dan sesekali merasakan aroma padi sawah. Dan yang paling menggembirakan karena bisa melihat kerbau, hewan kesayangan.

Selama di Kasepuhan Citorek, saya punya kesempatan juga menyaksikan Ibu-Ibu yang memasak nasi yang masih mempertahankan budaya leluhur dengan menggunakan tungku dan peralatan tradisional. Mendapatkan banyak pengalaman bagaimana Masyarakat Adat di Citorek mengelola harta leluhurnya mulai dari proses pengolahan sawah, ladang, hutan, beternak kerbau, kolam air tawar hingga urusan seni, budaya dan peranan lembaga adat dalam mengurus komunitasnya. Seren Taun memang sangat luar biasa dan bagi Masyarakat Adat Citorek, melalui Seren Taun lah bisa membangun hubungan kekerabatan yang tangguh termasuk bagaimana membangun hubungan dengan leluhur, nenek moyang, orang tua, sanak family yang sudah meninggal yang diaktualisasikan melalui ritual mulai dari doa hingga melakukan ziarah langsung makam. Melalui Seren Taun inilah semua keluarga/turunan Kasepuhan Citorek yang dirantau harus kembali ke kampung leluhur. Ada hal yang paling berkesan selain yang sudah saya tuliskan diatas. Untuk memilih seorang Kepala Desa, Kasepuhan Citorek sudah memulai dengan proses yang bersinergi dengan proses pengambilan keputusan melalui MUSYAWARAH ADAT atau yang dikenal dengan istilah RIUNGAN.

Kunjungan di Kasepuhan Citorek ini kami akhiri sekitar pukul 13.30 WIB tanggal 21 September 2015 dan melanjutkan perjalanan ke Bogor. Saya dkk juga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, setibanya di Cipanas langsung mampir mandi air panas alam. Perjalanan inipun kami akhiri dengan Makan Coto Makasar di Restoran yang dikelola oleh seorang kawan di Laladon, Bogor.